PURWOKERTO‑‑Ribuan mahasiswa dan sejumlah organisasi mahasiswa di Purwokerto mendeklarasikan gerakan antiterorisme. Gerakan antiterorisme ini dideklarasikan untuk membendung masuknya jaringan teroris di kampus‑kampus.
“Sudah ada contoh, mahasiswa menjadi target pengkaderan para teroris. Dan tidak mustahil ini bisa terjadi pada mahasiswa di Purwokerto,,” kata Ketua Presidium Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Khoirrurizko, usai membacakan deklarasi, Senin (31/8).
Setelah ini, di tempat lain akan disusul gerakan serupa sehingga makin banyak komponen mahasiswa dan masyarakat yang siap memerangi terorisme.
Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo mengaku, deklarasi gerakan semacam ini baru pertama ada di Jateng dan mungkin Indonesia. Dirinya berharap, deklarasi gerakan antiterorisme nantinya dikembangkan di kampus‑kampus di seluruh pelosok tanah air.
Menurutnya, perekrutan jaringan terorisme bisa dilakukan dimana saja, termasuk di dalam kampus. Oleh karena itu, ia menyambut baik acara deklarasi antiterorisme di kalangan mahasiswa.
Kapolda juga mengingatkan pentingnya rasa kebangsaan untuk mengikis terorisme. Kapolda berharap agar mata kuliah Pancasila Perguruan Tinggi jangan sampai dihapus.
Aksi penolakan terhadap terotisme juga pernah dilakukan oleh Mahasiswa Cilacap di Yogyakarta (HIMACITA), di Jogjakarta pada 3 Agustus silam. Aksi ini dilakukan untuk menepis anggapan wilayah Cilacap merupakan sarang teroris.
“Cilacap merupakan daerah korban terorisme, dan bukan sarang terorisme.” Kata Koordinator Umum (Kordum) Aksi, Ahmad Fajri Nida.
Nida mengatakan mahasiswa Cilacap mendukung penuh upaya aparat hukum dalam mengusut kasus terorisme. Mereka mengajak masyarakat turut serta dalam menjaga lingkungan agar terhindar dari doktrin-doktrin terorisme. ”Jangan mau jadi teman teroris, Aja gelem dadi balane teroris,” ungkap Fajri. (PWT/MAS)












