HMINEWS.COM- Setelah difilmkan di layar bioskop, novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) dibuat sinetronnya. Dwilogi karya Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) ini hadir di layar kaca setiap sore hari selama bulan Ramadan. Menurut berbagai sumber berita, sinetron KCB merupakan kelanjutan versi filmnya.
Alur cerita sinetron KCB sebetulnya berdasar pada sekuel novel KCB, “Dari Sujud Ke Sujud” (DSKS). Dikisahkan Azzam (Kholidi Ashadil Alam) dan Anna (Oki Setiana Dewi) telah menikah. Karena mertuanya menunaikan nazar menuntut ilmu di Mekkah, Azzam diminta mengelola pesantren. Dibantu Anna, Azzam bersedia mengelola Pesantren Daarul Qur`an, sambil tetap mengelola bisnis “Bakso Cinta”. Konflik mulai muncul ketika Ana diketahui mengidap Endometriosis, sehingga kemungkinan untuk hamil sangat kecil. Muncullah wacana poligami.
Dari kisah itu, lagi-lagi, sinetron KCB pun bercerita seputar pernikahan. Tampaknya kisah pernikahan menjadi trade mark Kang Abik. Selain Ayat-Ayat Cinta, KCB, dan DSKS, judul “Di Atas Sajadah Cinta”, “Di Atas Mihrab Cinta”, “Pudarnya Pesona Cleopatra”, adalah karya Kang Abik yang mengisahkan cinta muda-mudi yang diikat akad dan mahar.
Roman dan roman Islam
Dengan tema besar cinta, KCB dapat dimasukan dalam genre roman. Hal ini, menambah dominasi roman pada ranah fiksi. Semua orang merasakan dan membutuhkan cinta. Karena itu cinta merupakan kisah klasik, namun selalu aktual—dan tentu saja menjual.
Sejatinya, roman adalah kisah pencarian teman tidur. Seseorang sebetulnya bisa mendapat secara langsung kekasih di depannya sebagai teman tidur. Namun karena roman merupakan kisah manusia berbudaya, teman tidur diraih secara tak langsung dengan jalan memutar melingkar; dengan puisi, konflik, canda dan air mata.
Merujuk pakem itu, KCB coba membedakan diri. Mengisahkan sebagian masyarakat yang selalu menjadikan Islam sebagai panduan hidup, KCB mengidentifikasi dirinya sebagai roman alternatif. Sebutlah: roman Islam. Asumsikan Islam layaknya budaya. Maka, roman Islam merupakan kisah jalan melingkar Islam(i) dalam pencarian teman tidur. Bagi kita yang membaca KCB akan tersenyum geli, karena novel panjang ini ditutup dengan cerita hubungan badan malam pertama antara Azzam dan Anna yang berlangsung hingga dua ronde.
KCB menjadikan dasar ideologi syariat (Al Quran dan hadis) sebagai representasi roman Islam. Ada satu standar moralitas yang terlihat terang di dalamnya. Saat menggambarkan hubungan lelaki dan perempuan, fokus roman Islam adalah pernikahan. Orientasinya pada keridhoan Allah; yaitu nilai dan bentuk (cara) hidup yang termaktub dalam teks ayat dan dicontohkan oleh (hadis) Nabi. Pernikahan inilah yang dinamakan sebagai usaha menggenapkan agama—jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa (dari riwayat Anas bin Malik).
Kritik hubungan lelaki-perempuan
Bisa dibilang, kehadiran roman Islam merupakan bentuk kritik terhadap pergaulan muda-mudi. Di saat sebagian masyarakat tak lagi menjadikan agama sebagai panduan hidup, yang salah satunya diwakilkan dengan pergaulan bebas negatif, roman Islam mengingatkan bahwa, Islam telah mengatur hubungan lelaki dan perempuan.
Tentu pembaca dan penonton KCB masih ingat, sikap santun Azzam saat menolak hadiah ciuman spesial (ala French kiss) dari Eliana. Bagi Azzam hadiah itu malah merupakan musibah. “Ajaran Islam, yang menempatkan taharah (cara bersuci) di bab awal buku fiqh, menjaga pemeluknya dalam kesucian lahir dan batin. Di antaranya kesucian hubungan lelaki dan perempuan. Islam melarang persentuhan intim lelaki dengan perempuan jika bukan suami-isteri. Jika saya menerima ciuman perempuan, maka saya menodai kesucian saya dan menodai kesucian perempuan itu. Itulah prinsip saya. Saya yakin Mbak Eliana, yang mengagungkan kebebasan berpendapat, bisa menerima pendapat saya,” jelas Azzam. Hal ini merupakan contoh tegas moral roman Islam yang disampaikan secara penokohan.
Selain itu, kritik pun ditujukan pada masyarakat seputar hal yang mendasari ikatan pernikahan. Umumnya masyarakat menjadikan harta dan tahta sebagai patokan kelayakan menikah. Dengan penggambaran lingkungan akademis kampus dan pesantren, KCB mengingatkan bahwa, sejatinya kesiapan mental, ilmu dan keikhlasan merupakan dasar memilih dan menerima ikatan pernikahan. Konten ini ibarat tanggung jawab roman Islam terhadap fenomena masyarakat yang disemarakan oleh berita perceraian. Penyebab perceraian yang sering kita dengar, tak jarang membuat kita geleng-geleng.
Terkait misi dakwah KCB, kita perlu bersyukur roman Islam ini mendapat sambutan hangat masyarakat. Novelnya laris. Filmnya hadirkan penonton berjubel dan 5 piala “Indonesian Movie Award 2010”. Semoga bisa menginspirasi dan merubah masyarakat menjadi lebih baik; termasuk melalui sinetronnya.
Sebagai catatan. Meski di dalam alur cerita KCB mengandung kutipan ayat, hadis, dan pendapat ulama, bukan berarti ia adalah entitas yang lepas dari salah dan kurang. KCB bukanlah kitab suci. Sikapilah roman Islam sebagai media yang tak sakral, seperti roman pada umumnya.
[]USEP HASAN S.
esais
email : utep_20@yahoo.com













[...] Read More… [...]