Idul Fitri dan Peristiwa 11 September

Idul Fitri berbarengan dengan peringatan WTC 11 September (foto:

Anisa Mehdi

Maplewood, New Jersey – Setiap tahun Idul Fitri jatuh pada hari yang berbeda, rata-rata 11 hari lebih awal dari tahun sebelumnya. Tahun ini, Idul Fitri jatuh pada hari Kamis di beberapa belahan dunia, tapi sebagian besar merayakannya pada hari Jumat, tergantung pada malam apa bulan baru (hilal) bisa terlihat di suatu tempat.

Tidak menentunya hari Idul Fitri adalah karena kalender Islam didasarkan pada perhitungan peredaran bulan. Bulan-bulan dalam kalender Islam ditentukan oleh siklus bulan. Tidak ada hari ekstra, tidak ada bulan yang diperpendek, dan tidak ada tahun kabisat, seperti kalender Gregorian yang memastikan bahwa musim tanam pada bulan April terjadi pada musim semi, dan musim panen pada bulan Oktober dalam musim gugur, dan hari tahun baru jatuh pada 1 Januari.

Meski tampak aneh bagi sebagian orang, dan sulit diselaraskan dengan gaya hidup orang Amerika yang linear, sistem kalender ini punya kelebihan spiritual yang patut diapresiasi. Dengan sistem ini, misalnya, ada rahmat yang dirasakan kaum Muslim, yakni: “Anda bisa mengalami Ramadan di setiap musim.”

Dalam belasan tahun, siklus Ramadan telah bertepatan dengan hari-hari besar kenegaraan dan keagamaan orang Amerika: mulai dari hari pertandingan Super Bowl, hari lahir Martin Luther King Jr., Tahun Baru, Kwanzaa (pekan budaya Afrika-Amerika), Natal, Hanukkah (hari besar Yahudi untuk memperingati penahbisan Bait Suci), Adven, Thanksgiving, Hari Raya Semua Orang Kudus, Halloween, Yom Kippur (hari raya terbesar Yahudi) dan – tahun ini – Rosh Hashanah, tahun baru Yahudi.

Tahun lalu dan tahun sebelumnya, berbagai kelompok Muslim dan Yahudi menjalani hari-hari puasa yang berbarengan – Ramadan dan puasa 24 jam Yom Kippur – dengan menunjukkan solidaritas dengan berpuasa dan berbuka dengan roti bersama dalam acara-acara lintas iman di berbagai sinagog, masjid dan pusat kegiatan masyarakat.

Namun, di level negara, di luar acara buka puasa di Gedung Putih setiap tahun sejak 1996, hanya ada sedikit pengakuan terhadap hari raya Idul Fitri, yang bagi Muslim sama berartinya dengan Paskah dan Pesakh bagi orang Kristen dan Yahudi.

Sejumlah kota di Amerika meliburkan sekolah untuk merayakan Idul Fitri, karena meningkatnya jumlah murid Muslim di wilayah mereka, tapi di New Jersey, seperti di banyak kota Amerika yang lain, kurang dari dua persen sekolah umum yang libur saat hari-hari besar Islam. Hanya karena Idul Fitri bersamaan dengan Tahun Baru Yahudi pada tahun ini, sekolah-sekolah diliburkan di banyak kota di Amerika.

Kementerian Dalam Negeri AS mencatat Islam sebagai salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Dengan terus tumbuhnya Islam, semakin bertambah penting pulalah untuk mempertimbangkan perlunya menghormati hari raya Muslim dalam kehidupan masyarakat.

Karena perhitungan bulan membuat bulan-bulan dalam kalender Islam 11 hari lebih awal setiap tahun, dan Ramadan bergeser ke musim panas, pertepatan dengan hari-hari besar Amerika akan terjadi sementara. Namun, pada 2016, Idul Fitri akan jatuh sekitar Hari Kemerdekaan Amerika 4 Juli, dan pada 2020 akan mendekati Hari Pahlawan pada bulan Mei.

Tahun ini, ada hari peringatan lain yang bertepatan dengan Idul Fitri – hari dukacita, perenungan, kemarahan dan ketakutan, yaitu hari peringatan kejadian 11 September 2001.

Perayaan Idul Fitri tahun ini berbarengan dengan upacara peringatan bagi mereka yang meninggal dalam kejadian itu. Dan kaum Muslim Amerika sadar akan hal itu. Sebagai orang Amerika mereka bersedih. Sebagai Muslim, umumnya mereka merasakan beban mendapat stereotip-stereotip dan sering kali merasa harus membela Islam.

Karena mempertimbangkan kekhidmatan 11 September, banyak Muslim memutuskan untuk tidak mengadakan perayaan besar Idul Fitri (yang biasa dirayakan selama tiga hari) di hari kedua seperti yang sudah biasa mereka lakukan sebelumnya. Kemeriahan Hari Keluarga Muslim, yang sering dijadwalkan di hari kedua Idul Fitri di taman-taman hiburan atau museum anak-anak di beberapa kota di Amerika Serikat, ditunda menjadi 12 September. Padahal, penggagas Hari Keluarga Muslim, Tariq Amanullah, meninggal di Menara Kembar WTC pada 11 September.

Muslim telah menjadi bagian struktur masyarakat Amerika sejak masa perbudakan; mereka adalah orang dalam, bukan orang luar. Mengingat adanya tudingan akan ketidakpekaan Muslim lantaran hendak membangun pusat kegiatan Islam di pinggiran Manhattan, saya berharap, sikap kecil yang simbolis dalam menunda perayaan sebuah hari besar keagamaan ini, dan penghargaan serta patriotisme yang tinggi Muslim Amerika, mendapat perhatian yang selayaknya.

Anisa Mehdi (www.anisamehdi.com) adalah seorang jurnalis, pembuat film dan Sarjana Fulbright 2009-2010 di Yordania. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) yang telah bekerja sama dengan HMINEWS.COM.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 17 September 2010,

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*