HMI Harus Dorong Kadernya Berwirausaha

HMINEWS.Com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diharapkan mampu melahirkan insan-insan wirausaha dengan Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) sebagai wadahnya. Sudah saatnya LEMI harus direposisi menjadi lembaga pengembangan potensi ekonomi kader HMI yang lebih menekankan pada upaya, bukan semata berorientasi tujuan.

Kader-kader HMI harus melihat kewirausahaan (entrepreneurship) sebagai bagian tak terpisahkan di HMI. Karena poin penting kegiatan berekonomi adalah perkaderan diri manusia di dalamnya selama proses tersebut berlangsung. Dalam berproses itu, manusia mengalami kegagalan-kegagalan sebagai pembelajaran yang sangat berharga.

HMI harus berani mendorong orang (kader-kadernya terutama) untuk masuk ke dunia usaha. “Kalau ada insan entrepreneur yang lahir dari perkaderan HMI, tidak mustahil Indonesia akan dihiasi enterpreneur-entrepreneur yang memakmurkan bumi, tidak semata-mata mengeksploitasi bumi,” jelas Saat Suharto dalam diskusi Pleno III PB HMI-MPO di Graha Insan Cita, Depok, Senin (25/2/2013).

Pengurus BMT Ventura tersebut mendorong agar kader HMI, selagi menjadi mahasiswa harus memulai berwirausaha. “Selagi jadi mahaisswa, belum menikah, cepat-cepat jadi wirausaha, agar jika anda gagal, gagal untuk diri anda sendiri saja,” lanjutnya.

Menurutnya, keberanian untuk mendapatkan tekanan itu tidak scientific, tetapi by doing, didapatkan dalam situasi kondisi tertentu, saat kepepet, misalnya. Ia bercerita pengalamannya sedari masih mahasiswa dan aktif di  HMI menjadi penjaga koperasi komisariat dan kemudian berjualan kerupuk.

Bukan nilai kerupuknya, tapi pengalaman itulah yang mengasah naluri bisnisnya terus berkembang. “Yang penting menumbuhkan nyali, mengetahui atau memahami rantai-rantai ekonomi yang ada dan mencari celahnya untuk dimanfaatkan,” ujarnya.

Urat nadi ekonomi ada di sektor keuangan, ia yang mengumpulkan dan medistribusikan. Karenanya sektor keuangan harus dikuasai. Saat Suharto juga bercerita sejaran pendirian TAMZIS dan Baitul Mal wat Tamwil yang dilatarbelakangi penolakan keluarga untuk menggunakan jasa bank konvensiona, karena waktu itu belum ada bank syariah.

TAMZIS dibuat murni karena semangat. Modal dicari kemudian. Namun tetap, perhitungan risiko dilakukan dengan matang. Sasaran yang dituju saat itu adalah kaum pedagang yang dinilai seabgai kelas yang paling siap untuk ditingkatkan.

‘Virus’ entrepreneurship itulah yang harus terus ditularkan. “Kalau tidak ada yang sangat addict menginveksikan virus perubahan kepada orang-orang, tidak bakal ada perubahan. Dalam kasus ini para pedagang paling potensial.”

“Ide, yakini dan jalankan. Akan membawa rezeki sendiri-sendiri. Modal terbesar adalah diri anda sendiri. Mumpun di HMI, tuangkan diri anda untuk menjadi sesuatu. Kuatkan potensi diri anda sebagai kader hmi, potensi apapun, politik, ekonomi, pecinta alam,  dan lainnya,” pungkasnya.

Fathur

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*