Fakultas Teknik UGM Ciptakan Converter Kit

HMINEWS – Kreasi anak bangsa terus bermunculan. Kali ini, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada terus mengembangkan converter kit, peralatan yang digunakan agar mesin berbahan bakar premium, pertamax, ataupun solar bisa menggunakan bahan bakar gas.

Ketua Tim Peneliti Jayan Sentanuhady mengatakan sebenarnya sejak 2009 lalu sudah dilakukan pengembangan itu. Bahkan, lanjutnya, UGM sudah mulai melakukan uji coba converter untuk mobil berbahan bakar bensin dengan karburator, mobil berbahan bakar bensin dengan injection, mobil berbahan bakar solar, dan sepeda motor.

“Salah satunya, converter ini yang kami pasang di mobil penelitian gas UGM. Konverter ini bisa mengubah tenaga gas ke bensin,” ujat Ketua tim Mobil Penelitian Gas UGM Jayan, Senin (9/1).

Cara kerja dari konverter pada mobil gas UGM, kata Jayan, cukup sederhana, berawal dari tabung gas bertekanan 200 bar yang diletakkan di jok belakang mobil. Selanjutnya gas tersebut disalurkan ke bagian mesin di depan. Melalui konverter yang ada, tekanan bisa diturunkan menjadi 2-3 bar sebelum akhirnya masuk ke bagian injeksi gas dan manipol.

“Prinsipnya sederhana saja karena tenaga gas ini bisa diubah (switch) dengan bensin ketika mobil berjalan maupun dengan kecepatan tinggi,” urai dosen Jurusan Teknik Mesin dan Industri ini.

Untuk tabung gas selama ini memang masih diperoleh secara terbatas di beberapa tempat seperti di Jakarta, Palembang, dan Surabaya. Inovasi pemanfaatan konverter gas tersebut, menurut Jayan, akan ramah lingkungan karena emisi gas buangnya yang lebih bersih daripada bensin.

“Karena masih prototipe, harga konverternya masih mahal. Semoga saja setelah dilakukan tahap uji berikutnya bisa ditindaklanjuti oleh industri dan dimanfaatkan masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau,” pungkas Jayan .

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan konverter mobil gas ke bensin untuk mobil termasuk konverter untuk hidrogen, diesel, dan untuk sepeda motor. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melakukan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada April 2012.

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*