HMI MPO harus bangun dari ‘tidur’ yang cukup lama dijalaninya. Organisasi ini harus membangun kesadaran untuk merespons masa depan. Bukan justru merespons masa lalu yang selama ini masih tampak dilakukan.
Jika tidak membangun kesadaran tersebut, dikhawatirkan HMI MPO akan menjadi penonton dan bukan menjadi pemain utama dalam gerak perubahan bangsa.
Demikian disampaikan Rektor Paramadina, Anies Baswedan, kepada HMINEWS.COM di kampus Universitas Paramadina, beberapa waktu lalu menanggapi kondisi HMI MPO sekarang ini. Anies yang terpilih di urutan ke 60 dari 100 intelektual dunia mengkhawatirkan kondisi HMI MPO sekarang yang menurut dia alam pikirnya masih merespons masa lalu seperti ketika masa perlawanan terhadap Orde Baru.
“Nuansa itu terasa. Padahal tantangan sekarang berbeda. Tapi, teman-teman masih merespons masa lalu. Kalau kebekuan ini tidak dipecahkan, maka HMI MPO tidak akan bisa berperan sebagai pemain dalam perubahan,” kritiknya. Salah satu rektor termuda di Indonesia tersebut meminta, perlu ada keseriusan untuk memecahkan masalah ini di internal HMI MPO. “Ayo wake up, wake up (bangun, bangun-red) kalian! Saya sungguh khawatir dengan kondisi HMI MPO sekarang,” ujar Anies dengan nada serius.
Market dan Kompetitor Masa Depan
Anies yang baru saja menerima penghargaan Young Global Leader 2009 di World Economi Forum mengatakan, perkaderan HMI MPO sekarang harus bisa mendesain agar sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan melahirkan orang-orang yang mampu memainkan peran utama dalam perubahan. Tema-tema diskusi dan kegiatan di HMI MPO juga harus bisa memikirkan ini dan jangan terjebak seperti tema-tema ketika periode perlawanan terhadap Orde Baru. “Di masa depan, kompetitor kader HMI bukanlah anak-anak GMNI, KAMMI, PMII atau teman -teman di perguruan tinggi dalam negeri. Tapi, ribuan anak-anak muda Indonesia yang sekarang ini sedang menuntut ilmu di luar negeri,” katanya.
Sekarang ini, ujar Anies, ada 29.000 anak muda Indonesia yang sedang kuliah di Australia. Belum lagi ribuan orang yang mengambil studi di Amerika dan negara-negara luar lainya. Anak-anak muda inilah ke depan yang diprediksi akan mengambil peran dalam proses perubahan Indonesia. “Mereka memiliki perangkat ilmu dan kekuatan network internasional yang lebih bagus. Apakah mereka tidak punya nasionalisme? Anda salah kalau mengatakan tidak. Mereka tinggi sekali komitmennya terhadap Indonesia,” tandasnya.
Lulusan-lulusan luar negeri ini, lanjut Anies, menyiapkan diri tidak hanya untuk mengisi ruang di state (pemerintahan). Tapi juga di market (pasar) yang belum banyak anak muda berminat untuk mengisi wilayah ini. Dijelaskan Anies, unsur masyarakat itu ada tiga yakni state (negara), market ( pasar) dan civil society (masyarakat sipil). “Pasar sekarang dan ke depan itu masih relatif kosong. Perkaderan HMI mestinya sekarang juga mendesain orang-orang untuk menjadi pemain utama di pasar. Jangan hanya fokus untuk mengisi state dan civil society seperti di masa lalu. Padahal ke depan pasar akan semakin menentukan, ” tandasnya. Menurut dia, pasar jangan sampai hanya diisi oleh orang-orang asing saja atau para pengusaha yang hanya berorientasi akumulasi kapital dan tidak memiliki keberpihakan sosial.
Di HMI MPO, kata Anies, harus dikhawatirkan ketika aktivis itu hanya menjadi label semata. Namun, tidak diikuti dengan kapasitas yang harusnya dimiliki sebagai aktivis sesungguhnya. “Sederhana, misalnya ketika kader HMI MPO ditanya kemampuan bahasa Inggrisnya, tumbang mereka. Bagaimana ini, padahal itu kemampuan dasar yang harus dimiliki,” ujarnya. Kalau kader-kader HMI MPO sekarang tidak bisa membaca masa depan dan mempersiapkan diri, anak-anak muda lulusan luar negeri inilah yang akan menjadi pemain utama dalam perubahan Indonesia di masa mendatang. “Sementara kalau kalian sekarang masih lebih suka merespons masa lalu, siap-siap menjadi penonton saja,” kritik Anies lagi.
Alumni HMI UGM ini berharap, perkaderan HMI MPO bisa melahirkan calon-calon pemimpin yang bisa memainkan peran di masa depan. Baik di state, civil society dan termasuk di market. Anies menganalogikan, ketika bulan Ramadhan kemarin ada undangan dari Korps Alumni HMI (KAHMI). Undangan itu berisi buka bersama di kediaman alumni-alumni HMI yang sekarang menjadi menteri atau pejabat tinggi negara. “Saya khawatir, sepuluh sampai dua puluh tahun mendatang, undangan yang datang ke saya, bukan lagi dari alumni HMI. Tapi dari korps alumni mahasiswa Amerika atau ikatan alumni mahasiswa Australia dan sejenisnya,” tuturnya.
Triso Suhito













bang Anies bener buanget, kedepan kader-kader HMI emang harus menjamah ranah-ranah pasar, coz itu akan sangat brguna bagi nusa dan bangsa serta agama. hehe….
Mantap.. apa yang dikatakan oleh Bang Anies harus direalisasikan dalam bentuk lokakarya perkaderan. itu kalo mau serius? gimana Kornas KP HMI?
That’s Right Bang… Masa lalu = Sejarah, Raelitas saat ini adalah implikasi dari Sejarah, maka bagaimana mungkin kita membohongi masa lalu??? IQ is more but our History is the best.
Jangan sampai HMI menjadi Fosil, ke depan harapan dan tantangan sangat ketat. Jangan bernostalgia masa lalu aja. Slamat Ultah HMI
that’s right….
teman perkaderannya mestinya, HMI dan strategi peradaban 25 tahun.
Mari kita sambut pesan-pesan perubahan dengan optimis hingga menjadi gerakan bersama, dengan kata lain mari kita lakukan rekayasa sosial.
Despite the number of “gurl gamers just want attention” comments, it’s pretty common knowledge that a great number of gamers who are female hide their true gender when it’s possible to. This week on Saucy Saturdays, I want to explore the reasons why women choose to keep their gender hidden, why and how men (and sometimes other women) encourage them to, and the implications it has for the construction of gaming communities.
In my first installment of Saucy Saturdays, I mentioned that according to research by PhD student Julie Prescott at the University of Liverpool, and reviewed by Gamasutra, 42 percent of all game players are women. Furthermore, according to the Entertainment Software Association, “Women over the age of 18 represent a significantly greater portion of the game-playing population (37 percent) than boys age 17 or younger (13 percent).” So if women are so prevalent in the gaming community, why is it still so common to sling derogatory remarks at people simply because of their gender?
You might think that it’s not really so common; that women blow discrimination out of proportion. But the website Fat, Ugly, or Slutty essentially disproves this. It’s like Engrish, except instead of funny mistranslations, it’s offensive messages sent to women over Xbox Live, forums, Steam, PlayStation Network, WoW chat and just about everywhere else. It’s not just smack talk, it’s stuff like: “what yo pussy like?” (April 23, 2011), “INBOX ME UR BOOBS” (December 26, 2011), “ill be at your house 2nite to dominate yor cooter… sleep with 1 eye open” (February 13, 2012). FUoS is staffed by three ladies and a gentleman. They post their own experiences with the offensively ignorant and take submissions from the public as well. Their mission statement, as written on their About page, is, “If having these messages posted online makes someone think twice about writing and sending a detailed description of their genitals, great! And if not? We’ll all have another submission to laugh at.”
It’s not really always fun and games, though. It’s nice if a lady can let insults and lewd comments glance right off, but it’s not always the case. Lesley from Two Whole Cakes, notes: “It makes social gaming difficult for those of us who don’t want to flirt — we just want to play motherfucking games, and we want to be treated like real three-dimensional humans, not like vaginas with thumbs.” She also writes, “Once TeamSpeak became the norm, I fell away from MMOs because I was so tired of dealing with the harassment and assorted bullshit. My voice gave my gender away immediately, which meant I could no longer ‘pass’ as male.” I also know that many women, myself included, find it extremely distracting and disheartening when an entire group (guild or server) turns against you because of your gender and begins slinging comments like, “Make me a sandwich,” and “**** or GTFO” ad nauseum. Or worse, blame everything you do on your gender. Make MVP? You must be ugly and don’t have a boyfriend. Get dominated by a player? You suck because you’re a girl, get back in the kitchen.
But it’s not just in-game where the discrimination against women occurs. The idea that women don’t play video games, that if they do then it’s okay to make fun of them because it’s a boys’ club, is so pervasive that ladies experience this backlash in life as well. A thread posted on Reddit last month shows that it’s pretty typical to be met with sexism even when those doing it aren’t hiding behind anonymity. One user notes her experience working retail at a gaming store:
“I walked over to these two men arguing, hoping to help them out. They were arguing about two PS3 racing games not really my area of expertise nevertheless I was willing to help. They noticed my name badge and the first one opened his mouth to say, ‘Which of these is best? Wait, why the **** am I asking you anyway, you obviously don’t know **** about videogames. Girl.’”
Another user recounts her experience at a national Warhammer 40K tournament, where her opponent for second-round qualifiers asked her, “Do you know how to play this game? Like, you’ve read the rulebook and stuff?” And then remarked, “Oh, is it your army, or your boyfriend’s? I suppose he helped you in the last tournament.” Another user had a similar experience when she overheard coworkers talking about Dragon Age: Origins and a difficult quest: “Excited (I LOVED the game at the time), I joined the conversation and shared some tips. They stared at me, and the oldest one said, ‘But you’re a girl. How do you know the game, from your husband?’” This partially disproves the theory that all of this happens because of the online disinhibition affect, or John Gabriel’s Greater Internet Fuckwad Theory.girls games 1