Tragedi di Norwegia baru-baru ini, yang merupakan serangan terburuk yang pernah dialami negara ini sejak PD II, menghentak dan melukai dunia. Tragedi ini juga memaksa komunitas global lebih dekat lagi melihat agama, identitas dan bagaimana kita memandang “orang lain” – serta diri kita sendiri.
Salah satu masalah terpenting yang perempuan hadapi adalah apa yang disebut “pembunuhan demi kehormatan”. Di banyak tempat, banyak sekali perempuan yang dibunuh oleh kerabat lelaki mereka, karena mereka “menodai kehormatan” keluarga dengan menjalin hubungan yang “tidak sah”.
Sewaktu Dr. Anies Rasyid Baswedan, MS., diangkat menjadi Rektor Universitas Paramadina Mulya menggantikan tokoh besar Nurcholis Madjid. Saya tertegun. Kembali cerita dari sahabat saya tentang Anies Baswedan memenuhi memori ini. Cerita ini pula yang membuat saya optimis suatu ketika orang-orang jujur akan memimpin bangsa ini. Menyelamatkan kita dari keterpurukan.
Yerusalem – Saya terlahir di Yerusalem kepada 1980-an di tengah adanya pendudukan Israel. Ayah saya aktif dalam politik kepada 1970-an, dan paman saya adalah mantan anggota kabinet. Sedangkan saya, semasa remaja telah menjadi ketua OSIS, yang bergabung dengan gerakan-gerakan Palestina lainnya yang berjuang melawan pendudukan. Saya kehilangan teman-teman akibat konflik Israel-Palestina ini, yang sayangnya masih berlangsung hingga kini.
“… kalaupun aku sabar menanggung beban-beban penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu …