Rombongan mahasiswa yang tergabung dalam Group Penjejak Tamadun Dunia (GPTD) Universiti Selangor (UNISEL), khusus pengkaji pemikiran Hamka datang ke Jakarta. Dalam rangka napaktilas Hamka, mereka juga bertemu dengan Pengurus Besar HMI MPO di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Waktu menunjukkan pukul 12.000 WIB saat suara bedug bergema dari Masjid Agung Karawang. Pada saat yang bersamaan di pusat kota, tepatnya di alun-alun, suasana sangat ramai, kendaraan begitu padat dan pasar-pasar penuh orang berbelanja.
Tekanan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) makin kuat. 29 September 1965, dalam penutupan Kongres Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI, gerakan mahasiswa onderbow PKI) berkumandang yel-yel “Bubarkan HMI.”
Pertengahan September 1965, setengah bulan sebelum pemberontakan PKI, mantan Ketua Umum PB HMI Dahlan Ranuwiharjo bersama Waperdam (Wakil Perdana Menteri) Subandrio menghadap Sukarno. Meski hanya beberapa menit, hasilnya sangat penting.
Mantan Ketua Umum PB HMI, Dahlan Ranuwiharjo membuat kesepakatan dengan Bung Karno langsung untuk menyelamatkan HMI dari pengganyangan oleh PKI yang telah berhasil mendesakkan dibubarkannya GPII dan Masyumi. HMI berada dalam ‘bimbingan’ langsung Pemimpin Besar Revolusi