HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Opini : Islam Agama Toleran, bukan Agama Kekerasan

Opini : Islam  Agama Toleran, bukan Agama Kekerasan
May 14
20:12 2018

 HMINEWS.COM-Aksi teror di negeri ini tak pernah berhenti. Tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan khalayak ramai tak kunjung usai. Kasus terbaru ialah bom yang meluluhlantahkan 3 gereja di Surabaya. Perilaku salah kaprah yang seakan diakui sebagai titah Tuhan.

Jika benar Islam agama toleran, mengapa masih ada sebagian dari umatnya yang melakukan kekerasan? Jika Islam menjamin kebebasan beragama, mengapa masih ada umat Muslim yang melakukan serangan terhadap gereja? Jika Islam benar membawa rahmat bagi semua, mengapa masih ada sebagian fraksi Muslim yang melakukan bom bunuh diri? Betulkah ayat-ayat toleransi dalam Al quran sudah dihapus hukumnya dan tidak berlaku lagi, karena sudah diganti dengan ayat-ayat perang? Apakah toleransi selaras dengan Islam itu sendiri? Atau, jangan-jangan toleransi hanyalah konsep asing yang diekspor peradaban Barat yang sekuler dan liberal?

Segudang pertanyaan itulah yang kemudian menjadi isu sentimental dan menjadi bahan kajian yang debateble. Akar mula gejala ini menguak ke permukaan adalah penyerangan 11 September 2001 yang menyebabkan ribuan nyawa melayang. Akibat tragedi itu, menguatlah stereotyp Barat atas Islam. Maka merebaklah gejala Islamophobia, sebuah ketakutan non- muslim terhadap Islam dan umat Muslim.

Maka sebagai umat teladan, sudah selayaknya mengkaji Toleransi dan Intoleransi secara komprehensif.  

Gagasan toleransi yang menyuruh kita membiarkan kebebasan orang lain dalam menemukan kebenaran diri mereka sendiri merupakan gagasan yang ada sejak Socrates. Toleransi Socrates kala itu mengasumsikan bahwa pengetahuan menghasilkan kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan tidak dapat diproduksi oleh paksaan melainkan oleh dialog yang toleran. Model kehidupan etis filosofis ini memungkinkan kehidupan bersama-sama secara harmonis dengan orang lain yang berbeda pendapat.

Ide toleransi ala Socrates ia gambarkan dalam Charmides, sebuah karya yang mengekspresikan mimpinya tentang negara ideal yang di dalamnya semua warga negaranya bersikap moderat dan ahu tugas masing-masing sehingga tidak mengganggu orang lain. Warga negara yang saling menghormati adalah bentuk dari masyarakat toleran.

Moderasi Socrates tersebut sejajar dengan moderasi dalam konsep toleransi Imam Syafi’i, seperti tercermin dalam semboyanya : “Pendapatku benar tetapi mungkin salah, sedangkan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar”. Dengan prinsip ini, Imam Syafi’i berusaha terhindar dari dogmatisme dan absolutisme yang menganggap dirinya sendiri adalah yang benar sedangkan orang lain pasti salah. Di sisi lain, Imam Syafi’i juga berusaha menyingkir dari jebakan-jebakan relativisme yang membenarkan semua pendapat tergantung perspektif masing-masing. Imam Syafi’i aja legowo, kenapa pengikutnya masih banyak yang sok jago?

Dalam tradisi Islam, toleransi menolak absolutisme dogmatis yang memonopoli kebenaran tunggal dan mutlak. Sehingga, Ulama membedakan antara “pemikiran keislaman” dan “Islam”. Pemikiran keislaman sangatlah beragam dan kebenaranya bersifat relatif, dimana masing-masing ulama mengajikan asumsi tentang kebenaran, tetapi kebenaran Islam yang sejati adalah bersifat tunggal dan hanya Allah yang tahu. Kebenaran yang bisa diraih oleh manusia hanyalah (k)ebenaran dengan “k” kecil, sementara (K)ebenaran di mata Tuhan adalah dengan “K” besar. Cak Nur menyebut kebenaran pemikiran manusia dengan istilah “kebenaran nisbi”, sedangkan Al ghazali menyebutnya dengan “kebenaran asumtif”.

Yusuf Al qardawi, menjelaskan bahwa iman yang tertutup oleh fanatisme bermazhab memang merupakan salah satu dari berbagai pemicu radikalisme. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya-upaya dari para agamawan agar mendorong kembali terbukanya pintu ijtihad dan terbangunya kedaran inklusif sehingga perbedaan pendapat bisa disikapi dengan toleran. Fanatisme dan talid buta sejatinya bertentangan dengan spirit inklusif dan toleran yang ditunjukan oleh as-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal.

Abdurahman Wahid pun menganjurkan keterbukaan dalam beriman, terutama bagi para pemeluk agama di tengah kebhinekaan dan kemajemukan rakyat Indonesia. Gusdur menyadari bahwa pengembaraan intelektual merupakan pengalaman pribadi yang unik dan tidak akan pernah dirasakan atau dialami orang lain. Sehingga Gus Dur mengajukan tesis Islamku, Islam Anda dan Islam Kita.

Memang dibutuhkan kedewasaan dalam menghadapai berbagai perbedaan. Bukan sikap egois, sok jago, dan mau menang sendiri yang ditonjolkan. Saya teringat ketika nyantri di sebuah pesantren yang mengajarkan nilai toleransi yang begitu luar biasa. Semboyannya adalah jadilah negarawan yang berjiwa Muslim Moderat, Mukmin Demokrat dan Muhsin Diplomat. Trilogi yang layak digaungkan ke permukaan untuk mengatasi gejala disharmonisasi keagamaan dan kebangsaan.

Terakhir, marilah kita menjadi agent umat Islam yang bijak dan moderat. Insan yang mampu menempatkan dirinya sebagai bagian umat Islam secara keseluruhan, bukan sebagai sebuah kelompok yang merasa memiliki dan memonopoli kebenaran Islam. Yakusa

 

Mohammad Fadli Hidayat, Direktur LDMI HMI Cabang Yogyakarta

Tags
Share

About Author

HMI Redaksi

HMI Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment