HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...

Pentingnya Islam Progresif Moderat Dalam Ruang Kebangsaan

Pentingnya Islam Progresif Moderat Dalam Ruang Kebangsaan
January 21
22:42 2018

Islam sebagai agama memiliki muatan ajaran yang utuh, dimensi ajaran islam tidak hanya mengatur ibadah dalam arti sempit, lebih dari itu ajaran islam juga menyentuh dimensi yang jauh lebih luas, ajaran islam memberikan gambaran yang rinci tentang tata kehidupan di tengah masyarakat, nilai Islam tersebut juga sangat relevan diterapkan dalam ruang kebangsaan kita. Jika mengamati situasi terkini ruang kebangsaan, maka kita akan menjumpai polarisasi di tengah masyarakat, secara samar masyarakat terbelah ke dalam dua kutub, satu kutub memberikan perhatian intens teradap keberagaman, kutub ini menganggap nuansa keberagaman di Indonesia sungguh terancam, dalam sudut pandang mereka ancaman keberagaman tersebut salah satunya muncul dari kelompok radikal yang melakukan pemaksaan keendak atas nama agama.

Kelemahan mendasar kelompok ini karena keberagaman yang mereka gaungkan dalam banyak kasus seringkali tidak proporsional, prilaku yang merugikan nilai yang telah menjadi identitas bangsa masih diamini dengan dalih keberagaman, sementara di sisi lain muncul kelompok yang memiliki semangat yang kuat untuk memperjuangkan nilai agamanya, kelompok ini berjuang melalui kerang demokrasi yang pas menurut pandangan mereka, kelemahan kelompok ini karena mereka dalam sisi tertentu cenderung tidak bisa menerima perbedaan.

Secara sederhana polarisasi kelompok sebagaimana yang dijelaskan di atas, merupakan pertentangan antara nilai moderat dan nilai progresif. Dalam Islam nilai progresif dan nilai moderat sama-sama diakui keberadaannya, banyak ajaran islam yang mendorong penerapan sikap moderat, namun tidak sedikit pula ajaran islam yang berbicara pentingnya penerapan nilai progresif. Masalah kemudian muncul karena pada tataran realitas, nilai moderat dan nilai progresif sering dipertentangkan, muncul anggapan seolah keduanya tidak bisa dijalankan secara bersamaaan, masyarakat islam dipaksa untuk memilih salah satu dari keduanya.

Akibatnya kelompok dalam dunia islam yang konsen mendorong penerapan nilai moderat kehilangan aspek progresifnya, mereka sangat konsen mendorong pentingnya penerapan nilai keberagaman namun mereka cenderung diam saat Islam dipojokkan, termasuk bila pemojokan itu terjadi tepat di depan mata mereka, sedangkan kelompok dalam dunia islam yang kukuh mengusung nilai progresif memiliki semangat juang tinggi dalam menegakkan nilai ajaran islam namun rawan terjatu ke dalam klaim kebenaran, mereka terlalu mudah menuduh kelompok lain sebagai piak yang salah hanya karena berbeda pandangan, penghargaan teradap keberagaman sangat minim dalam kelompok ini.

Dalam konteks ruang kebangsaan terkini model islam progresif moderat seharusnya didorong secara bersama, model berislam progresif moderat adalah sebuah model berislam yang memiliki semangat juang yang kukuh dalam memperjuangkan ajaran islam namun tetap terbuka terhadap keberagaman secara proporsional, bila model berislam ini diterapkan maka ini bisa menjadi jawaban atas polarisasi samar-samar yang terjadi di tengah masyarakat, model berislam ini mampu mengurai ketegangan antara dua kutub yang berseberangan, dalam ruang kebangsaan kita keberagaman memang tidak bisa ditolak, kita harus menyikapinya, keberagaman merupakan fakta berbangsa yang hadir di depan mata, sikap yang paling tepat terhadap keberagaman adalah sikap pengakuan dan penghargaan teradap keberagaman itu, mengakui bahwa keberagaman merupakan fakta sejarah yang harus diterima, serta menghargai keberagaman tersebut dalam batas yang proporsional, penghargaan terhadap keberagaman menunjukkan kebijaksanaan sikap dalam berbangsa, di sisi lain, sebagai seorang muslim, kita tetap harus memiliki ghiroh dalam memperjuangkan nilai Islam yang diyakini kebenarannya, perjuangan ini tentu harus melalui saluran pas, sebagai orang yang hidup di Indonesia, maka kita bertanggungjawab untuk memastikan bahwa perjuangan yang dilakukan juga berkontribusi pada penguatan tata kelola kebangsaan kita, dengan perjuangan tersebut maka Indonesia sebagai rumah bersama semakin kokoh, kiranya model perjuangan ini yang paling pas dalam konteks kebangsaan kita.

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

 

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment