HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Menemukan dan Menghidupkan Kekuatan Tersembunyi Kaum Muslim Indonesia

Menemukan dan Menghidupkan Kekuatan Tersembunyi Kaum Muslim Indonesia
November 14
14:21 2017

Tulisan ini diawali dengan sebuah pertanyaan: bagaimana langkahnya supaya kaum Muslim Indonesia bisa kuat, mandiri, profesional, kaya dan saleh secara komunal? Mengapa komunal, sebab secara individual, banyak dari kaum Muslim yang kaya dan kuat, namun keberadaannya tidak berdampak secara komunal, akibat bergerak dan berjuang sendiri-sendiri dan memandang dirinya terlepas dari kaum Muslim dalam urusan pencapaian materinya.

Pertanyaan di atas dikemukakan sebagai pantulan atas masalah kaum Muslim Indonesia yang didera oleh masalah komunal yang melingkupi mereka, yaitu: lemah secara komunal; tidak mandiri secara komunal; miskin secara komunal; dan jauh dari sifat saleh secara komunal. Lagi-lagi yang dibahas tulisan ini ialah kaum Muslim secara komunal, bukan per individu.

Problem-problem di atas telah membuat kaum Muslim Indonesia tidak berdaya secara politik dan ekonomi, kendatipun angka populasi mereka berbanding dengan kaum musyrik, kafir, munafik dan ahli kitab jauh lebih banyak.

Diletakkan dalam konstelasi ekonomi dan politik di negeri mereka Indonesia, kaum Muslim tidak lebih sekedar tenaga sewaan dan sasaran eksploitasi kaum musyrik, kafir, munafik dan ahli kitab. Selain itu, mereka juga menjadi pasar yang berfungsi menyerap produk, program dan solusi teknik dari kaum musyrik, kafir, munafik dan ahli kitab. Dan yang lebih pahit dari hal di atas, mereka sama sekali tidak menyadari kemalangan hidup secara komunal yang menimpa mereka.

Hal ini disebabkan terkikisnya kesadaran akan hakikat identitas dan jatidiri mereka sebagai Muslim yang sepatutnya memiliki perbedaan tajam dan mendasar dengan kaum musyrik, kafir, munafik dan ahli kitab.

Para ulama mereka absen dan gagal mendidik mereka untuk menemukan jatidiri sebagai muslim yang memiliki orientasi dan landasan hidup serta tolak ukur yang berbeda dengan manusia-manusia lain. Malahan para ulama yang mengetahui warisan Islam, mengaburkan permasalahan besar ini, dan menggiring kaum Muslim campur-aduk secara pikiran dan tujuan dengan kaum musyrik, kafir, munafik dan ahli kitab terkait urusan hidup di dunia, mencakup persoalan politik, ekonomi, dan budaya harian.

Itulah sebabnya, kerap tak bisa dibedakan secara prilaku dan ciri, mana orang muslim yang mengikuti ajaran Muhammad Saw dan mana orang kafir yang tidak mengakui ajaran Muhammad Saw dan memusuhinya.

Faktor membaur dan menyatunya muslim dan kafir, musyrik, serta ahli kitab dalam soal-soal kehidupan politik dan bidang hidup lainnya, menjadikan landasan legitimasi bagi berkuasanya kaum musyrik, kafir dan ahli kitab terhadap kaum muslim di Indonesia, tanpa suatu gugatan dan penentangan yang berarti. Sebab, sejatinya antara muslim, kafir, musyrik dan ahli kitabdi Indonesia pada umumnya sama saja, hampir tidak ada perbedaan yang memisahkan di antara mereka, baik secara nilai dan tujuan hidup. Sungguh mengenaskan.

Sebenarnya, potensi disparitas antara kaum muslim dengan kaum kafir, musyrik, dan ahli kitab, tersimpan dan setiap saat dapat terkuak dan meletup. Apabila penguasaan kaum kafir, musyrik dan ahli kitab terhadap kaum muslim makin mencengkeram, menindas dan melukai, maka kaum muslim akan menengok jati dirinya, perbedaan di antara mereka, dan arahan agamanya, serta rekam jejak tindak eksploitasi terhadap mereka sebagai tenaga perahan dan pasar besar yang menguntungkan bagi orang-orang yang menguasai mereka. Di titik ini, mereka tersadarkan bahwa sebenarnya mereka berbeda dengan orang kafir, musyrik dan ahli kitab. Mereka juga segera menyadari tersedianya kekuatan tersembunyi yang ada pada mereka yang tidak dimiliki oleh kaum musyrik, kafir, dan ahli kitab.

Masalahnya, setiap kali kesadaran akan kekuatan tersembunyi itu menguat di kalangan kaum Muslim Indonesia, maka eksploitator-eksploitator mereka bergerak secara sistematis, terstruktur dan eskalatif menyerang kaum Muslim. Memang senyatanya, pertempuran esensial di Indonesia hanyalah antara orang muslim yang ingin bebas dan mandiri dengan orang kafir, musyrik, ahli kitab yang berkolaborasi dengan kaum munafik yang mereka semua ingin tetap bercokol menguasi Indonesia dan seisinya. Setiap kali kekuatan kaum Muslim mengkristal dan terkonsentrasi, maka terjadilah deviasi, pemecahan dan peluruhan kekuatan Islam, baik melalui suatu serangan kekerasan dari eksternal maupun melalui pelemahan dengan upaya penyusupan agen-agen perusak dari internal kaum Muslim yang menyamar atau yang digarap dan ditanam sebagai elit-elit munafik peliharaan.

Golongan Munafik dan Penanganannya

Jika kaum musyrik, kafir dan ahli kitab dapat dengan jelas teridentifikasi perbedaan-perbedaannya dari kaum muslim, seperti tata cara ibadah mereka yang berbeda dengan kaum muslim, maka kaum munafik sulit sekali dibedakan dengan kaum muslim. Sebab kemunafikan tersebut berada di dalam bathin yang tidak kasat mata, walaupun atributnya muslim, walaupun yang bersangkutan terlihat mengamalkan ajaran Islam, menyandang titel haji, menyumbang pesantren, dan bahkan memimpin suatu organisasi berbasis massa Muslim.

Menangani kaum munafik ini pun haruslah hati-hati dan benar-benar cermat sesuai arahan Al- Qur’an dan sunnah. Sebab, kadang-kadang syetan dapat saja menjerumuskan hati seorang mukmin untuk terburu-buru menuding seorang muslim lainnya sebagai munafik, padahal bisa jadi yang bersangkutan belum masuk kategori munafik. Syetan sangat suka cita bilamana kaum muslim lemah, terpecah-belah dan bermusuhan satu sama lain.

Bermusuhan dengan orang kafir dan musyrik yang terang-terangan menyerang secara diam-diam dan mengeksploitasi kaum muslim justru dicontohkan Nabi, karena itu harus diikuti, maka bermusuhan dengan kaum muslim harusnya dihindari. Sebab pada dasarnya antar sesama muslim itu bersaudara, dan haruslah laksana bangunan yang kokoh yang menguatkan satu dengan lainnya. Prinsip dasarnya demikian. Namun manakala kaum kemunafikan seorang mengaku muslim tampak telanjang dan menjadi-jadi, maka perlu ada tindakan penanganan khusus dan perlakuan tersendiri terhadapnya, kendati melanggar prinsip bahwa setiap musim bersaudara. Sebab jika yang bersangkutan telah menjelma menjadi orang munafik, dia akan membahayakan kaum muslim akibat persekongkolannya dengan orang kafir, musyrik dan ahli kitab dalam memperdaya dan memanipulasi kaum muslim.

Lantas bagaimana harusnya kaum muslim menangani golongan munafik ini?

Pertama-tama, kemunafikan itu haruslah dapat dibuktikan dengan cukup bukti sebagai pelanggaran terhadap aqidah dan menyalahi secara jelas Al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an dan sunnah inilah tolok ukur bagi kaum muslim untuk menilai seseorang sebagai munafik atau tidak, bukan hawa nafsu dan kepentingan politik. Lalu bagaimana cara memutuskannya?

Tentu tidak boleh menghukum seseorang sebagai munafik secara sendiri-sendiri dan serampangan. Musti ada sidang yang dilakukan oleh representasi kaum muslim yang dipercaya secara keilmuan, ketakwaan dan kepemimpinannya terhadap kaum muslim. Di sinilah sekali lagi, pentingnya ulil amri bagi kaum muslim. Sebab, banyak sekali masalah yang harus ditangani oleh kaum muslim dalam kehidupan mereka, dan itu harus ditangani tidak sendiri-sendiri dan sembrono, tetapi oleh suatu pihak yang kredibel, kapabel dan dipercaya oleh kaum muslim.

Jika ulil amri itu telah bersidang, kemudian dalam sidang itu diuji bukti-bukti kemunafikan pihak atau orang tertentu, baik bukti wawancara, bukti rekord perbuatan dan perkataan, saksi-saksi dan pengakuan yang bersangkutan, maka ulil amri dapat melakukan tindakan bagi yang bersangkutan supaya berhenti merongrong dan merusak kaum soliditas kaum muslim. Yang bersangkutan dapat ditegur supaya bertaubat dan dapat juga dicegah untuk tidak melanjutkan kegiatan kemunafikannya.

Adalah terpuji bilamana dilakukan debat terbuka yang menguji argumentasi dan sikap seorang yang ditersangkakan munafik dengan disaksikan secara langsung oleh kaum muslim. Bilamana yang bersangkutan enggan menghadapi debat terbuka, dapat juga diajukan debat tertutup. Pada prinsipnya hendaklah dijaga dan dijamin kehormatan dan martabat setiap muslim. Sebab sebenarnya, cap munafik bagi seorang muslim yang waras merupakan suatu noda yang serius.

Oleh sebab itu berhati-hatilah untuk tidak terburu-buru menuding seorang muslim sebagai munafik. Sebelum dituding sebagai munafik, hanya ulul amri yang berwenang membuktikan seorang tersangka munafik sebagai munafik. Dan ini pun dilakukan dalam kerangka melindungi kemaslahatan kaum muslim, mengingat dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh kerjasama dan perselingkuhan politik antara kaum munafik dengan kaum kafir, musyrik dan ahli kitab.

Penanganan secara khusus golongan munafik ini semata-mata untuk memisahkan golongan munafik dari orang musyrik dan kafir, sehingga kekuatan orang kafir dan musyrik yang menzalimi kaum muslim melemah dan lebih mudah untuk diatasi kemudian.

Selama kaum munafik ini dapat dengan bebas menggunakan Islam sebagai alat politiknya untuk memberi sarana bagi orang kafir dan musyrik serta ahli kitab untuk melegitimasi penguasaan mereka terhadap kaum muslim, maka kaum munafik ini mendesak untuk ditangani secara sistematis dan tepat.

Harus diakui, sejak dulu golongan munafik inilah yang merongrong kekuatan kaum muslim dan mensubversi kaum muslim dari dalam. Bukan kaum kafir, musyrik dan ahli kitab. Kaum munafik ini selalu berada di pihak kaum kafir, musyrik dan ahli kitab bilamana terjadi pertentangan. Mereka memecah konsentrasi kekuatan kaum muslim dan melemahkan dari dalam. Di sinilah urgensinya untuk menangani secara serius dan prioritas terhadap kaum munafik ini.

Pelembagaan Sikap Kaum Munafik

Di masa dimana Islam tidak menjadi sentral dan tolak ukur kehidupan kaum muslim akibat sekularisasi yang terlembagakan dan sekularisme yang menjadi acuan formal dan resmi terhadap pengaturan kehidupan sosial politik, maka kedudukan golongan munafik di dalam masyarakat terjamin sedemikian rupa. Kemunafikan dilindungi oleh hukum formal yang berlaku. Tetapi mereka tidak luput dari ancaman Yang memberi mereka nyawa untuk dapat hidup di dunia.

Kaum munafik ini dapat dikikis secara sistematis dengan menghidupkan Islam di dalam hati setiap kaum muslim. Ajakan dan dakwah kaum munafik ini tidaklah menarik dan meyakinkan bagi manusia yang jujur dan konsisten. Dakwah kaum munafik ini hanyalah cocok bagi sesama kaum munafik, menggembirakan hati orang kafir, musyrik dan ahli kitab karena menambah barisan bagi mereka untuk menguasai kaum muslim.

Urusan kaum munafik ini bukanlah bagaimana agama ditegakkan dengan jujur dan konsekwen, tetapi bagaimana kepentingan dan kesenangan duniawi mereka diutamakan dan dijamin, walaupun dengan memperalat dan memanfaatkan agama sebagai legitimasi sikap mereka. Agama bagi kaum munafik tidak lebih dari pada kendaraan dan souvenir bagi pencapaian kesenangan duniawi mereka.

Sejatinya kaum munafik ini amat mengharapkan kelesuan kaum muslim dan tidak berfungsinya Islam di dalam kehidupan kaum muslim. Bila tidak percaya, tanyalah orang-orang munafik itu. Mereka tidak ingin Islam menjadi aktif. Mereka ingin mengubah Islam hanya sekedar ritual dan karnaval budaya yang dapat dijadikan objek wisata dan kendaraan bagi popularitas mereka di hadapan orang kafir, musyrik dan ahli kitab serta orang-orang Muslim yang awam terhadap tuntutan agama.

Jika mereka terlanjur dikenal sebagai tokoh Muslim yang populer, hal itu merupakan suatu yang tak terelakkan saja dan prioritas obsesi mereka tidaklah itu, tapi bagaimana ketokohan mereka dapat populer di hadapan orang kafir, musyrik dan ahli kitab. Sejatinya mereka memang penolong bagi orang-orang kafir, musyrik dan ahli kitab, bukan penolong bagi Allah dan kaum muslim. Semua itu akibat kecintaan mereka terhadap kesenangan dunia.

Pada hakikatnya kaum munafik ini mempunyai kribadian ganda dan mendua secara sikap. Mereka hakikinya tidak bisa dipercaya, baik bagi kaum musyrik, kafir dan ahli kitab sekutu mereka, apalagi bagi kaum muslim. Mereka terhadap orang kafir, musyrik dan ahli kitab hanya bersekutu sesaat saja di dalam menghadapi kaum muslim dan mencapai kesenangan duniawi. Selagi kepentingan duniawi antar mereka terpenuhi, maka mereka bersekutu. Bilamana kaum muslim dapat menaklukkan orang kafir dan musyrik, mereka akan kembali merapat ke dalam barisan kaum muslim dengan berpura-pura.

Demikianlah sifat asli mereka disebabkan ketidakpercayaan mereka terhadap Islam sebagai jalan hidup, terhadap Allah sebagai tuhan, dan ketergantungan mereka yang akut terhadap kesenangan duniawi. Kaum munafik ini adalah oportunis yang mengaku Islam. Kecintaan mereka terhadap kesenangan duniawi, nyaris membuat dunia dan diri mereka sebagai tuhan yang hakiki bagi mereka.

Di zaman ini sekularisme menjelma menjadi pelembagaan obsesi hati mereka. Itulah sebabnya, sekularisme senantiasa mereka bela dan disadari oleh mereka sebagai benteng bagi eksistensi mereka secara politik. Dengan sekularisme, mereka dapat mengekalkan diri dan mewariskan hasrat dan obsesi mereka.

Nestapa Kaum Muslim Indonesia

Kaum Muslim Indonesia adalah suatu ironi sekaligus tragedi. Betapa tidak, kaum Muslim tidak berdaya mengaplikasikan tuntutan-tuntutan agama mereka secara penuh dan maksimum, padahal mereka sebelum era penjajahan dapat dengan baik melakukannya. Justru setelah era penjajahan itu berlalu, rezim nasional tidak memberi mereka ruang yang cukup bebas untuk melaksanakan tuntutan agama secara penuh dan maksimum.

Agama menuntut kaum muslim supaya Al-Qur’an dan sunnah menjadi hukum formal yang memecahkan masalah-masalah kehidupan kaum muslim, tetapi hal itu tidak dapat dipenuhi oleh kendala hukum yang berlaku. Sistem hukum yang berlaku telah membuat kaum muslim tersandera dalam dilema dan kontradiksi. Bilamana mereka memaksakan tegaknya tuntutan maksimum agama mereka, negara akan berlawanan dengan mereka. Yang dapat mereka lakukan hanya melaksanakan agama yang tidak bertentangan dengan hukum formal. Akibatnya, pelaksanaan agama menjadi terbatas dan minimum.

Misalnya, kaum muslim menuntut supaya praktik syirik dan maksiyat dihukum sesuai tuntunan agama, tapi di lapangan tidak bisa dilakukan, karena hukum yang berlaku bukanlah hukum agama, tapi hukum positif yang dibuat berdasarkan proses politik elektoral. Kerap terjadi, antara hukum positif dengan hukum Islam tidak sejalan dan saling berselisih. Hal ini tidak perlu dijabarkan lebih lanjut dalam tulisan ini. Akibat dari hal ini ialah dikalahkannya tuntutan agama. Tentu hal semacam ini merupakan suatu perkara yang serius di hadapan Rabb Yang Diimani Kaum Muslim. Bagaimana mungkin agama dikalahkan oleh suatu hukum yang tidak dikehendaki oleh kaum muslim. Di sinilah kontradiksi itu terjadi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana jalan keluarnya? Aksi jalan keluarnya tidak cukup dilakukan dalam lapangan yang tunggal, namun harus mencakup minimal tiga lapangan, yaitu:

1.Aksi Politik

Yang dimaksud dengan aksi politik di sini ialah pengorganisasian kaum Muslim agar langkah dan tujuannya teratur dan terkoordinasi. Tantangannya adalan, secara internal kaum Muslim sudah berpecah-belah dengan parah. Diperlukan kerja cerdas untuk mereintegrasi kesatuan politik kaum muslim di Indonesia saat ini.

Di sini diperlukan aktivis-aktivis yang bekerja hanya untuk mengintegrasikan kaum Muslim. Mengintegrasikan kaum Muslim tidak harus dengan suatu tokoh tunggal. Mempersatukan dengan suatu tokoh, saat ini lebih berat ketim bang disatukan oleh program.

Karena itu, menyatukan kaum muslim dengan suatu program haruslah dapat dirumuskan dengan suatu program minimum dan praktis, yang merepresentasikan keinginan setiap elemen kaum Muslim.

Mislanya, keinginan untuk membuat suatu pasar bersama kaum muslim dan kolaborasi kekuatan-kekuatan produksi antar kaum muslim, yang akhir tujuannya ialah guna meningkatnya kekuatan politik dan ekonomi kaum muslim.

Saat ini yang mendesak dilakukan bukanlah menyatukan atau menghomogenkan kaum muslim. Karena sudah lama terkondisi cerai-berai, maka yang diperlukan adalah kolaborasi dan koordinasi. Sekiranya kolaborasi dan koordinasi ekonomi ini dapat dilakukan oleh kaum muslim, itu sudah sangat bagus dampaknya bagi usaha penguatan ekonomi dan politik kaum muslim.

Kader-kader atau aktivis-aktivis yang menghidupkan dan membangun kolaborasi dan koordinasi antar lembaga, tokoh, dan kekuatan ekonomi, sosial dan politik kaum muslim haruslah menjadi pekerjaan dasar kader-kader semacam itu.

Di sini diperlukan hadirnya sekolah kader yang bertujuan untuk melaksanakan pekerjaan menyatukan di atas. Selain itu, di lapangan politik, diperlukan jugaa sekolah yang diharapkan menghasilkan aktivis-aktivis yang secara profesional dapat menangani tantangan golongan munafik di dalam tubuh kaum muslim.

Sekolah semacam ini harus dapat mengurai dan menelanjangi kekuatan dan kelemahan golongan munafik. Mereka juga mampu secara profesional menaklukkan debat dengan golongan munafik,  juga dapat menghancurkan kekuatan golongan munafik ini sehingga kehilangan akar di dalam masyarakat. Pendeknya, sekolah khusus yang menangani golongan munafik, targetnya ialah bagaimana melumpuhkan golongan yang merongrong ini sekaligus mengeleminir pengaruh mereka di dalam masyarakat.

Sampai sejauh ini, belum pernah didirikan suatu sekolah khusus yang menangani golongan munafik, meskipun disadari betapa dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh eksisnya golongan munafik di dalam masyarakat.

2. Aksi Ekonomi

Kaum muslim sebenarnya merupakan kekuatan ekonomi potensial dan tersembunyi. Kekuatan ekonomi kaum muslim ini harus diintegrasikan dikoordinasikan serta dikolaborasikan satu sama lain, sehingga menghasilkan keuntungan yang berputar di antara kaum muslim.

Pasar mereka, tenaga mereka, kapital mereka dan keahlian mereka haruslah digunakan oleh mereka sendiri, bukan oleh orang kafir, musyrik, munafik dan ahli kitab, kecuali terpaksa dan saling menguntungkan.

Saat ini, para ahli dan profesional menjamur di dalam tubuh kaum muslim, namun sayangnya yang menikmati dan mengoptimalkannya malah orang kafir, musyrik dan ahli kitab. Demikian juga dengan pasar mereka, akibat meningkatnya populasi kelas menengah dari kaum muslim. Demikian juga kapital mereka.

Adapun tenaga-tenaga produktif mereka telah lama menjadi sumber tenaga bagi perusahaan-perusahaan kaum kafir, musyrik dan ahli kitab. Mulai sekarang, fenomena ini harus distop.

Bilamana tenaga, pasar dan keahlian kaum muslim ini dikembangkan untuk kepentingan kaum muslim, maka bisnis orang kafir, musyrik, munafik dan ahli kitab akan kehilangan suplai tenaga keahlian dan pasar yang signifikan. Tentu hal ini dapat menciptakan efek ganda baik bagi mereka maupun bagi kaum muslim yang bermaksud meningkatkan kekuatan ekonomi dan politik mereka.

Di sini, diperlukan peningkatan intensitas kolaborasi dan koordinasi yang lebih baik dan besar di antara kekuatan-kekuatan ekonomi kaum muslim. Adapun kerja operatifnya telah kami uraikan dalam jurnal EkonomiKa edisi ke-4, 2016-2017.

“….Seharusnya strategi yang dipilih ialah sinergi berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing kelompok dalam umat. Ilustrasinya seperti begini.

Pesantren A memiliki bisnis keuangan mikro yang sudah berkembang berupa BMT. Pesantren B memiliki ratusan hektar sawah, kebun sayur, ternak ayam yang telah berproduksi secara rutin. Pesantren C memiliki bisnis konveksi yang dapat memproduksi pakaian seragam dan sehari-hari. Pesantren D memiliki bisnis bahan-bahan bangunan seperti bata dan kayu hasil sendiri yang sudah berproduksi secara rutin.

Sekarang dalam rangka meningkatkan kapasitas bisnis masing-masing pesantren tersebut, dapat digelontorkan dana, katakanlah Rp40 milyar yang dihimpun dari berbagai dermawan atau investor. Rp40 milyar masuk ke BMT milik pesantren A. Rp10 M dicatatkan sebagai milik pesantren A, Rp10 M milik pesantren B, Rp10 M, milik pesantren C, dan Rp10 M milik pesantren D.

Keempat pesantren tersebut memiliki jumlah santri katakanlah 8.000 orang. Ditambah ustadz-ustadzah, karyawan, keluarga masing-masing santri, sehingga tersedia pangsa pasar lebih kurang 20.000 orang. Tentulah setiap orang dari 20.000 jiwa tersebut membutuhkan pangan, sandang, dan papan (rumah) secara rutin.

Jika keempat komunitas ekonomi pesantren tersebut bergabung mengikat perjanjian ekonomi bahwa produksi dan konsumsi selama masih bisa disediakan oleh masing-masing pesantren, wajib menggunakan produksi dan konsumen komunitas ke empat pesantren tersebut supaya hasil-hasil ekonomi beredar saja di lingkungan ke empat pesantren tersebut dan tidak merembes ke pihak lain.

Operasi ekonominya sebagai berikut. Pesantren B jika memerlukan seragam sekolah buat ribuan santrinya, dia membeli dari pesantren C yang menyediakan produksi pakaian seragam. Uang yang digunakan adalah sebagian dari Rp10 M, milik pesantren B yang disimpan di BMT pesantren A.

Ribuan seragam dibeli secara tunai, tetapi uang tetap tidak keluar dari BMT. Hanya ada kwitansi pembelian dan catatan transaksi yang dibuat oleh BMT, ditanda tangani oleh pihak pesantren B dan C. Masing-masing diberikan copy catatan transaksi. Tentu harga seragam sudah memenuhi aspek keuntungan yang wajar bagi pesantren produsen seragam. Pesantren A pemilik BMT juga memperoleh keuntungan yang wajar atas layanan keuangannya.

Demikian juga transaksi antara pesantren A dengan pesantren D. Pesantren D bermaksud mendirikan bangunan jaringan BMT di suatu wilayah, dia membeli bahan-bahan bangunan dari pesantren D. Transaksi itu dilakukan secara tunai dengan dicatat di pembukuan keuangan. Aspek keuntungan ditentukan juga secara wajar. Lain waktu, pesantren D memerlukan untuk ribuan santrinya beras sekian puluh ton. Transaksi dengan sistem yang sama juga diterapkan. BMT memainkan peranan intermediasi. Alhasil berkembanglah secara bersama-sama bisnis dan ekonomi keempat entitas bisnis pesantren tersebut tanpa harus merembes ke pihak luar.

Begitulah ilustrasinya. Uang Rp40 M tetap stay di BMT. Tetapi kegiatan ekonomi berjalan lancar. Keuntungan tetap diraih oleh masing-masing. Yang keluar hanya catatan dan kwitansi.

Operasi ekonomi semacam itu amat mungkin dilakukan oleh kelompok-kelompok Muslim, terutama pesantren. Hanya dibutuhkan perjanjian bisnis dan aliansi bisnis di antara para pihak dengan komitmen.

3. Aksi Pendidikan dan Kebudayaan

Saat ini, berapa banyak institusi-institusi pendidikan kaum muslim, mulai dari bentuk pondok pesantren hingga pendidikan terpadu yang dikenal dengan SDIT hingga SMAIT, mencakup perguruan tingginya.

Institusi pendidikan dan kebudayaan ini sangat besar nilainya ditinjau dari sisi potensi pasar, tenaga, keahlian, kapital hingga jaringan politik.

Bilamana keseluruhan institusi pendidikan ini dikolaborasikan guna kemajuan dan peningkatan kekuatan kaum muslim, sungguhlah suatu hal yang menakjubkan.

Sayangnya, belum terlihat usaha yang kuat untuk mengkolaborasikan dan mengkoordinasikan kekuatan-kekuatan pendidikan dan kebudayaan ini.

Di sini lagi-lagi diperlukan aktivis-aktivis yang bekerja untuk tujuan ini. Sekolah dan organisasi yang berfungsi melaksanakan pekerjaan pembinaan kolaborasi dan koordinasi ini amat mendesak.

Jika tiga lapangan ini dapat dikerjakan dengan baik oleh kaum muslim, rasanya mereka akan terbebas dan perdaya dan eksploitasi orang-orang kafir, musyrik, munafik dan ahli kitab[]

Penulis: Syahrul Efendi Dasopang

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment