HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Macetnya Demokrasi Kita

Macetnya Demokrasi Kita
November 09
17:50 2017

Reformasi yang pecah pada 1998 memberikan harapan besar bagi rakyat Indonesia, momen ini disambut sebagai momen kemenangan demokrasi, setelah 32 tahun otoritarianisme berkuasa dengan memanipulasi demokrasi, kehadiran reformasi dianggap sebagai berkah guna mewujudkan demokrasi subtantif, optimisme sangat menguat di masa itu. Seiring dengan berjalannya waktu, optimisme tentang harapan terwujudnya demokrasi hakiki diuji oleh kenyataan, faktanya mewujudkan demokrasi subtantif tak semudah membayangkannya, ternyata optimisme saja tak cukup, juga dibutuhkan manusia yang memiliki integritas yang tinggi terhadap demokrasi, manusia yang tidak tergoda memanfaatkan demokrasi untuk melancarkan petualangan hitam demi kepentingan kelompok dan kroninya, manusia seperti ini yang cukup langka di tengah semakin bertambahnya usia demokrasi Indonesia.

Masyarakat Indonesia berharap dengan semakin bertambahnya usia demokrasi maka demokrasi akan semakin mengalami kemajuan, akan tetapi harapan tersebut sepertinya lebih dekat dengan angan belaka. Semakin kesini demokrasi kita bukannya mengalami kemajuan berarti, perjalanan demokrasi kita menjadi sangat lambat, bahkan cenderung stagnan, macet di tengah jalan. Lebih jauh demokrasi terjerumus ke dalam prilaku yang dikutuknya, yakni otoritarianisme, metamorfosis kelahiran otoritarianisme biasanya mengambil dua bentuk. Pertama pembatasan terhadap kebebasan secara perlahan, dalih yang biasa dipakai adalah konteks kebebasan yang berlaku saat itu dianggap berlebihan, sehingga perlu dibatasi oleh aturan yang mengikat, hal ini akan menjadi masalah tatkala tafsir batasan kebebasan ditentukan oleh penguasa, tafsir batasan kebebasan menurut penguasa sangat rawan mengikuti kepentingan kekuasaan. kebebasan yang dibatasi secara perlahan lambat laun akan memberangus kebebasan seluruhnya, disinilah otoritarianisme mengukuhkan diri. Kita percaya bahwa kebebasan memang tidak boleh tanpa batasan, namun ketika penafsir batasan kebebasan adalah penguasa maka hal itu akan menjadi masalah serius.

Kedua, otoritarianisme juga biasa lahir dengan melakukan pembatasan kebebasan secara total, cara yang kedua ini terbilang ekstrim, model ini biasanya terwujud saat diktator memimpin sebuah negara, atau saat junta militer melakukan kudeta lalu mempermanenkan kekuasaannya. Model kedua ini sangat gampang dirasakan dan disadari oleh masyarakat, namun mereka akan sangat kesulitan untuk keluar dari belenggu otoritarianisme model ini, bila berkaca kepada fakta sejarah, model otoritarianisme semacam ini biasanya bisa terawat hingga puluhan tahun. Terlepas dari hal itu, baik model otoririanisme yang pertama maupun model otoritarianisme yang kedua sama-sama membunuh demokrasi, mustahil demokrasi berjalan beriringan dengan otoritarianisme.

Dalam konteks penguasa di Indonesia hari ini, ada kesan kuat model otoritarianisme jenis pertama sedang dijalankan, indikatornya bisa kita lihat dengan lahirnya ragam regulasi yang perlahan tapi pasti memangkas kebebasan, yang paling vulgar adalah Perppu Ormas. Dalih yang digunakan terbilang klasik, penguasa meminjam dalih demokrasi untuk membunuh demokrasi itu sendiri, penegasan tentang keutuhan pancasila hingga ke tataran praktis sebagai dalih mengeluarkan Perppu Ormas, merupakan contoh nyata peminjaman dalih demokrasi guna membunuh demokrasi itu sendiri. Penguasa terjebak dalam dimensi irasional, celakanya tidak sedikit pengusung kebebasan berpendapat di masa lalu yang turut terjebak dalam dimensi irasional ini, mereka beramai-rami memberikan dukungan penuh kepada pemerintah dalam kasus Perppu Ormas. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi kita bukan hanya macet, tapi juga berjalan mundur, dan lebih dekat kepada otoritarianisme.

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment