HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Kepedulian Yang Sebatas Layar Kaca

Kepedulian Yang Sebatas Layar Kaca
October 02
10:36 2017

Fase sejarah manusia selalu menampilkan dua sisi, prestasi dan tragedi, keduanya selalu ada dalam setiap masa, termasuk di masa modern, prestasi selalu diberi apresiasi tak terhingga, ragam pujian menghampiri prestasi sebuah komunitas di era modern, sebaliknya, tragedi juga tak kalah menyita perhatian manusia, kepedulian selalu mengalir deras dalam sebuah tragedi. Ambil contoh tragedi yang dialami masyarakat Palestina akibat kolonialisme zionis Israel, tragedi yang dialami masyarakat Suriah akibat perang antara blok kepentingan, hingga yang terkini tragedi yang dialami muslim rohingya akibat pembantaian yang dilegitimasi otoritas Myanmar. Dalam semua tragedi tersebut, masyarakat internasional langsung bergerak tanpa menunggu instruksi dari otoritas Negara mereka, mereka meyakini bahwa hal tersebut merupakan masalah lintas Negara, mereka bergerak atas nama kemanusiaan.

Kepedulian masif terhadap ragam tragedi yang terjadi perlu diapresiasi, kondisi ini menunjukkan munculnya kesadaran tinggi dalam membela nilai kemanusiaan, akan tetapi di sisi lain, kepedulian tersebut biasanya tidak berkelanjutan, kepedulian masif terhadap sebuah tragedi muncul saat media ramai-ramai menyorot tragedi tersebut, dan ketika media tidak lagi menyorot tragedi tersebut, dan memilih mengangkat topik lain, maka perlahan antusiasme kepedulian juga mulai surut, padahal tragedi yang memakan korban manusia masih berlangsung. Manusia sibuk berbicara kekejaman zionis Israel saat mata kamera media dibidikkan ke tanah Palestina, manusia ramai menggalang dukungan guna mengakhiri krisis Suriah saat TV yang kita tonton intens menayangkan penderitaan penduduk Suriah akibat peperangan, manusia sangat bersemangat membela muslim rohingya saat surat kabar kompak mengutuk kejadian di Rohingya. Sepertinya kepedulian manusia belum matang, masih prematur, bergantung pada penguasa baru di abad informasi yang bernama media.

Model kepedulian seperti yang disinggung di atas, merupakan model kepedulian yang sebatas layar kaca, apa sebab? Karena manusia masih mempercayakan prioritas masalah di muka bumi berdasarkan tampilan yang mereka lihat di layar media, mereka paham bahwa walaupun tragedi tersebut tidak lagi disorot media, maka bukan berarti tragedi tersebut telah usai, mereka tahu bila tragedi tersebut masih berlanjut. Mengapa hal ini terjadi? Karena respon manusia terhadap tragedi belum bersumber dari kesadaran pribadinya, sebagian malah hanya ikut sebagai tim hore, kesadaran terhadap tragedi yang berasal dari lubuk hati terdalam tidak mungkin terpengaruh oleh situasi apapun, kesadaran jenis ini akan tetap kukuh walau tragedi tersebut telah sepi dari pemberitaan. Anehnya manusia seolah merasa tak ada yang salah dari kepedulian yang sebatas layar kaca, bahkan mayoritas dari mereka sudah terlebih dahulu meyakini bahwa antusiasme kepedulian mereka hanya berlangsung sesaat, implikasi negatifnya, aktor utama pembantaian dalam sebuah tragedi tak pernah merasa khawatir walaupun kecaman mengalir deras, para aktor ini sudah paham kapan kecaman tersebut akan berhenti, dan saat itu, mereka akan bebas lagi membantai, ironis bukan.

Kepedulian yang berasal dari kesadaran diri terhadap sebuah tragedi, bisa dimulai dengan memunculkan pemahaman bahwa penanganan terhadap tragedi, bukan hanya terbatas pada komunitas yang terkena tragedi, tapi penanganannya membutuhkan semua pihak di belahan dunia manapun karena tragedi merupakan masalah kemanusiaan, langkah selanjutnya adalah  memahami peta masalah secara utuh, khususnya akibat yang ditimbulkannya, dari sini lalu disusun langkah yang jelas dan terarah dalam menyikapi tragedi tersebut, perlu banyak opsi yang disiapkan, bukan hanya opsi bantuan kemanusiaan, opsi intervensi politik juga perlu didorong.[]

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment