HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Potensi Energi Terbarukan (ETB) Dalam Konversi Sumber Tenaga Listrik

Potensi Energi Terbarukan (ETB) Dalam Konversi Sumber Tenaga Listrik
August 08
09:11 2017

Indonesia merupakan Negara ke empat yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 261,1 juta jiwa berdasarkan data terakhir yang diambil pada tahu 2016. Tentu dengan banyaknya jumah penduduk yang ada ini menandakan banyaknya jumlah konsumsi di berbagai bidang, salah satunya dalam hal konsumsi tenaga listrik. Dengan jumlah penduduk yang begitu banyak serta meningkatnya presentase pertumbuhan perekonomian Indonesia maka bisa dipastikan konsumsi listrik pun akan terpengaruh, dengan jumlah konsumsi sebanyak 956 KWh per kapita.

Namun bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga terdekat, maka angka tersebut kalah signifikan karena konsumsi listrik perkapita penduduk Indonesia hanya 10% dengan perbandingan konsumsi listrik Singapura serta Malaysia. Angka 956 KWh per kapita pun masih sebagian besar didominasi di pulau jawa, karena pendistribusian  listrik sampai saat ini masih belum sepenuhnya menyentuh wilayah terluar dan pedalaman.

Dari jumlah yang ada, 85% sumber tenaga listrik masih didominasi oleh bahan bakar minyak, gas alam serta batu bara, sedangkan sisa presentase yang ada menggunaakan tenaga terbarukan seperti Geothermal Energy (panas bumi), Solar Energy (tenaga surya), serta Hydro Energy (tenaga air). Tentunya hal ini membuat Indonesia semakin khawatir, karena listrik masih diperoleh dari minyak yang masih diimpor setiap tahunnya karena produksi dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan akan konsumsi dalam negeri.

OPEC mencatat bahwa cadangan minyak Indonesia hanya menyimpan 0,2% dari cadangan minyak dunia dengan jumlah 3,6 M Barrel, yang tertingi masih ditempati oleh Venezuela, Uni Emirat Arab serta Amerika. Jumlah cadangan batu bara yang dimiliki Indonesia diperkirakan 32,4 M Ton. Dengan jumlah cadangan yang dimiliki oleh Indonesia kini, dapat diasumsikan bahwa  minyak akan habis dalam waktu 20 tahun kedepan dengan peningatan presentase konsumsi bahan bakar setiap tahunnya 10% dan batu bara akan habis dalam kurun watku 90 tahun kedepan.

Dengan melihat hal ini perlu adanya inovasi dalam hal penyediaan sumber daya listrik Indonesia. Beberapa penelitian yang dilakukan ternyata Indonesia memiliki potensi yang cukup besar akan energi terbarukan. Energi yang diperoleh dari potensi Geothermal Energy (panas bumi) mencapai angka 29.544 MW, potensi Solar Energy (matahari) mencapai angka 532.579 MW, potensi Hydro Energy (tenaga air) mencapai angka 75.000 MW, dan potensi Bio Energy mencapai angka 32.654 MW. Angka-angka tersebut adalah hal yang luar biasa bilamana Indonesia mampu mengkonversi menjadi tenaga listrik tambahan atau menjadi pengganti tenaga listrik yang sudah ada.

Mengapa hal ini bisa menjadi solusi ? Karena untuk menghasilkan tenaga listrik dari minyak bumi pemerintah harus mengimpor bahan baku dari negara lain penghasil minyak bumi dengan US $52,36 /Barrel harga yang berlaku per 7 Agustus 2017. Melihat lebih dalam lagi konsumsi minyak saat ini sudah menyentuh angka 1650 Barrel/hari dengan jumlah produksi dalam negeri 850 Barrel/hari. Ini menandakan Indonesia harus mengimpor sebesar 800 Barrel/hari, tentu ini angka yang sangat besar karena over konsumsi setiap harinya.

Namun hal ini bisa disiasati dengan mengkonversi sumber tenaga listrik yang biasa digunakan dengan sumber energy terbarukan. Dari jumlah potensi Geothermal Energy yang ada baru dimanfaatkan sebesar 1490,4 MW, Solar Energy yang ada baru dimanfaatkan sebesar 210 MW, Hydro Energy yang ada baru dimanfaatkan sebesar 5.383 MW dan Bio Energy yang ada baru dimanfaatkan sebesar 86,25 MW. Seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga dapat menekan jumlah impor minyak paling tidak 35% dari data sebelumnya, yang tentunya ini dapat memperbaiki kondisi keuangan Negara agar pembiayaan impor tidak membengkak.

Melihat hal ini besar potensi Indonesia mengkonversi sumber tenaga listrik dari sumber tenaga minyak bumi menjadi sumber energi terbarukan. Dengan didukung ketersediaan sumber daya air yang terdiri dari sungai, waduk, sampai laut. di Timur Indonesia sumber daya matahari melimpah, oleh karena itu sangat memungkinkan peralihan ini dilakukan disamping dengan murahnya biaya perawatan yang dibebankan kepada konsumen. Biaya perawatan Hydro Energy hanya berkisar Rp. 850 /KWh sedangkan biaya perawatan dengan bahan bakar minyak berkisar Rp. 3.500 – Rp. 4.000 /KWh. Kesukseskan Norwegia dalam memanfaatkan air sebagai sumber energi dapat dijadikan patokan, terlebih Indonesia kaya akan sumber daya air.

Sehingga penghematan biaya belanja impor minyak bisa ditekan seminim mungkin dengan beralihnya atau dikonversinya sumber tenaga listrik kepada sumber energi terbarukan. Oleh karena itu konversi sumber bahan baku penghasil listrik menjadi energi terbarukan merupakan salah satu jalan keluar yang baik dan cukup murah bagi masyarakat Indonesia. Maka semua warga negara dapat menikmati listrik. Dalam segi ekonomi, ini dapat menimbulkan multiplier effect, dana yang ada karena efek positif dari konversi energi ini dapat didistribusikan ke sektor produktif lainnya.

Juga dengan terdistribusinya listrik sampai ke pedesaan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada, maka dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan salah satu jalan dalam pendistribusian pendapatan yang merata bagi seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, sudah saatnya Indonesia berkomitmen penuh dalam mengembangkan potensi ini.

Penulis: Maftuhi Firdaus, Demisioner Pengurus HMI MPO Cabang Yogyakarta 2016 – 2017

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment