HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Petani dan Sistem Mawah

Petani dan Sistem Mawah
July 26
10:20 2017

Padi merupakan komoditas yang paling penting, wajib dimiliki oleh setiap rumah kita. Khusus di Aceh kita bisa melihat adanya lumbung padi/kroeng pade, mulai dari ukuran kecil yang berisi 1,25 ton sampai dengan 5 ton. Ukuran ini tergantung luasnya  sawah yang dimiliki. Sebenarnya banyaknya padi tidak diukur dengan kilogram, tetapi saya sebutkan demikian untuk memudahkan dalam mendeskripsikannya. Satuan volume yang digunakan biasanya masyarakat Aceh menyebutnya “Gunca” dengan rincian sebagai berikut:

16 bambu =1 naleh

1 gunca    =10 naleh

1 naleh bisa mencapai 25 sampai 30 kg tergantung kualitas padi

Ketersediaan lumbung padi di setiap rumah ini bisa dipenuhi bukan karena semua rumah atau keluarga memiliki sawahnya sendiri, tapi bisa didapat dari hasil pengelolaan sawah orang lain ( pemilik sawah dinamakan “Poe Tanoh”).

Masyarakat Aceh telah lama menerapkan sistem “mawah” selanjutnya dalam ilmu ekonomi islam disebut “mukhabarah” jika bibit disediakan oleh penggarap ” muzara’ah” bibit disediakan oleh pemilik tanah, “musaqah” penggarap hanya merawat tanaman yang sudah ada. Sistem “mawah” yang digunakan bisa diantara salah satu di atas, tergantung kesepakatan antara pemilik lahan dan penggarap, mengingat dalam adat aceh,  hal tersebut tidak dibedakan secara terperinci. Mawah merupakan akad kerja sama antara pemilik tanah/poe tanoh dengan Penggarap.

Tahapan pertama dari sistem ini, pemilik tanah akan menyerahkan tanahnya untuk penggarap, selanjutnya penggarap akan menyediakan bibit, menyemai, menanam, merawat sampai dengan panen. Setelah panen, hasilnya dibagi menurut kesepakatan. Sebelum tahun 2010 pembagiannya 2 bagian untuk pemilik tanah dan 1 bagian untuk penggarap, tetapi sekarang menjadi 2 bagian untuk penggarap dan 1 bagian untuk pemilik tanah dengan pertimbangan biaya untuk pupuk dan pestisida. Biaya ini semakin membengkak karena perubahan cara bertani dari yang serba organik menjadi serba kimia, juga meningkatnya hama yang menyerang padi.

Dengan memakai sistem “mawah” kedua belah pihak sama-sama diuntungkan (mutual benefit). Bagi pemilik lahan tentunya akan meringankan pekerjaan di sawah, menghemat energi dan waktu, sedangkan penggarap lahan, mendapat bagian dari hasil panen padi, jika panen melimpah melebihi kebutuhan ini bisa menjadi sumber pendapatan. Keuntungan lainnya sistem mawah ini bisa menjembatani antara orang yang kelebihan sumber daya alam (excess resource) dengan kekurangan sumber daya alam tetapi memiliki skill yang mumpuni. Penggabungan keduanya memungkinkan kesejahteraan lebih merata dan dampak kesenjangan sosial dapat ditekan.

Penulis: Furqan Gus, Ketua Bidang Pengembangan Intelektual HMI MPO Cabang Bireuen

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment