HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Mahasiswa dan Cita-Cita Keadilan Sosial

Mahasiswa dan Cita-Cita Keadilan Sosial
June 22
06:44 2017

Perubahan sosial terus berlanjut, pembahasan akan perubahan menjadi suatu keharusan untuk proses perbaikan berkesinambungan. Perubahan dan perbaiakan adalah dua perangkat yang tidak bisa dilepaskan untuk mencapai tujuan bersama, baik dalam organisasi formal atau non formal.

Pertentangan Proletar dan Borjuis menjadi penanda bahwa aktivitas sosial selalu mengalami perubahan. Semangat perlawanan ini lahir dan tumbuh subur karena adanya ketimpangan sosial dan adanya kesenjangan ekonomi. Perubahan-perubahan tidak bisa dilepskan dari globalisasi, berkembangnya teknologi dan pesatnya informasi, positif-negatif menjadi keharusan dari perubahan tersebut.

Semangat kaum pemilik modal untuk mengeksploitasi tenaga buruh membimbing lahirnya paham-paham yang perlawanan, khususnya bila dilihat dari karya Marx dalam manifesto komunis. Musa dalam melihat kediktatoran firaun melahirkan pemberontakan religius dengan pergerakan ketuhidan dan pembebsan monarki-otoriter yang sewenang-wenang. Muhammad melahirkan pemberantasan dehumanisasi dengan jalan pembebasan budak serta penegakan ketauhidan pada rezim jahiliyah.

Pertentangan dan perlawanan berbagai macam bentuknya, namun yang perlu dipahami bahwa dengan hal tersebut cita-cita perbaikan berkesinambnungan tetap berlanjut, untuk konteks Indonesia, klimaksnya adalah Hal yang menarik dari bangsa Indonesia yakni perlawanan dan pertentangan dimotori oleh kaum muda yang progresif dan revolusioner.

Presiden terbaru yang dilahirkan dari Pilpres 2014 dengan membawa slogan blusukan dan pro-rakyat, dengan konsep kepemimpinan sederhana yang ditawarkan serta visi pembanguan dengan nawacita-nya. Akan tetapi pada faktanya, janji populis sang presiden mulai dilanggar olehnya sendiri,  salah satunya adalah kenaikan tarif dasar listrik, praktis kebijakan ini mendatangkan masalah buat masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah, pendapatan masyarakat belum sepenunnya tercukupi bahkan di beberapa daerah sangat terbebani. Kebijakan ini sepertinya juga tidak mendapat sorotan yang tajam dari mahasiswa.

Ada yang berbeda dalam pergerakan mahasiswa pasca reformasi, dimana organisasi mahasiswa yang berkembang dan bercabang dewasa ini, tidak sebanding dengan tingkat manfaatnya. Perguruan tinggi sebagai kawah Candradimuka mengalami penurunan kualitas sumber daya mahasiswanya. Rezim Jokowi harus terus dikontrol, mahasiswa yang menempa proses di perguruan tinggi harus kembali pada orientasi keilmuan, sehingga tercipta sumber daya manusai yang memilki kualifikasi, kompetensi, dan nalar kritis. Dengan begitu realisasi Tri-Dharma perguruan tinggi diharapkan optimal, bentuk sinergitas masyarakat ilmiah dengan relitas sosial perlu dibangun dengan baik, Untuk itu diperlukan budaya kritis untuk melahirkan solusi khsusnya dalam mencapai keadilan sosial.

Penulis: Baqi Maulana Rizqi

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment