HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Idul Fitri dan Dilema Kemenangan

Idul Fitri dan Dilema Kemenangan
June 30
23:15 2017

Ramadhan baru saja berlalu, umat islam menjalankan puasa selama sebulan penuh, lalu ditutup dengan perayaan Idul Fitri, momen yang dianggap sebagai perayaan kemenangan, kemenangan terhadap diri sendiri dan di luar diri. Bagi umat islam puasa merupakan salah satu ibadah utama, ajang untuk melatih diri, dan sebagaimana lazimnya, setiap latihan pasti menyisakan predikat lulus dan tidak lulus, yang paling tahu lulus dan tidak lulusnya seseorang dalam menjalani latihan adalah dirinya sendiri dan Tuhannya, kelulusan itulah yang dirayakan dalam momen idul fitri, lulus berarti merasa menang.

Pada dasarnya tidak semua orang yang merayakan Idul Fitri adalah manusia pemenang, yang kalahpun merayakan momen tersebut, disini letak pentingnya mengevaluasi perasaan menang kita, mungkinkah kita benar-benar menang atau tidak, caranya sangat sederhana, cukup mengevaluasi ibadah kita selama ramadhan, total atau tidak. Pemenang sejati dari ramadhan tidak akan pernah merasa menang, justru sebaliknya, mereka akan selalu merasa kalah, mereka akan selalu merasa ibadahnya jauh dari maksimal selam ramadhan, walupun di mata orang lain ibadahnya dianggap sudah sangat maksimal. Jadi sebaiknya berhati-hatilah dengan perasaan menang di hari idul fitri, boleh jadi itu pertanda kekalahan yang nyata.

Perasaan menang di hari fitri perlu dievaluasi kembali, lebih jauh kita patut bertanya, apa yang kita menangkan ? pertanyaan ini menjadi urgen khususnya saat dikaitkan dengan substansi tujuan puasa, yakni latihan mengendalikan hawa nafsu secara utuh, bila kita membuka cara pandang secara lebih luas, maka akan dijumpai realitas bahwa nafsu masih menjadi pemenang setelah ramadhan, buktinya kemiskinan masih merajalela, keserakahan terhadap kekuasaan masih kuat, ketidakadilan masih nyata, serta jenis pemandangan pahit lainnya, bukankah semua pemandangan tersebut merupakan konsekuensi dari berkuasanya nafsu. Hasrat menumpuk harta secara berlebihan sambil mematikan rasa kepedulian terhadap sesama melahirkan kemiskinan, ambisi kekuasaan yang tidak terkontrol melahirkan keserakahan terhadap kekuasaan, menempatkan kepentingan di atas apapun menyebabkan lahirnya ketidakadilan.

Pemahaman terhadap kontrol hawa nafsu perlu diperluas, bukan hanya kontrol terhadap nafsu pribadi, tetapi juga kontrol terhadap nafsu orang lain, mengontrol nafsu pribadi lebih identik dengan menyelamatkan diri sendiri walaupun tidak sepenuhnya benar, membiarkan nafsu orang lain tak terkontrol padahal kita bisa melakukannya berarti membuka peluang lahirnya kemungkaran, sungguh tidak etis membiarkan kemungkaran bersolek ria selama ramadhan, mereka yang mampu mengontrol nafsunya dan membantu orang lain mengontrol nafsunya, boleh disebut sebagai pemenang di hari fitri, namun orang seperti ini sudah pasti tidak akan merasa dirinya menang, justru mereka selalu merasa kalah.

Idul Fitri seharusnya dilihat sebagai momen ekspresi syukur, yang berpuasa maksimal bersyukur mampu melakukannya, sedangkan yang belum mampu berpuasa maksimal juga bersyukur setidaknya masih dipertemukan dengan Idul Fitri, bagi mereka idul fitri menjadi momen evaluasi diri dari ketidakmaksimalan puasanya. Jadi levelnya diturunkan satu tingkat, bukan lagi soal kemenangan, sebab sepertinya kemenangan bukan maqam manusia awam, tetapi kesyukuran, syukur lebih bisa dijangkau oleh manusia awam.[]

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment