HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Wabah Muhibah yang Menjadi Inspirasi

Wabah Muhibah yang Menjadi Inspirasi
June 15
06:51 2017

Masuk ke fakultas pertanian cinta-citanya sederhana, setelah lulus harapannya akan pulang kampung untuk meneruskan mengelola sawah orang tuanya di Karawang sana. Untung-untung bisa menjadi penyuluh di daerahnya, tetapi jikapun tidak, setidaknya dengan ilmu bekal sarjana pertanian yang dimilikinya bisa mengelola pertanian keluarganya dengan lebih baik.

Tetapi siapa sangka, anak seorang petani itu kini menjadi petinggi di salah satu bank pemerintah terbesar di negeri ini. Dialah Babay Farid Wajdi, sosok alumni Pertanian UGM yang menjadi tuan rumah acara buka bersama KALAMTANI (Keluarga Alumni HMI Pertanian UGM) di Jakarta, 10 Juni 2017.

“Semua berawal dari rumah bertiang besar di Jakarta yang saya kunjungi beberapa puluh tahun yang lalu itu”, dia bercerita. Tanpa ingat dengan jelas nama pemilik rumah itu, dia menceritakan bahwa keberaniannya untuk memancangkan cita-cita lebih tinggi terinspirasi sejak itu.

“Seandainya tak berkunjung dengan rumah bertiang besar itu, mungkin saya enggak akan jadi seperti sekarang ini’, kelakarnya.

Waktu itu, sebagai anggota HMI diirinya mengikuti program Muhibah ke alumni-alumni HMI di Jakarta. Program ini diselenggarakan setiap tahun oleh HMI Komisariat Fakultas Pertanian UGM. Memanfaatkan waktu liburan, mahasiswa diajak jalan-jalan berkeliling silaturahim ke para alumni HMI yang sudah sukses di kota lain. Kota tujuan utama biasanya Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mereka biasanya juga menginap di salah satu rumah alumni.

Alkisah pada suatu hari Farid terkesan dengan satu rumah alumni yang bagus dan bertiang besar. Baginya, rumah itu mewah dan megah. Dari situlah timbul pemikiran, “wah,…hebat juga alumni ini. Ternyata alumni pertanian juga bisa berkarir di Jakarta dan menjadi orang kaya dan memiliki rumah sebesar ini”.

Di situ dia mulai tergugah untuk mengubah cita-citanya, dari yang tadinya sebatas menjadi penyuluh pertanian, ingin menjadi seperti alumni yang dikunjunginya itu.

“Sama-sama kuliah di fakultas pertanian, jika bapak alumni ini bisa maka sayapun harus bisa”, gumannya dalam hati.

Selanjutnya, saat perjalanan keliling Jakarta, ia menyaksikan gedung-gedung tinggi yang megah. Ia mulai bermimpi untuk bisa bekerja di salah satu gedung itu. Salah satu gedung tinggi yang ia lewati bertuliskan Bank Indonesia. Waktu itu ia berguman dalam hati: “Inilah tempat dimana uang dicetak. Nanti setelah lulus, saya ingin melamar kerja di tempat ini.”

“Saya memang akhirnya tidak bekerja di BI melainkan di Bank Mandiri. Tetapi istri saya bekerja di sini. Dulu kami berdua sama-sama melamar di BI. Saya tidak diterima, tetapi mantan pacar saya yang diterima he he he”, dia menambahkan.

Saat hadir dalam sebuah acara temu alumni yang diselenggarakan di sebuah hotel di Yogyakarta. Acara tersebut berlangsung meriah, disponsori oleh salah satu alumni yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Bulog di era Presiden Soeharto. “Seumur hidup saya ingat momen itu. Itu pertama kali saya makan di hotel”, katanya. Ia sangat terkesan dengan sosok alumni yang bisa mensponsori acara semewah itu. Ternyata kuliah di pertanian juga bisa menjadi seperti dia yang sekolahnya bisa lanjut ke luar negeri lalu pulang menjadi orang penting di negeri ini.

Tiga segmen cerita di atas menjadi pembuka dari cerita pengalaman hidup Babay Farid Wajdi dalam acara. Cerita itu mengawali cerita-cerita lainnya tentang refleksi atas pengalaman saat menjadi anggota HMI dulu. Farid sebagai tuan rumah mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Pembicara kedua adalah Redi Roeslan. Mantan ketua komisariat HMI ini sekarang menjadi direktur salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang energi. Boleh dikata, dia adalah penggagas ide program Muhibah yang dulu diikuti oleh Farid. Dia tidak menyangka bahwa program jalan-jalan itu ternyata punya pengaruh yang sebegitu luar biasa pada pesertanya. Farid hanyalah salah satu contoh dari yang menuai manfaat itu, yang ternyata mengubah jalan hidupnya.

Kata Redi, dirinya bersama pengurus seangkatannya seperti Junianto dan yang lainnya menggalakkan program Muhibah Alumni karena terinspirasi oleh pengalaman dirinya waktu awal masuk HMI. Waktu itu, ia diberi tugas oleh seniornya di HMI untuk mencari dana ke alumni-alumni di Jakarta. Dengan muka tembok ia datang dari satu pintu ke pintu lainnya menawarkan proposal meminta sumbangan. Ia terkesan oleh sambutan para alumni yang luar biasa. Dari situ dirinya tidak saja pulang mendapatkan dana, tetapi yang jauh lebih terkesan adalah pengalaman interaksi dengan alumni yang sudah sukses.

“Pengalaman bertemu dengan alumni yang sukses di berbagai profesinya masing-masing menjadikan saya memiliki proyeksi tentang masa depan saya. Saat kuliah, saya sudah bisa punya gambaran nanti setelah lulus model karir seperti siapa yang ingin saya tempuh”, jelasnya.

Dari situlah kemudian, ketika dirinya mendapat amanat sebagai ketua komisariat, dia membuat program yang diberi nama Muhibah itu. Menanggapi tentang manfaat Muhibah ini, pembicara berikutnya yaitu Mulyanto Darmawan memberikan pemaknaan sebagai berikut: Intinya adalah silaturahim dan komunikasi. Semakin banyak silaturahim maka pengalaman dari orang lain yang bisa diserap semakin banyak. Demikian, silaturahim akan memperluas jaringan kita. Sementara komunikasi merupakan saran untuk menembus dan merawat jaringan sulaturahim itu.

Mas Mul, panggilan akrab Mulyanto, adalah seniornya Redi di HMI. Dialah yang waktu itu ‘menyuruh’ Redi untuk pergi ke Jakarta menggalang dana.  “Jika dulu Mas Mulyanto tidak menyuruh saya mencari dana ke alumni-alumni, saya juga tidak mungkin punya ide membuat program Muhibah itu”, kata Redi. Tiga generasi hadir berbicara, satu inspirasi terjadi oleh adanya suatu program, yang program itu lagi karena terinspirasi adanya kegiatan dalam program sebelumnya. Intinya malam itu kami saling terinspirasi dan menginspirasi. Sesunggunya kita hidup dari inspirasi. Gagasan muncul karena inspirasi, cita-cita tumbuh karena inspirasi, dan inspirasi jugalah yang menjadikan seseorang berani untuk mewujudkan cita-cita itu.

Penulis: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI Periode 2009 – 2011

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment