HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

In Memoriam Ridwan Baswedan

In Memoriam Ridwan Baswedan
June 03
11:52 2017

Masih terpatri dengan kuat dalam ingatanku, kecakapannya saat memimpin pergerakan mahasiswa menjelang tahun 1998 di Yogyakarta. Rangkaian rapat-rapat antar organ kampus mempersiapkan demonstrasi, sosoknyalah yang paling kuingat. Sosok itu mudah kuingat bukan hanya karena jabatannya sebagai ketua Dewan Mahasiswa UII tetapi juga cakap dalam penguasaan forum. Tak berapi-api,tak terlalu banyak kata-kata dan tak perlu sedikit-sedikit menyela, tetapi saat bicara terlihat yang lain hening menyimak. Itu tandanya dia memang punya kharisma.

Sosok itu adalah Ridwan Baswedan, yang baru saja meninggalkan kita untuk selamanya pada malam hari pertama Ramadhan lalu. Mas Iwan, biasa dipanggil, waktu reformasi adalah salah satu figur sentral gerakan mahasiswa menentang rezim Orde Baru. Di HMI, nama itu sepantaran dengan tokoh-tokoh intra kampus kader HMI seperti Ridaya Laode Ngkowe (Ketua Senat UGM), Heni Yulianto (Ketua BEM UGM), Ardi Majo Endah (UII), Idrus Syarifuddin (UIN Suka), Lely Khair Nur (UIN Suka), Yana Aditya (UMY) dan nama-nama besar lainnya yang tak mungkin disebut satu per satu.

Pasca reformasi saya masih melanjutkan kuliah di UGM, Mas Iwan sesuai angkatannya, sudah menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Tak banyak kabar saya dengar mengenai Mas Iwan selain bahwa beliau melanjutkan kuliah ke Belanda dan kemudian pulang ke Indonesia berkecimpung di bisnis. Demikian pula saat saya selesai kuliah dan kemudian tinggal di Jakarta, tak sering berinteraksi lagi dengan beliau.

Perjumpaan intens kemudian terjadi mulai tahun 2013 saat Anies Baswedan, yang tiada lain adalah kakak kandungnya langsung, “berlaga” di arena Konvensi Partai Demokrat. Saya kebetulan ikut mengelola relawan Turuntangan yang waktu itu full support Mas Anies. Kami mengorganisir relawan yang jumlahnya tak kurang dari 50 ribu itu. Mas Iwan sering membantu kami. Beliau biasanya hadir saat debat kandidat yang dilangsungkan di beberapa kota. Konvensi telah memberikan pengalaman politik yang tidak sedikit bagi kami.

Saya masih ingat, Mas Iwan biasanya membantu pengorganisasian relawan bersama saya. Pernah ada suatu kejadian menarik, kira-kira 3 tahun yang lalu, waktu itu final debat kandidat di Hotel Sahid, Jakarta (27 April 2014). Dikarenakan ketatnya pengamanan, saya kesulitan untuk memasukkan relawan yang akan masuk menjadi supporter debat. Semua pintu sudah diblok oleh tim pengamanan yang berseragam. Padahal, biasanya saya punya trik-trik tertentu untuk memasukkan relawan ke dalam ruangan, tetapi kali ini semua trik sudah mentok, saya sudah tak mampu menembus.

Beruntunglah waktu itu ada Mas Iwan. Saya minta bantuan beliau untuk “menggertak” balik petugas keamanan. Makanya saya bilang, memang Mas Iwan itu punya kharisma khusus sejak masih mahasiswa dulu. Akhirnya Mas Iwan yang menghadapi tim keamanan tersebut. Beliau sendiri juga yang akhirnya berdiri menahan daun pintu agar tetap terbuka hingga relawan bisa semuanya masuk ke dalam ruangan.

Pasca Konvensi, kami mendapat amanah bergabung dalam tim kampanye Presiden Jokowi. Mas Iwan masih sekali-sekali membantu kami, meski tidak seintensif sebelumnya. Kesibukan bisnisnya mungkin menyita banyak waktunya. Pun saat Mas Anies menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya sebagai staf khusus Menteri, jarang sekali melihat Mas Iwan bertandang ke kantor Kementerian.

Jumlah kunjungannya bisa dihitung dengan jari. Padahal di kementerian lain beberapa kali saya dengan cerita, adik seorang menteri biasanya sering ‘main’ di Kementerian. Tetapi hal ini tidak dilakukannya. Ini yang saya rasakan ciri khas keluarga Baswedan, berusaha selalu menjaga integritas dan tidak saling “ngribeti” ketika ada saudaranya sedang mendapat amanah memimpin di suatu institusi.

Baru ketika Pilkada DKI2017 kemarin, Mas Iwan kembali terlibat intensif. Mas Iwan bergabung dalam tim pemenangan Anies-Sandi dan terjun langsung ke lapangan. Beliau adalah yang mengatur komunikasi dengan relawan, dan termasuk mengatur jadwal kunjungan kampanye Mas Anies. Posisi tersebut memang pas dengan karakter beliau yang memiliki sifat “ngemong” dan mau mendengar. Inilah sifat khas dari Mas Iwan yang kami dan seluruh relawan selalu ingat. Beliau orangnya tidak pernah marah, suka mendengarkan dan menjadi penengah jika ada yang berkonflik. Tahu sendiri, intensitas dan jumlah relawan yang sangat banyak menjadikan percikan-percikan konflik internal tak bisa dihindari. Mas Iwan adalah mediator yang handal, biasanya saya mengandalkan beliau untuk menengahi dan meredakan konflik-konflik tersebut.

Hari itu, menjelang berakhirnya putaran pertama kampanye, saat di lapangan mendampingi Mas Anies kampanye, Mas Iwan merasakan sesak di dada. Hari berikutnya, tepatnya 25 Februari 2017, beliau dirawat di rumah sakit Pondok Indah, kemudian dipindahkan ke RS Harapan dan berakhir di RSCM Salemba. Dokter memvonis beliau terkena serangan jantung yang kemudian berujung pada komplikasi infeksi di paru-parunya.

Saya mendapat pesan dari adindanya, Abdillah Baswedan, agar mengabarkan kepada relawan bahwa Mas Ridwan off dari kampanye karena sedang dirawat. Mohon doa dari seluruh relawan semuanya. Begitulah kira-kira isi pesan yang saya kirim ke grup-grup whatsapp relawan. Para relawan sedih, saat itupun kami sudah mulai merasa kehilangan.

Kami, para relawan, sudah tidak pernah bertemu lagi. Mereka hanya bisa mendoakan melalui majlis Yasinan yang setiap malam Jumat rutin diselenggarakan di Pendopo relawan. Dalam setiap yasinan, kami selalu memastikan agar di penghujung doa, nama Ridwan Rasyid Baswedan bin Abdul Rasyid Baswedan jangan sampai lupa disebut bersama nama-nama yang lain seperti Ayahanda Abdul Rasyid Baswedan, Anies Rasyid Baswedan, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, serta para pahlawan lain serta tokoh-tokoh guru utama di Betawi.

Putaran kedua Pilkada, Mas Iwan sudah tidak bisa bergabung lagi. Meskipun demikian, kami telah mewarisi semangat dan ketulusan niatnya. Di putaran pertama, kami sudah banyak belajar dari Mas Iwan. Di putaran kedua, saatnyalah untuk mempraktikkannya. Kami bergerak penuh semangat dan rancak, sehingga akhirnya diberi kemenangan pada 19 April 2017. Berbeda dengan kami yang melihat gegap-gempitanya, nuansa kemenangan itu tak pernah dirasakan oleh Mas Iwan karena beliau mesti terus ditidurkan dalam perawatannya. Dokter mengatakan, Mas Iwan bukan tidak sadar, tetapi sengaja ditidurkan agar obat pelawan infeksi diparu-parunya bisa bekerja dengan lebih baik.

Pagi itu, sebulan setelah Pilkada, pagi-pagi saya mendengar kabar bahwa kondisi Mas Iwan semakin menurun. Keluarga diminta berkumpul di RSCM. Rapat yang sedianya kami gelar pagi itu, dibatalkan. Dan benar, di RSCM saya lihat kondisinya sudah sangat melemah. Dokter menyampaikan harapan tinggal 5%. Isak-tangis pecah.

Saya sudah merasa akan kehilangan orang yang selama ini sudah seperti kakak sendiri. Orang yang kebaikannya tak pernah bisa dipungkiri karena berasal dari hati. Jumat malam Sabtu, 27 Mei 2017, pukul 00.50 WIB Mas Iwan menghembuskan nafas terakhirnya di bawah bimbingan dan keikhlasan Sang Ibunda Aliyah Alganis. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesunggunya segalanya milik Allah, dan kepada-Nya lah tempat kembali.

Kami telah kehilangan seseorang yang kebaikannya bukan saja dirasakan setelah selesai interaksi, bahkan auranya sudah terasa saat baru pertama kali berkenalan. Kebaikan budi Mas Iwan ini tidak hanya dirasakan oleh kami para relawan saja, mantan sekretaris di perusahaannya yang lebih dari10 tahun bekerjasama dengan beliau juga kagum dengan keluhuran budinya. Dalam sebuah pesan whatsapp yang dikirim ke saya, Mbak Anggi (mantan sekretaris Mas Iwan) menulis begini: “Sepuluh tahun bareng…sudah lebih dari seperti abang sendiri. Tiap hari ketemu. Beneer,… baik banget”.

Selamat jalan Mas Ridwan Baswedan…! Kami menjadi saksi kebaikan-kebaikan yang pernah kau taburkan. Kebaikan-kebaikan itu akan menjadi kendaraanmu menuju ke pangkuan-Nya.

Penulis: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI Periode 2009 – 2011

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment