HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Matinya Nilai Keadaban

Matinya Nilai Keadaban
May 16
21:45 2017

Akhir-akhir ini ruang publik sangat gaduh, ragam masalah dipertengkarkan di ruang publik, masalah itu bukan hanya masalah besar, masalah kecilpun tak luput dari bingkai pertengkaran di ruang publik, bentuknya bisa beragam, mulai dari serangan berupa ujaran kebencian, hingga penggunaan kekerasan fisik, pada saat yang sama, aparat negara seolah tak berdaya meredam kegaduhan yang sungguh tidah produktif itu, atau boleh jadi dalam kasus tertentu sengaja dibiarkan, bila sengaja dibiarkan boleh jadi ini merupakan settingan kelompok elit. Yang terakhir ini sama sekali tidak diharapkan, mari berharap bahwa prasangka terakhir tidak benar, walaupun indikasinya ada dan cukup benderang.

Konflik di ruang publik, yang mulai terlihat kasar, serta mematikan nurani dan akal sehat, merupakan cerminan bahwa kita semakin jauh dari nilai keadaban, bahkan boleh jadi nilai keadaban kita telah mati, semestinya hal ini dilihat sebagai sebuah masalah serius, masalah ini jauh lebih serius daripada rebutan klaim kebenaran di ruang publik, terlebih bila klaim itu didasarkan pada orientasi jangka pendek. Sikap yang sehat berasal dari nurani dan akal yang sehat, akan sangat beda bentuk sikap yang diproduk dari nurani dan akal yang sehat, dibandingkan sikap yang lahir dari nurani yang sakit dan akal yang sakit, nurani yang sakit dan akal yang sakit hanya melahirkan sikap yang sakit pula.

Ciri utama sikap yang sakit adalah kecenderungan untuk terlalu mudah mengklaim kebenaran, dan pada saat yang sama terlalu berhasrat menyerang kelompok yang dituduh keliru. Bila suatu kelompok sudah berada di level ini, maka mereka akan berprilaku layaknya api, membakar apa saja, bahkan membakar peraduannya sendiri, rumahnya sendiri, menyerang siapa saja, bahkan teman dan keluarganya sendiri yang dianggap bertentangan dengan klaim kebenarannya, segala cara akan dipakai, dimulai dari kekerasan psikologis berupa pembunuhan karakter, serangan ini dibungkus dengan berbagai macam cara, termasuk dengan mengemas fitnah yang terlampau hoax, bila cara pertama tidak berhasil, maka level serangan akan dinaikkan, yakni berupa penggunaan kekerasan fisik, suatu tindakan yang sungguh barbar.

Matinya nilai keadaban merupakan lonceng peringatan serius bagi keberlangsungan tatanan masyarakat yang telah susah payah dibangun, keharmonisan yang susah payah dibangun terancam rontok begitu saja, kebhinekaan yang susah payah dikuatkan terancam rusak parah, upaya untuk mencapai peradaban yang tinggi terancam bubar di tengah jalan. Betapa besar harga yang harus dibayar akibat merajalelanya sikap yang sakit, situasi menjadi semakin runyam karena mereka yang mengidap sikap yang sakit justru merasa sangat sehat, saat seorang sakit merasa dirinya sehat maka itu merupakan puncak tertinggi dari sebuah penyakit, menyembuhkannya tentu tak mudah, apalagi bila penyakit itu dianggap sebagai prinsip yang harus dipertahankan dengan segala cara.

Situasi yang terjadi sekarang boleh disebut sebagai zaman api, orang-orang lebih tertarik memperbesar nyala api daripada memadamkannya, orang-orang lebih rela membakar rumahnya yang bernama Indonesia daripada meyelamatkannya, dalam situasi seperti ini orang-orang yang masih memiliki nurani dan akal sehat harus bergerak, mereka tak boleh hanya menjadi penonton kegaduhan ini, gerakan itu bukan berarti diterjemahkan dalam bentuk membela salah satu kelompok yang bertikai, kesalahan masing-masing berada di kedua belah pihak, yang perlu dilakukan adalah berupaya meredam ego kedua kelompok lalu mengajak mereka melihat sumber masalah secara jernih, agar hal itu bisa terjadi maka kita harus keluar dari kotak yang selama ini mengotak-ngotakkan kita.

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

 

About Author

redaksi

redaksi

redaksi@hminews.com

Related Articles

1 Comment

  1. Rifaldi Rahalus
    Rifaldi Rahalus May 16, 22:57

    Api harus dilawan dengan air

    Reply to this comment

Write a Comment