HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Ada Yang Hilang, Begitu Dekat, Tepat di Depan Jari-Jemari Kita

Ada Yang Hilang, Begitu Dekat, Tepat di Depan Jari-Jemari Kita
May 28
21:11 2017

Ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi, tepat di depan jari-jemari kita, begitu dekat, dan kita masih saja seolah-olah tidak tahu dan tidak mau tahu. Padahal problematika kebangsaan dan kernegaraan kita berada di ambang batas kebhinekaan, yang dimana kerukunan antar umat, suku, ras maupun etnis semakin memanas dan terpecah.

Orang kepercayaan dari kita yang duduk di pemerintahan masih saja sibuk dengan kepentingan politik. Mungkin untuk partai politiknya, mungkin. Atau mungkin lagi, di balik kekacauan integritas ini, selayaknya sebuah drama yang telah diskenariokan oleh sang sutradara, mereka yang melihat permainan drama kita sedang tertawa terbahak-bahak. Sesuai dengan rencana dan naskah cerita.

Jujur ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi ini, begitu dekat, tepat di depan jari-jemari kita. Sedang mahasiswa yang notabene diberkati gelar adiluhung sebagai agen of change, of control dan sebagai macamnya itu, masih saja sibuk mencari hastag populer ketika memposting status di “Instragram“. Untuk menambah followers, katanya.

Mungkin benar juga apa yang pernah ditulis oleh Muhammad Al-Fayadl pada tanggal 09 Maret 2017 lalu, di facebook-nya; “andaikan saja mahasiswa tidak dilenakan oleh seminar-seminar motivasi, tidak dilarang membaca buku-buku kritis, dan tidak sibuk dengan kegalauan-kegalauan kejombloan asmara yang bermentalitet borjuis kecil, mungkin akan berbeda ceritanya.” Iya, mungkin.

Ada yang benar-benar telah hilang di tengah masif arus informasi teknologi ini, rasa kebhinekaan. Iya, kehilangan rasa kebhinekaan di tengah masalah politik indentitas saat ini. Semua berkomentar tanpa mengerti batas. Tanpa lagi menengok dan memperdulikan keberagaman, dan tanpa lagi mengacu pada toleransi dan bhineka tunggal ika. Atas nama kebebasan hak, katanya.

Padahal kita sama-sama tahu bahwa, menerima takdir berbangsa dan bernegara di Indonesia, berarti harus siap pula menerima kenyataan keberagaman dari berbagai segi perbedaan. Menerima NKRI, berarti harus siap pula menerima bentuk negara ini terdiri atas wilayah yang luas dan tersebar dengan bermacam adat, suku, etnis, keyakinan serta budaya yang berbeda. Dan menerima sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia, berarti kita harus siap pula bersikap toleran dan terbuka. Bukan malah saling menghujat, mengintimidasi, dan bahkan sampai mendiskriminasi.

Mari kita bersama-sama merefleksikan diri, siapakah diri kita yang telah berani menghujat, mengintimidasi dan mendiskriminasi ini? Padahal kita benar-benar tidak pernah merasa meminta untuk dilahirkan, tetapi tahu tidak menahu kita langsung ada. Tidak kah dari perihal ini kita menyadari bahwa, kita hanyalah momen pendek dalam sebuah kontemplasi yang mencoba sangat rasional di tengah ruang yang begitu dingin dan sekaligus panas. Makhluk yang tidak mempunyai kekuatan, serta tidak punya daya dan upaya untuk melegitimasi kebenaran sejati dengan mengatasnamakan Tuhan. Kita hanya mendapat cipratan dari-Nya dan menafsirkan saja.

Tidakkah pula kita sama-sama berpikir bahwa, keberagaman yang ada di negeri ini merupakan keniscayaan Tuhan? Sudah menjadi ketetapan-Nya. Karena benar-benar tidak ada makhluk dan ciptaan di muka bumi ini diciptakan Tuhan dengan kesamaan yang benar-benar sama. Bahkan anak kembar pun walaupun dibilang mirip, pastinya memiliki sisi perbedaan. Tidak sama. Jadi menerima eksistensi Tuhan, berarti menerima keberagaman pula.

Untuk kita semua sebagai rakyat Indoneisa, apakah kita sudah kehilangan kesadaran dan pikiran tehadap kecintaan kita pada negeri ini? Sehingga dari kita telah kehilangan rasa bersikap selayaknya hidup berdampingan dalam nuansa keberagaman berbangsa dan bernegara seperti pendahulu kita sebelumnya. Berbangsa dan bernegara lewat cover toleransi dan kebhinekaan.

Marilah segenap rakyat di negeri Indonesia, mencoba merenungkan pesan yang disampaikan Emha Ainun Najib (Cak Nun) pada 23 Mei 2017 di I.L.C: “Kalau kita naik bus, rasa kita itu rasa bus, bukan rasa colt, atau lainnya. Jadi cara berpikirnya dan cara berhitungnya, ya bus. Mau belok di perempatan dan mau nyalib, kita harus tahu besarnya bus. Jadi cara berpikir orang naik bus adalah cara berpikir bus. Kalau kita orang NKRI, sikap kita harus sikap NKRI. Dan cara berpikir kita pun harus cara berpikir NKRI, bukan cara berpikir golongan, PDIP, Golkar, Nasdem, Hizbut Tahrir, dan lainnya”.

Sebagai penutup, dengan meminjam kalimat dari sepenggal puisi Ahmad Wahib, tulisan opini ini hanyalah sekadar opini tanpa isi. Jikapun opini ini disebut prosa, ini hanyalah sekadar cetusan tanpa rasa. Tetapi, benar-benar ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi di negeri ini, dimana perpecahan dan kekerasan atas nama SARA sedang merusak tenun kebangsaan dan kenegaraan, begitu dekat, tepat di depan jari-jemari, dan kita masih saja seolah-olah tidak tahu dan tidak mau tahu. Sedangkan mahasiswa masih sibuk mencari hastag populer.

Penulis: Sirojul Lutfi, Kader Aktif HMI Komisariat FTI UII (2012)

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment