HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Mengenang Ridwan Baswedan: Selamat Jalan, Orang Baik

Mengenang Ridwan Baswedan:  Selamat Jalan, Orang Baik
May 27
21:22 2017

Tahun 2008, di taxi, hp saya berdering. Telepon masuk dari Mas Anies Baswedan. “Yogie, sekarang tinggal tiga hari sebelum hari pernikahan Ridwan, tapi kita belum mendapat konfirmasi kehadiran Wapres Pak Jusuf Kalla. Tolong Yogie atas nama keluarga koordinasi dengan istana”, demikian pesan Mas Anies dari ujung sana. Anies Baswedan, Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan adalah tiga bersaudara.

Saya menghubungi beberapa kontak, besoknya langsung rapat dengan protokol istana. Saya hadir bersama Abdillah dan sekretaris Mas Ridwan bernama Anggie Affan. Pak JK confirmed hadir, detail keperluan untuk menyambutnya langsung disiapkan dalam dua hari.

Alhamdulillah, kehadiran beliau di pernikahan Mas Ridwan sesuai harapan. Saya mendampingi Mas Anies beserta istrinya, Mbak Ferry Farhati Ganies, menyambut Pak JK dan istri di pintu masuk Graha Niaga.

Saya ingat, sepatu Bu Mufidah Kalla sempat tersangkut kabel yang kurang rapi di koridor penyambutan. Beliau sedikit kaget kala itu. Paspampres sigap menahan Bu Mufidah Kalla agar tidak terpeleset.

Dari pelaminan di samping mempelai wanita yang cantik jelita, Mas Ridwan melirik saya sambil tersenyum lebar sumringah. Alis matanya sampai terangkat. Dia terlihat jelas bahagia sekali.

Saya membalasnya dengan tersenyum lega dan mengacungkan jempol. Dalam hati terucap: tugas sudah saya kerjakan.

Untuk hadir di pernikahan itu, saya beli batik lengan panjang di Ramayana Depok. Batik murah meriah, yang penting terlihat baru. Jas saya sudah tidak layak pakai, berumur sekitar lima tahun.

Saya mengenal Mas Ridwan 19 tahun lalu. Waktu itu para eksponen gerakan mahasiswa 98 masih melangsungkan konsolidasi pasca jatuhnya Suharto dan menggagas kelompok bernama Majelis Reformasi Total (MRT). Saya baru masuk kuliah dan mungkin karena keaktifan saya di forum-forum mahasiswa, saya diajak oleh eksponen 98 ikut beberapa kali pertemuan MRT.

Dua nama yang paling awal menjadi mentor saya di dunia pergerakan adalah mantan Ketua Senat Mahasiswa UMY Bang Cahyadi Jogjakarta dan mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa UMY Mas M Yana Aditya. Melalui mereka, saya masuk ke jaringan eksponen 98, lalu proses itu mendorong kiprah saya lebih lanjut kemudian hari di HMI.

Kali pertama MRT mengadakan pertemuan di Solo. Mas Ridwan selaku mantan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UII turut hadir. Saya ikut di mobilnya dari Yogyakarta ke Solo, bersama beberapa yang lain.

Mas Ridwan bukan tipe aktivis yang senang bicara. Dia hanya bicara seperlunya, tapi berisi. Tata kramanya tinggi, sebagaimana tabiat di keluarga Baswedan. Demikian juga saat diskusi di MRT, saya mengingat Mas Ridwan sebagai figur aktivis yang dihormati oleh teman-temannya sesama aktivis. Cara berpikir dan bicaranya tertata rapi dan selalu perlu untuk didengar.

Dari situ saya mengenal Mas Ridwan. Sebagai kader yang lebih muda, saya proaktif memelihara komunikasi dengan para pendahulu di gerakan mahasiswa, termasuk Mas Ridwan.

Sampai dia melanjutkan studi di Leiden University, Belanda. Saya menunggu-nunggu waktu dia pulang untuk berlibur atau keperluan lain. Saya selalu memantau dan mencari peluang untuk bertemu lagi.

Dari dulu, saya sangat senang dan menikmati silaturahmi dengan para senior pergerakan. Tidak jarang, saya temui mereka di kota-kota luar Yogyakarta hanya untuk bertukar pikiran dan menimba pengalaman.

Sampai datang satu kesempatan, Mas Ridwan pulang ke Yogyakarta. Saya langsung telepon dia, kami berbincang lama. Waktu itu saya sudah diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

“Bagaimana rasanya kuliah di Belanda? Apa beda pendidikan kita dengan Belanda? Apakah di sana sambil bekerja? Bagaimana orang Belanda melihat perkembangan terkini di Indonesia?”, berbagai pertanyaan dan keingintahuan saya utarakan kepada Mas Ridwan. Dia menjawab semuanya. Pembicaraan di telepon tersebut mengalir lebih dari satu jam. Rasanya diskusi masih kurang.

Hingga saya meminta Mas Ridwan untuk berdiskusi lebih banyak di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta, di Karangkajen. Tiba di sekretariat, Mas Ridwan berkata sambil senyum, “Baru kali ini saya diundang menjadi pembicara di HMI Cabang Yogyakarta. Biasanya dulu diundang rapat saja sebagai staf Bidang PTK (Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan)”. Mas Ridwan memang pernah menjadi staf Bidang PTK HMI Cabang Yogyakarta. Diskusi tentang pengalamannya mengenyam pendidikan di Belanda menjadi salah satu pemantik kami untuk lebih mendorong kader-kader HMI membangun orientasi melanjutkan studi ke luar negeri.

Tahun 2004 saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia (LKDI). Usai studi di Belanda, Mas Ridwan juga memulai kiprah bisnisnya di Jakarta. Selang beberapa waktu kemudian dia menjadi Direktur PT KDK Technologies. “Saya businessman, Yogie. Saya marketer”, ujarnya suatu saat. Ya, dia memilih menapaki jalur profesional sebagai pebisnis.

Beberapa kali saya ke kantornya untuk sekedar silaturahmi dan berbagi informasi. Saya menangkap kesan Mas Ridwan punya tekad kuat berbisnis, tapi saya juga merasakan tantangan yang dia hadapi tidak mudah meski dia tidak mengungkapnya. Dia tidak menyerah. Sikapnya terkontrol dalam menghadapi tekanan dan masalah.

Dan dia seorang dermawan. Salah satu kisah pernah ketika sekembali kami dari Puncak menuju Jakarta, sebagaimana lazimnya obrolan berdua, saya bercerita tentang suatu keadaan sulit yang sedang saya jalani. Seketika dan tiba-tiba, Mas Ridwan menghentikan mobil di depan mesin ATM yang kami lalui, dia tarik tunai sejumlah uang dan diberikan untuk saya.

“Yogie, ini untuk keperluan yang Yogie ceritakan tadi”, katanya sambil tersenyum. Saya kaget dan merasa tidak enak hati. “Maaf, Mas Ridwan. Saya cerita tadi bukan untuk minta bantuan uang. Kita kan lagi ngobrol biasa”, saya berusaha menolak. Tapi Mas Ridwan tak bergeming, dia dengan santun tetap minta saya menerima uang darinya. Tidak lupa dia belikan saya talas dan pisang tanduk yang berjejer sepanjang jalanan Puncak menuju Jakarta.

Kami pernah ke Labuan Banten, mengunjungi proyek pembangunan PLTU. Menikmati makan siang dengan menu urab dan udang bakar yang nikmatnya masih teringat sampai sekarang. Ikhtiar untuk mengembangkan bisnisnya pernah kami lakukan bersama.

Februari 2017 lalu, saya makan siang berdua Mas Ridwan di TIM Cikini, menjelang pencoblosan putaran pertama pilgub DKI Jakarta. Dia banyak cerita tentang perjuangan dan susah payah tim pemenangan Anies-Sandi di lapangan, termasuk keterlibatannya secara langsung untuk menggalang dukungan bagi sang kakak.

Lelah dapat saya lihat dari rautnya. Tapi tetap lebih nampak dominan semangatnya. Mas Ridwan tidak pernah mengeluh. “Yang kita lawan ini kekuasaan”, ujarnya sambil menerawang. Saya lebih banyak menyimak sambil menyeruput es kacang merah di siang terik itu. Diam-diam saya mengagumi watak pekerja keras dan pejuangnya, seperti watak Baswedan-Baswedan yang lain.

Tak lama setelahnya, tanpa sengaja saya berjumpa Abdillah Baswedan di bandara Soekarno Hatta. Saya sampaikan bahwa pesan wa saya tidak Mas Ridwan balas. Abdillah hanya bilang Mas Ridwan kurang sehat.

Hanya sekitar satu hari kemudian, saya mendapat kabar Mas Ridwan terkena serangan jantung. Saya belum pernah menjenguknya karena menurut informasi, dia butuh perawatan intensif dan istirahat total. Saya hanya mendo’akan untuk kesehatannya.

Hari ini Sabtu 27 Mei 2017 saat bangun sahur di hari pertama Ramadhan 1438 H, berita duka itu datang dari pesan wa. Mas Ridwan telah berpulang ke rahmatullah setelah tiga bulan menjalani perawatan.

Saya termenung cukup lama. Kepergiannya terasa terlalu cepat. Sampai saat membangunkan anak, saya bukan bilang agar bangun sahur, tapi saya bilang: “Teman ayah meninggal, adiknya Mas Anies meninggal”. Izzan bergegas bangun, “Beneran, Yah?”. Lalu istri juga saya kabarkan.

Siang tadi, saya turut mengantar ke peristirahatan terakhir Mas Ridwan di TPU Tanah Kusir. Banyak aktivis, sahabat, senior dan tokoh hadir di sana.

Saya banyak melamun selama prosesi pemakaman. Memandang jenazahnya, mengenang hubungan baik dengan almarhum. Saat saya berpamitan, Mas Anies yang didampingi Abdillah berkata, “Yogie, tolong maafkan kalau Ridwan ada salah”. Saya hanya menjawab, “Mas Ridwan orang baik”.

Selamat menjumpai Allah SWT di hari dan bulan yang indah ini, Mas Ridwan. Insya Allah husnul khatimah.

Penulis: Yogie Maharesi, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2002 – 2003

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment