HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Muslim Nyanmar Ditekan Dengan Aturan Ketat Selama Ramadhan

Muslim Nyanmar Ditekan Dengan Aturan Ketat Selama Ramadhan
May 29
13:45 2017

HMINEWS.COM, Muslim di Myanmar tengah menghadapi pembatasan ketat untuk beribadah saat Ramadhan dimulai. Hal tersebut sebagaimana dilaporkan Kelompok hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW). Tekanan terhadap umat Islam yang saat ini terlihat secara jelas di beberapa wilayah, termasuk Yangon, yang merupakan bekas Ibu Kota negara itu.

Umat Muslim selama ini menjadi salah satu minoritas penduduk di Myanmar dengan mayoritas Budhha. Namun, di saat komunitas agama ini meningkat dalam kurun waktu beberapa tahun lamanya, banyak orang Islam di sana yang semakin sulit untuk beribadah karena masalah keamanan.

Peneliti dari HRW Richard Weir mengatakan beberapa wilayah di Yangon diantaranya Thaketa adalah salah satu contoh di mana Muslim mendapat perlakukan diskriminatif. Di sana, penutupan dua sekolah Islam atau dikenal sebagai madrasah juga sempat terjadi pada akhir bulan lalu.

Penutupan madrasah di Thaketa terjadi setelah kelompok ultranasionalis Budha menekan pihak berwenang untuk melakukan tindakan tersebut. Pada saat itu, HRW telah meminta Pemerintah Myanmar untuk kembali membuka sekolah Islam tesebut, namun tidak dihiraukan.

Sekretaris Jenderal Dewan urusan Agama Islam di Myanmar, Wunna Shwe mengatakan penutupan sekolah tersebut bukanlah hal baru di negara itu. Ini juga dapat terjadi kepada kelompok agama minoritas lainnya di sana, seperti umat Kristen.

“Menurut pengalaman kami, madrasah yang disegel atau ditutup tidak pernah akan dapat dibuka kembali,” ujar Shwe dilansir Asian Correspondent, Ahad (28/5).

Kelompok ultranasionalis Buddha mengatakan alasan penutupan sekolah Islam dilakukan karena di sana tidak seharusnya ada kegiatan ibadah shalat. Kepala madrasah tersebut menurut mereka juga telah menandatangani dokumen yang menyatakan setuju terhadap hal itu pada Oktober 2015 lalu.

Banyak warga Muslim di Thaketa yang mengatakan mereka mendapat izin untuk melaksanakan ibadah sholat di madrasah tersebut selama Ramadhan. Dengan adanya penutupan itu, tahun ini mereka harus mencari rumah ibadah Masjid lain yang cukup jauh dari wilayah tersebut.

“Masjid terdekat yang ada dari wilayah Thaketa harus ditempuh  30 menit dengan berjalan kaki. Sangat sulit adanya rumah ibadah yang dekat karena untuk membangun Masjid di Myanmar diperlukan izin khusus yang prosesnya cukup lama,” ujar ketua kelompok Muslim Myanmar, Kyaw Khin.

Pemerintah Myanmar selama ini juga diketahui menetapkan pembatasan untuk pembangunan maupun renovasi rumah ibadah. Termasuk juga memperketat adanya praktek agama dari kelompok-kelompok minoritas di negara tersebut.

Hingga saat ini, warga di Thaketa harus menghabiskan waktu untuk mencapai masjid terdekat. Belum lagi, ketika Ramadhan, dengan jumlah rumah ibadah yang minim, mereka harus berdesak-desakan untuk menunaikan ibadah sholat.[]

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment