HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Rekonstruksi Kesadaran Mahasiswa

Rekonstruksi Kesadaran Mahasiswa
April 09
22:20 2017

Dewasa ini, banyak sarjana yang memang tidak dapat peluang untuk mengimplementasi kesarjanaannya, mereka juga tak bisa menjalankan peran mahasiswa  sebagai agent of change (agen perubahan). Ada ketidaksesuaian dalam pergerakan mahasiswa saat ini,  independensi mahasiswa mulai larut dalam politik praktis, sehingga mudah diintervensi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, juga fenomena minimnya tanggung jawab mahasiswa terhadap kondisi kebangsaan yang jauh berbeda dengan pergerakan mahasiswa era orde lama dan orde baru, tentu ini menjadi PR besar yang harus segera dicarikan solusinya.

Dilihat dari data statistik, jumlah pengangguran tahun 2016  mencapai 430 ribu jiwa, dengan jumlah pengagguran yang fantastis, sebetulnya menjadi tugas yang berat, butuh kerja nyata dari pemerintah, perguruan tinggi, serta semua elemen yang bergerak di bidang pemberdayaan SDM, agar mampu bersaing di era pasar bebas ini. Kita lihat pula persaingan yang begitu ketat di era pasar bebas, yang mana Indonesia menjadi objek penyaluran tenaga kerja asing, sedangkan masyarakat Indonesia pun masih banyak yang menganggur. Tentu ini menjadi pukulan keras bagi perguruan tinggi untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi serta kualifikasi yang mendukung. Begitupun pemerintah yang mempuyai  kebijakan harus sadar betul dengan kondisi pengangguran, serta memberikan solusi konkrit sesuai dengan amanat undang undang, mahasiswa juga dituntut untuk memberikan problem solving atas kondisi tesebut.

Kesadaran tentu menghasilkan tindakan yang tepat, begitupun mahasiswa harus sadar betul dengan status yang disandangnya, tentu tidak semua orang mampu menikmati pendidikan di perguruan tinggi, dengan kesadaran inilah mahasiswa nantinya bertanggung jawab penuh atas keilmuan yang dipelajari, serta diimbangi dengan implementasi dan karya untuk menjadi alternatif atas problem pengangguran yang menggurita, jika mahasiswa sekarang cenderung apatis maka perlu banyak usaha berkelanjutan untuk membentuk karakter building secara masif.

Revolusi mental mahasiswa perlu digalakkan, ini dapat diartikan sebagai perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang, artinya bahwa karakter mahasiswa harus dibentuk sedari awal. Agar mereka mengetahui peran dan fungsi sebagai pembawa perubahan, maka perlu dibuat kegiatan-kegiatan yang bersifat pembelajaran akademis maupun non akademis. Yang dibutuhkan adalah sinergi antara pengelola pendidikan di jenjang perguran tinggi, dengan peserta didiknya yakni mahasiswa. Dari hubungan yang baik dan pola komunikasi timbal balik banyak capaian yang bisa direalisasikan.

Disamping itu harus dipertanyakan tanggung jawab keilmuan dosen, jika dosen pada hari ini hanya mementingkan status serta orientasinya terhadap jabatan dan profit, maka ini perlu dikoreksi, sebagai patner mahasiswa seharunya dosen lebih intens dan kreatif dalam menyampaikan ilmu sesuai dengan bidangnya, karena dosen memililki peran yang sangat mendasar dalam membentuk mahasiswa yang akademis, pencipta, pengabdi yang memiliki integritas tinggi. Perguruan tinggi seharusnya cermat dalam memilih pendidik yang benar-benar memiliki kompetensi layak dalam bidangnya, hal ini juga membantu pencapaian Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Penulis: : Hanif Ibnu Ramadhan, Ketua Dema Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Peradaban

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment