HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Rekonstruksi Kesadaran Mahasiswa

Rekonstruksi Kesadaran Mahasiswa
April 09
22:20 2017

Dewasa ini, banyak sarjana yang memang tidak dapat peluang untuk mengimplementasi kesarjanaannya, mereka juga tak bisa menjalankan peran mahasiswa  sebagai agent of change (agen perubahan). Ada ketidaksesuaian dalam pergerakan mahasiswa saat ini,  independensi mahasiswa mulai larut dalam politik praktis, sehingga mudah diintervensi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, juga fenomena minimnya tanggung jawab mahasiswa terhadap kondisi kebangsaan yang jauh berbeda dengan pergerakan mahasiswa era orde lama dan orde baru, tentu ini menjadi PR besar yang harus segera dicarikan solusinya.

Dilihat dari data statistik, jumlah pengangguran tahun 2016  mencapai 430 ribu jiwa, dengan jumlah pengagguran yang fantastis, sebetulnya menjadi tugas yang berat, butuh kerja nyata dari pemerintah, perguruan tinggi, serta semua elemen yang bergerak di bidang pemberdayaan SDM, agar mampu bersaing di era pasar bebas ini. Kita lihat pula persaingan yang begitu ketat di era pasar bebas, yang mana Indonesia menjadi objek penyaluran tenaga kerja asing, sedangkan masyarakat Indonesia pun masih banyak yang menganggur. Tentu ini menjadi pukulan keras bagi perguruan tinggi untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi serta kualifikasi yang mendukung. Begitupun pemerintah yang mempuyai  kebijakan harus sadar betul dengan kondisi pengangguran, serta memberikan solusi konkrit sesuai dengan amanat undang undang, mahasiswa juga dituntut untuk memberikan problem solving atas kondisi tesebut.

Kesadaran tentu menghasilkan tindakan yang tepat, begitupun mahasiswa harus sadar betul dengan status yang disandangnya, tentu tidak semua orang mampu menikmati pendidikan di perguruan tinggi, dengan kesadaran inilah mahasiswa nantinya bertanggung jawab penuh atas keilmuan yang dipelajari, serta diimbangi dengan implementasi dan karya untuk menjadi alternatif atas problem pengangguran yang menggurita, jika mahasiswa sekarang cenderung apatis maka perlu banyak usaha berkelanjutan untuk membentuk karakter building secara masif.

Revolusi mental mahasiswa perlu digalakkan, ini dapat diartikan sebagai perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang, artinya bahwa karakter mahasiswa harus dibentuk sedari awal. Agar mereka mengetahui peran dan fungsi sebagai pembawa perubahan, maka perlu dibuat kegiatan-kegiatan yang bersifat pembelajaran akademis maupun non akademis. Yang dibutuhkan adalah sinergi antara pengelola pendidikan di jenjang perguran tinggi, dengan peserta didiknya yakni mahasiswa. Dari hubungan yang baik dan pola komunikasi timbal balik banyak capaian yang bisa direalisasikan.

Disamping itu harus dipertanyakan tanggung jawab keilmuan dosen, jika dosen pada hari ini hanya mementingkan status serta orientasinya terhadap jabatan dan profit, maka ini perlu dikoreksi, sebagai patner mahasiswa seharunya dosen lebih intens dan kreatif dalam menyampaikan ilmu sesuai dengan bidangnya, karena dosen memililki peran yang sangat mendasar dalam membentuk mahasiswa yang akademis, pencipta, pengabdi yang memiliki integritas tinggi. Perguruan tinggi seharusnya cermat dalam memilih pendidik yang benar-benar memiliki kompetensi layak dalam bidangnya, hal ini juga membantu pencapaian Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Penulis: : Hanif Ibnu Ramadhan, Ketua Dema Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Peradaban

About Author

redaksi

redaksi

redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment