HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Telaah Ringkas Novel Kau Bidadari Surgaku

Telaah Ringkas Novel Kau Bidadari Surgaku
April 14
22:10 2017

HMINEWS.COM, Secara genre, novel Kau Bidadari Surgaku, termasuk dalam novel religi, atau novel islami, salah satu genre novel yang belakangan mulai populer, novel ini pada dasarnya tidak rumit, pembaca dari berbagai kalangan, akan mudah menemukan pesan dibalik teks novel tersebut, hal ini karena paparannya terbilang sederhana, gamblang, serta tak berbelit – belit, penulisnya mencoba mengangkat realitas sosial di sekitar kita, kejadian yang sering terjadi di lingkungan perkotaan, khususnya kota metropolitan, setting cerita mengambil tiga tempat: Jakarta, Bandung dan Kroya, novel ini menyajikan dilema kaum perempuan yang mencoba keluar dari ingkungan kerja yang telah merusak dirinya, apa yang dialami Marwah, sang tokoh utama, juga banyak dialami perempuan lain yang merantau ke ibukota, bahkan banyak diantara mereka yang menjadi korban perdagangan manusia, nasib Marwah masih lebih beruntung, ia sebatas menjadi wanita panggilan, aktifitas yang di kemudian hari ia tinggalkan.

Minimal ada dua sisi kehidupan yang dikupas dalam novel ini: agama dan kompleksitas sosial, agama menjadi topik utama dari ke duanya, bahkan beberapa Ayat Al Qur’an menghiasi novel ini, Marwah digambarkan sebagai tokoh utama yang mencoba kembali ke jalan Islam, dalam usahanya ini, ia terlibat pertarungan sengit dengan dirinya sendiri, antara tetap menjadi wanita panggilan dengan bergelimang uang, uang itu ia butuhkan demi menjaga status keluarganya di kampung agar tetap dihormati, atau kembali menjadi muslimah taat, dengan konsekuensi kehilangan uang yang selama ini didapat secara instan, lalu memulai hidup dari nol, semua berawal saat Marwah bertemu Hamzah, laki – laki yang menginspirasinya untuk kembali ke jalan benar, sekaligus ia memendam cinta diam – diam pada lelaki tersebut, dilema yang dialami Marwah untuk kembali ke jalan lurus, merupakan sindiran terhadap realitas masyarakat terkini, bagi masyarakat, orang yang telah dilabeli negatif, cenderung dijauhi, seolah tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk insaf, situasi ini menyebabkan orang bersangkutan, menjadi semakin nyaman dalam zona kesalahan.

Dari sisi kompleksitas sosial, novel ini menyajikan sisi kelam hidup di ibukota bagi mereka yang tidak punya keterampilan hidup, ini pula yang melanda Marwah, dengan maksud mengangkat kualitas hidup keluarga, ia lalu merantau ke ibukota, malangnya dirinya justru menjadi korban penipuan dari oknum yang menjanjikannya menjadi pembantu, situasi sulit ini, memaksa Marwah menerjunkan diri ke dalam dunia kelam, walaupun telah diperingati sahabatnya, shinta, namun saat itu ia merasa tak punya pilihan lain, novel ini juga menggambarkan betapa kejamnya dunia malam, selalu ada potensi menjadi korban kejahatan lain, itu yang dialami Shinta, saat ia harus berurusan dengan pihak berwajib karena dikaitkan kasus korupsi, walaupun ia sekadar menemani tamunya saja, yang ternyata seorang koruptor, saat digeledah KPK, ada ragam kompleksitas sosial yang disinggung dalam Bidadari Surgaku, bukan hanya korupsi, tapi juga kenaikan BBM dan rumitnya kehidupan kaum miskin, bagian ini memang tidak menjadi cerita utama, namun pesan sosialnya tetap tersampaikan.

Penulis, dalam novelnya, berupaya menyajikan pemahaman keislaman yang moderat, terbuka terhadap perbedaan tafsiran, juga penghargaan terhadap agama lain, penulis melihat Islam dari sisi keberagaman, sekaligus mengkritik pemahaman Islam yang sangat literal, hal itu tertuang saat tokoh utama menanggapi prilaku adiknya, sepertinya penyajian ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan penulis, terutama latar belakang pemahaman keislamannya yang disemai di lingkungan pesantren.

Nuansa asmara terlihat kental dalam novel ini, nuansa asmara tersebut dibalut dalam konteks Ajaran Islam, boleh dikata asmara menjadi bahan perbincangan dominan dalam Bidadari Surgaku, modelnya terbilang klasik, menceritakan cinta segitiga, antara Marwah, Hamzah dan Shafa, pilihan Hamzah terhadap Marwah, yang notabenenya keluarga kelas atas, ditambah rekam jejak kelam Marwah di masa lalu, serta penolakannya terhadap Shafa, yang berasal dari keluarga konglomerat, juga merupakan drama cinta klasik, yang membuat drama cinta mereka menjadi berbeda, karena drama cinta ini terekspresikan dalam bentuk ajaran Islam, mulai saat Hamzah memiliki rasa terhadap Marwah, begitupun sebaliknya, Marwah yang menaruh harapan pada Hamzah, namun Hamzah tak sekalipun menyentuh Marwah dalam mengekspresikan cintanya, apalagi memacarinya, justru Hamzah memilih melamar Marwah setelah merasa cukup kenal dengannya, cara ini sengaja digambarkan secara jelas, untuk menampik anggapan bahwa pacaran merupakan cara satu – satunya menuju pelaminan, bahkan ada beberapa kalimat kritikan terhadap konsep pacaran dalam novel ini.

Benar novel ini terlihat sederhana, tapi beberapa bagian ceritanya tidak mudah ditebak begitu saja, pada beberapa bagian, terdapat beberapa kejadian, yang bisa menampik prediksi mapan pembaca, semisal diagnosa palsu yang diberikan dokter kepada Marwah, ketidaktenangan Hamzah dalam mengambil keputusan, sehingga berujung pada penalakan istrinya, padahal sejak awal, Hamzah digambarkan sebagai sosok tenang dan matang, hingga meninggalnya Marwah sesaat setelah Hamzah menyadari kekeliruannya, dan juga mencabut talaknya, semua ini terjadi pada bagian akhir cerita, jika mengikuti prediksi mapan, maka pembaca bisa saja beranggapan bahwa puncak konflik, berada pada tarik ulur lamaran Hamzah ke Marwah, setelah itu mereka hidup bahagia hingga tua, namun prediksi semacam itu, tidak berlaku untuk novel ini, justru di bagiaan setelah pernikahan, penulisnya menyajikan drama ringan yang justru merupakan klimaks dalam novel ini, dan disinilah nilai lebih Kau Bidadari Surgaku dari segi alur cerita.

Penulis: Zaenal Abidin Riam

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment