HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Mahasiswa UB Ciptakan Teknologi Bantu Reproduksi Lobster

Mahasiswa UB Ciptakan Teknologi Bantu Reproduksi Lobster
March 21
10:15 2017

HMINEWS.COM, Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) Malang menciptakan teknologi yang mampu membantu lobster untuk bereproduksi (menetaskan) telur lobster, yakni Aqua Culture Control System (Aquatech).

Hendra, penemu Aquatech mengatakan, inovasi ini bisa membantu lobster menetaskan telur dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 persen.

“Saya merasa tergugah untuk membantu nelayan yang selama ini kurang maksimal dalam budi daya lobster,” kata Hendra di Malang,  Selasa (21/3).


Selama ini, kata dia, tingkat keberhasilan lobster bereproduksi di alam bebas hanya mencapai 25 persen. Salah satu penyebab gagalnya reproduksi lobster adalah makin rusaknya terumbu karang yang menjadi tempat lobster bereproduksi.

Hendra yang dibantu dua temannya itu, yakni Ibrahim Hasan (FT) dan Vian Dedi (alumni UB) mengatakan bahwa di Jawa Timur ada sekitar 70 persen terumbu karang yang rusak.

Oleh karena itu, dirinya berinisiatif membuat tempat reproduksi atau penetasan telur lobster dengan menggunakan kolam buatan.

Ia menyebutklan ada tiga ukuran kolam untuk tempat reproduksi lobster, yaitu 2 meter x 1 meter, 3 m x 2 m, dan 4 m x 4 m. Kolam-kolam tersebut dilengkapi dengan alat, seperti pengontrol kualitas air. Air yang sudah diisi ke dalam Aquatech akan dikontrol kualitasnya.

Setelah kualitas air dirasa bagus, akan dimasukkan lobster jantan dan betina. Lobster jantan dan betina tersebut akan dibiarkan beberapa hari hingga bertelur. Setelah telur menetas akan dilakukan pembesaran dan pada saat besaran lobster dianggap cukup, selanjutnya dilakukan pemanenan.

Selama ini, kata Hendra, banyak nelayan yang mengalami penurunan hasil tangkapan lobster akibat besarnya tingkat kegagalan lobster dalam bereproduksi.

“Kami sengaja membuat Aquatech agar bisa digunakan oleh nelayan. Saat ini sudah ada enam Aquatech yang kami distribusikan secara gratis kepada nelayan yang ada di daerah Malang Selatan, Jember, dan Situbondo,” katanya.

Selama setahun menggunakan Aquatech, lanjut dia, nelayan-nelayan tersebut mengaku sukses menetaskan telur lobster dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 persen.

“Kami senang bisa membantu nelayan dalam meningkatkan penghasilan mereka. Oleh karena itu, kami tidak akan menjual temuan kami dan akan memberikannya kepada nelayan,” paparnya.

Aquatech saat ini sedang dalam pendaftaraan paten di LPPM UB. Meski demikian, Hendra menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menjual Aquatech.

Ia akan memberikan teknologi gratis tersebut kepada para nelayan yang membutuhkan.

“Kami hanya menggunakan sistem bagi hasil dengan nelayan, yaitu keuntungan 60 persen untuk nelayan, 30 persen untuk perusahaan kami, dan 10 persen untuk konservasi alam,” terangnya.

Ke depan, Hendra berharap bisa membangun badan usaha bekerja sama dengan para nelayan yang tergabung dalam Pokmawas Jatim.

“Harapan kami penggunaan teknologi ini bisa secara berkelanjutan agar bisa membantu nelayan dalam budi daya lobster,” katanya.

Aqautech temuan Hendra dan dua orang temannya itu menjadi juara pertama untuk kategori nondigital dan juara dua best of the best Program Wirausaha Muda Mandiri.

Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayogadi Graha Widya Wisuda IPB Dramaga, Bogor, Sabtu (11/3).(*)

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment