HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Developmentalisme Golkar

Developmentalisme Golkar
May 12
13:15 2016

HMINews.com – Warna Partai Golkar, tidak saja menegaskan bergeraknya kekuatan politik anti-Komunis dan penegak Pancasila di Tengah-tengah arus politik menentang komunisme, namun ia juga hadir sebagai kekuatan alternatif di tengah-tengah kegagalan eksperimentasi sistem multipartai era Demokrasi Parlementer. Partai-partai politik pada masa itu telah berkembang sebagai kekuatan-kekuatan, sebagaimana di istilahkan Cliffford Geertz, dalam ideologi politik aliran. sedemikian besarnya semangat ideologisasi itu, yang dalam praktiknya justru mempertegas tajamnya pertarungan politik yang, terutama ditandai oleh jatuh bangunnya kabinet pemerintahan. keadaan ini membuat tidak adanya konsistensi dalam pembangunan nasional.

Golkar hadir dalam semangat mengoreksi partai-partai yang terjebak pada konflik ideologis dan visi developmentalisme. embrionya ditandai oleh hadirnya golongan-golongan fungsional non-afiliatif, yang posisi dan perannya banyak terpinggirkan oleh dominasi partai-partai politik.

Gagasan untuk mengembangkan golongan fungsional ini, memang sering dilontarkan oleh Bung Karno dalam mematangkan eksperimen Demokrasi terpimpin. Bung Karno menginginkan kekuatan alternatif di luar partai-partai, yang kemudian diberi tempat secara formal di Front Nasional. Namun, pada saat yang sama, angkatan bersenjata juga sangat menyadari potensi kekuatan politik golongan fungsional itu. Puncaknya, Angkatan Bersenjata, dalam hal ini Angkatan Darat, sebagai kekuatan politik Pengimbang komunisme, efektif memanfaatkan golongan-golongan fungsional yang anti-komunis ke dalam Sekber Golkar pada 1964.

kehadiran Sekber Golkar segera membedakan dirinya dengan partai-partai yang berideologi politik aliran. dalam perkembangannya, ideologi Golkar semakin jelas, yakni mengusung tema pembangunan sebagai basisnya.

Boleh dikatakan, ideologi Golkar adalah developmentalisme. ini penting untuk membedakannya dengan konteks ideologi politik aliran yang dominan pada masa itu.

Dengan penegasan bahwa Pancasila telah final sebagai ideologi Negara dimana Golkar merupakan pembela terdepannya, ia kemudian tampil sebagai kekuatan politik yang programatik. Golkar mengedepankan program-program pembangunan yang lebih pragmatis, dalam arti menjauhkan potensi konflik ideologi politik aliran, dan karenanya sangat mengedepankan stabilitas politik.

Memang, hadir dan membesarnya Golkar sebagai kekuatan politik, secara sistematis didukung oleh rezim Orde Baru. Pilihan Orde Baru terhadap Sekber Golkar, yang kemudian menjadi Golkar sebagai kontestan pemilu, tidak lepas dari asumsi dasar bahwa ia belum terkontaminasi oleh tradisi dan pilihan ideologis partai-partai.

Golkar merupakan kekuatan politik yang bersifat catch all, mewadahi keberagaman dan mencerminkan kebhinekaan Indonesia. Ia berbeda dengan partai agama atau partai nasionalis yang sepanjang era Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin telah terbentuk corak ideologi politiknya.
Golkar lebih cair secara ideologi politik, justru ketika mengedepankan gagasan gagasan mengenai karya-kekaryaan, modernisasi dan pembangunan.

Banyak alumni golkar yang berhasil menjadi elit negeri ini dengan pola pendekatan kontribusinya masing-masing, seperti Wiranto yang mendirikan Partai Hanura, Surya Paloh mendirikan Partai Nasdem, Prabowo dengan Gerindra, dan masih banyak lagi elit negeri ini yang merasakan proses pembentukan ideologi Partai Golkar dalam dirinya dan dapat berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara, dengan demikian bisa dikatakan bahwa partai golkar telah banyak berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa ini dan masih menjadi harapan bagi masyarakat dalam proses politik pembangunan bangsa dan negara.

Mencermati perjalanan Partai Golkar sebagaimana tersebut di atas, tentu kita berharap ketua umum yang terpilih dalam Munas dalam waktu dekat ini akan bisa menegaskan warna developmentalisme Golkar yang sudah teruji selama ini, dan senantiasa agar tetap berpihak pada rakyat dalam kontribusinya dalam kancah politik nasional.

R. Aria Bima Sakti
Ketua Komisi Politik dan Keamanan PB HMI MPO

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment