HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Tentang Ahmad Wahib dan Jejak Pergolakannya

Tentang Ahmad Wahib dan Jejak Pergolakannya
April 27
08:43 2016

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.
[Ahmad Wahib, Catatan Harian 9 Oktober 1969]

Menulis tentang seorang tokoh tentulah bukan perkara mudah. Butuh pengetahuan yang cukup, kecermatan dan kegigihan untuk menuliskannya. Terutama bila sang tokoh tersebut adalah seorang pejuang, pemimpin panutan yang melintasi banyak zaman ataukah seorang pemikir yang gagasan-gagasannya menjadi kontroversial, digugat, dihujat di sana-sini. Lebih-lebih bila, ketokohannya tersebut sudah mendekati mitos. Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya. Beruntunglah karena tokoh yang hendak saya tuliskan ini belum sampai dimitoskan oleh orang-orang. Dan beruntungnya lagi, karena ketokohannnya juga sudah banyak dituliskan, dibicarakan oleh orang-orang; sejarah hidupnya, aktivitas-aktivitasnya sampai pada pikiran-pikirannya semasa hidup. Sehingga saya banyak terbantu karena itu.

Ahmad Wahib, demikianlah namanya. Nama ini barangkali sudah tidak asing lagi terdengar. Terutama bagi mereka yang senang dengan wacana-wacana seperti kebebasan berpikir, islam liberal, pluralisme dan wacana-wacana lainnya yang sering dituduh sesat oleh kelompok-kelompok tertentu. Namanya sering dibicarakan, pemikirannya kerap jadi kutipan, gagasannya menjadi bahan perbincangan dan kegelisahannya yang khas dalam menempuh jalan kebenaran banyak dijadikan model oleh anak-anak muda Islam. Karena itulah saya menjadi tertarik untuk membaca dan menuliskan pikiran-pikirannya.

Boleh dibilang saya adalah termasuk salah satu orang yang amat terlambat mengenal dan membaca pikiran-pikirannya. Beberapa kawan sekampus saya, jauh ketika masih sekolah dulu gagasan dan pikiran-pikiran dari Ahmad Wahib sudah dibacanya. Makanya, ketika diskusi di ruang kelas atau di diskusi-diskusi pelataran yang biasa kami ikuti mereka-mereka jauh lebih vokal berdebat. Dan tentu saja itu membuat saya menjadi cemburu, rasa-rasanya saya ingin juga seperti mereka. Seingat saya, pertama kali nama Wahib kudengar disebut-sebut adalah ketika saya duduk di semester awal perkuliahan beberapa waktu lalu. Waktu itu, dengan maksud untuk sekedar iseng-isengan dan mengisi waktu lowong—hitung-hitung dapat makan gratis—saya ikut ajakan seorang kawan untuk mengikuti pelatihan dasar dari salah satu organisasi mahasiswa, katanya pelatihan untuk perekrutan kader baru. Saat mengikuti perkaderan itulah saya untuk pertama kali mendengar nama dan gagasan-gagasannya disebut-sebut. Sebenarnya bukan hanya nama Ahmad Wahib yang seringkali disebut-sebut, nama-nama seperti Ali Syariati, Karl Marx, Nietzsche, Imam Khomenei, Plato, Sokrates, Aristoteles, Rene Descartes, Ayatullah Murtadha Muthahhari, Ibn Khaldun, Al Farabi, Mulla Sadra, Tjokroaminoto, Cak Nur, Gusdur, Dawam Rahardjo, Djohan Efendy termasuk Soe Hok Gie seringkali disebut-sebut di pelatihan itu. Walaupun jujur, sampai sekarang banyak dari nama-nama itu belum kukenali dengan betul, baik aktivitasnya ketika hidup maupun gagasan-gagasannya.

Sejak saat itulah saya mulai tertarik dengan sosok dan pikiran-pikirannya, bukan karena pemikirannya linear dengan disiplin akademik saya di kampus atau karena kebetulan saya salah satu kader di organisasi yang pernah digelutinya juga, tetapi karena ada banyak gagasannya yang terdengar canggih untuk ukuran pengetahuan saya dan itu tentu penting untuk mengangkat level pergaulan saya di lingkungan kampus. Semangat itulah yang menjadi motivasi awal saya untuk membaca dan mengenal pemikirannya. Yah, sekedar untuk keren-kerenan dan dibilang intelek. Tapi itu dulu, kira-kira 2 atau 3 tahun yang lalu, saya sudah lupa tepatnya.

Itu perkenalan awal, dan ternyata perkenalan itu membawa efek yang cukup besar pada kebiasaan sehari-hari saya. Dari yang sebelumnya penikmat hidup hura-hura, foya-foya dan gaya hidup hedon lainnya menjadi sedikit lebih ideologis dengan warna-warna islamis di sana-sini. Walaupun harus kuakui bahwa waktu itu (bahkan sampai sekarang) warna-warna itu hanya tampakan luarnya saja. Seingat saya, setelah pelatihan itu, saya menjadi kegandrungan untuk memborong banyak buku, beasiswa yang kuterima setiap bulannya hampir 80 % habis untuk belanja buku-buku. Terutama buku-buku yang ditulis oleh nama-nama yang sering disebut-sebut tadi. Entah kenapa saya menjadi jatuh cinta pada buku dan tergila-gila pada kerja-kerja intelektual. Sampai-sampai saya harus merelakan diri untuk tidak lagi ngekos dan memilih hidup nomaden, berpindah-pindah dari sekret ke sekret, dari kos teman ke kos teman yang lainnya, demi untuk mengurangi biaya hidup. Tapi, harus kuakui bahwa tidak semua dari buku-buku itu telah tamat kubaca, banyak diantaranya hanya menjadi pajangan atau tumpukan koleksi dan beberapa kupinjamkan keteman. Sampai saat ini buku-buku tersebut banyak berserakan, di sekret-sekret yang sering kutinggali, kos teman, dan sebagiannya lagi di kontrakan saudara perempuan saya.

Kembali ke maksud awal dari tulisan ini. Ahmad Wahib, siapa yang tak mengenalnya. Sosok yang menjadikan kebebasan berpikir sebagai basis keberimanannya dan Tuhan sebagai dasar dan arah berpikirnya. Pemikir bebas itu telah pergi 43 tahun lalu (tepatnya 31 Maret 1973), hampir 31 tahun setelah kedatangannya (9 Nopember 1942). Dalam pencariannya yang penuh haru untuk menemukan Tuhan, akhirnya ia dipanggil oleh-Nya dengan segera, tanpa disengaja saat sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabraknya di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana ia bekerja sebagai calon reporter. Wahib, hidupnya mungkin tidak terlalu berwarna, atau penuh kejutan, petualangan, dan kisah-kisah perjuangan yang heroik dan dramatis. Dia menjadi menarik justru karena dia jauh dari warna-warna itu. Pikirannya, prinsipnya, konsistennya, toleransinya dan teguh pendiriannya menjadi warna yang melekat padanya. Dalam hidupnya yang sangat pendek, dia mewariskan banyak pelajaran, dibalik pribadinya yang santun, pendiam, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Sungguh sebuah keteladan yang jarang kita temukan kini.

Kepada kita, Wahib mewariskan sekumpulan catatan harian yang kemudian dibukukan dengan judul menggugah, Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES, 1981). Apa yang digambarkan dalam buku itu sebenarnya lebih merupakan pergolakan batin seorang anak muda islam yang selalu gelisah; gelisah karena menyaksikan laku penganut agama, dan terutama gelisah sebagai seorang manusia yang rindu akan kebenaran, kedamaian, dan ketercerahan. Sebagai seorang aktivis mahasiswa, pemikir, dan seorang yang setia menekuni catatan harian—sama seperti Soe Hok Gie, Rachel Corrie—yang melalui catatan itu mereka memberikan komentar di hampir setiap peristiwa dari persoalan agama, filsafat, soal-soal kemanusiaan sampai perkara politik. Sayang, dia mengalami nasib, yang bagi orang-orang menyebutnya tragis, yakni mati muda.

Di catatan-catatan hariannya tersebut Wahib menceritrakan pergulatan-pergulatannya akan realitas sosial, pandangan-pandangannya tentang pluralitas agama dan banyak hal lainnya. Lewat catatan hariannya yang kontroversial inilah, Wahib banyak mencetuskan gagasan-gagasan menarik yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia. Mengkaji lebih dalam tentang pemikirannya maka kita akan mengetahui bahwa wahib adalah salah satu pembaharu pemikiran islam. Salah satu intisari pemikiran Wahib dalam pembaruan pemikiran Islam adalah wacana kebebasan beragama dan berkeyakinan. Wahib memiliki jawaban kuat mengapa sebagian umat Islam tidak toleran terhadap agama lain. Itu karena, menurut Wahib, kita tidak memiliki kedewasaan beragama ketika berinteraksi dengan kelompok agama lain. Yang terjadi justru tindakan diskriminatif serta sikap intoleran atau sikap ketidakberterimaan kita terhadap perbedaan-perbedaan.

Dalam hal pluralisme agama, Wahib menyuarakan pentingnya menumbuhkan inklusivitas agama—suatu komitmen yang secara terbuka menerima agama-agama lain—. Secara prinsipil, apa yang dikemukakan oleh Wahib tak jauh berbeda dengan pandangan Cak Nur, Gus Dur yang juga sama-sama menekankan pluralisme dalam bertindak dan berpikir. Inilah menurutnya yang melahirkan toleransi. Baginya, sikap toleran tidak bergantung pada tingginya tingkat pendidikan formal atau pun kepintaran pemikiran secara alamiah, tetapi merupakan persoalan hati dan perilaku.

Kira-kira itulah yang dimaksudkan oleh Wahib ketika menulis “Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” Sebuah pernyataan bijak dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.

Banyak hal yang ditinggalkan Wahib, sebagian besar belum selesai, untuk kita pikirkan dan tanyakan kembali. Sumbangan Wahib paling berharga adalah pada pertanyaan-pertanyaannya, pernyataan-pernyaannya yang diliputi semangat dan spirit yang gigih dalam mencari Kebenaran. Itulah yang perlu kita renungkan. Lepas dari semua itu, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya sadar. Apa yang sudah kita hasilkan sampai saat ini. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Soe Hok Gie—tokoh mahasiswa yang segenerasi dengan Wahib—bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Poinnya adalah untuk apa hidup menua tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Pada intinya, pergulatan Wahib yang tanpa lelah mengingatkan kita akan satu prinsip hidup mahapenting yaitu kejujuran atau keadilan—meminjam Pram dalam bukunya; Bumi Manusia—sejak dalam pikiran. Wahib sendiri telah mengamalkannya secara konsisten lewat praktek berpikir bebasnya. Dia tidak mau menjadi munafik, seolah-olah paling suci, paling benar dan semacamnya. Dia memilih berontak dari pakem semacam itu. Wahib benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri. Sebab, hanya dengan kejujuran, dengan berpikir bebas, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya, menjadi manusia yang seutuhnya.

Ada begitu banyak gagasan Wahib yang terhadapnya barangkali kita hanya bisa menganggukkan kepala. Bukan karena kita setuju sepenuhnya tetapi, sebagai penghormatan atas gagasannya tersebut. Karena dari sekian banyak gagasannya tentu ada beberapa yang mungkin saja kita setujui tetapi ada pula yang tidak. Alasannya sederhana, karena setuju sepenuhnya dengan gagasannya adalah berarti bertentangan dengan prinsip relativitas kebenaran manusia yang didengungkan sendiri oleh Wahib. Terakhir mengapa penting untuk kita kembali membaca gagasan Wahib adalah agar supaya kelak lahir para anak-anak ideologis dari Wahib. Wahib boleh meninggal, tapi pikiran-pikirannya, gagasan serta pergolakannya, mudah-mudahan akan terus hidup dan mengabadi melintasi banyak zaman.[]

YRM. Yunasri Ridhoh
Ketua Umum HMI MPO Kom. FEIS UNM Periode 2014-2015

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment