HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...

Mediator Ditunjuk. Memahami Teori Permainan dalam Diplomasi

Mediator Ditunjuk. Memahami Teori Permainan dalam Diplomasi
November 21
13:40 2015

ANdi HakimSaya melihat bahwa laporan Sudirman Said (SS) di DPR yang mengatakan bahwa ada rekaman pembicaraan Setya Novanto terkait permintaannya akan saham Freeport yang mengatasnamakan bagian lain bagi Presiden dan Wakil Presiden adalah blunder dari Sudirman sendiri. Dalam negosiasi dikenal istilah Appointed Mediator yaitu orang atau organisasi yang ditunjuk sebagai mediator dalam urusan bisnis (perang, politik, maupun ekonomi) yang tidak tergantung pada apapun hasil pembicaraan kecuali dia mendapatkan reputasi baik. Reputasi baik inilah yang nantinya akan membuat diri atau organisasi yang dipimpinnya terpercaya dan memiliki reputasi bagus.

SN mustahil ada dalam posisi bernegosiasi kecuali ia adalah representatif dari kelompok kepentingan yang tengah berhadapan dengan Freeport. SN adalah appointed mediator yang kita maksud. Sayangnya SN melangkah keluar dari batasan peran dirinya, yang kemudian kelengahan ini dimanfaatkan lawan diplomasi.

Bocoran pembicaraan itu sebenarnya tidak memiliki nilai apapun kecuali obrolan informal ala warung kopi yang tentu saja tidak akan berimplikasi hukum apapun. Setya Novanto dengan mudah mengatakan bahwa yang demikian adalah bercanda saja. Tetapi sebenarnya yang menarik adalah bagaimana kita mempertanyakan reasoning dari SS untuk membuka persoalan ini ke ruang publik. Artinya di sini kita menemukan bahwa pembukaan (disclosure) satu informasi ke wilayah publik pasti memiliki tujuan-tujuan strategis. Sehingga dengan sendirinya, pendekatan teoritis untuk menerangkan persoalan ini adalah teori permainan.

Permainan apa dan posisi apa yang diharapkan oleh seorang SS dengan membuka informasi yang sebenarnya sudah berkembang sebagai gosip di publik jauh-jauh hari?

Bila kita cermati maka rekaman tadi memang sengaja dibuat, atau direkam demi kepentingan untuk mengikat komitmen satu atau dua pihak. Hal seperti ini wajar dalam pembicaran bisnis apalagi bagi perusahaan sekelas Freeport. Freeport tentu menjadi pihak yang siap membuka diri terhadap tawaran-tawaran baru, sementara mereka juga punya item-item yang dijaganya betul.

Jika rekaman ini terbuka, maka ada hal yang sengaja dibuka untuk mengubah peta permainan. Permainan di sini melibatkan aktor-aktor yang sebenarnya adalah pihak yang masuk kategori dapat “ditawar” atau bagian yang dapat dinegosiasikan. Freeport bersedia membuka diri atas tekanan dari SN dengan syarat bahwa ada item-item milik mereka yang juga digolkan melalui jasa mediasi dari SN.

Pertanyaan kita di sini adalah, item-item apa yang hendak direnegosiasikan Freeport? Apa saja yang tetap dijaga Freeport? Begitu pula dengan pertanyaan item-item apa saja yang diinginkan SN?

Bila alasannya adalah meminta saham dan komitment pendanaan maka kita katakan bahwa ini tidak berimbang. SN tentu dalam sebuah negosiasi kita katakan bodoh sebagai mediator. Mengapa ia hanya meminta saham atau komitmen pendanaan atas sebuah proyek bagi dirinya sendiri? Ia sendiri bukan seorang pemain di sektor konstruksi maka ia tentulah mewakili sebuah kepentingan yang jauh lebih besar. Mustahil pula perusahaan sekelas Freeport mau menurunkan tawarannya kecuali lawan yang dihadapinya adalah pemain kuat dan menentukan. Sehingga keberadaan SN di sini jelas bukan pribadi dan ia juga bukan sekedar mewakili kepentingan kelompok yang kecil. Maka saya katakan bahwa SN pasti mewakili kepentingan yang lebih luas, dalam renegosiasi dengan pihak Freeport. Kepentingan luas ini biasa siapa saja, tetapi arahnya adalah kepentingan nasional, kepentingan negara.

SN dalam posisi yang bagus awalnya, yaitu sebagai appointed mediator, dari pihak-pihak yang sepertinya menginginkan Freeport membagi konsensi kerja kepada pemain-pemain domestik lebih besar lagi, mengingat selama ini Freeport memberikannya kepada pemain asing seperti Australia, Kanada, AS, dan China. Sayangnya ia tidak terlalu sabar untuk tidak ikut bermain. Hal yang dilakukan SN sebenarnya wajar dalam bisnis-bisnis internasional, dimana mediator berhak mendapatkan bagiannya. Tetapi di Indonesia kedudukannya dianggap calo, yaitu pekerjaan yang dibutuhkan konsumen sekaligus dibenci. Maka setelah terbukanya isu ini, boleh kita katakan Freeport terlepas dari tekanan dan dengan begitu mereka kembali memainkan kartu-kartu lama dalam negosiasinya.

Sementara Sudirman Said, dia sebenarnya bermain untuk siapa? Apakah benar ia ingin menegakkan moralitas dalam bisnis? Ataukah ia sebenarnya terjebak dalam pernainannya sendiri. Jika kenyataannya dengan terbukanya rekaman ini, Freeport adalah pihak yang paling diuntungkan dan bisnisnya berjalan normal seperti biasa dengan pemain lokal yang lebih banyak gigit jari. Lalu apa alasan SS kecuali dia memang blunder lagi.

Andi Hakim

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment