HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Dari Pekanbaru Hingga Kandidat, Antara Solusi dan Ilusi

Dari Pekanbaru Hingga Kandidat, Antara Solusi dan Ilusi
November 07
12:08 2015

ANdriOleh : Andriyatno

Angin seolah-olah akan membawa para kader HMI berlabuh menginjakkan kakinya di Kota Pekanbaru, Riau. Dimana dikota tersebut akan diselenggarakannya ‘pesta demokrasi’ organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dalam rangkaian acara Kongres yang pada saat ini sudah menginjak kongres yang ke XXIX. Berbagai macam persiapan dilakukan oleh penyelenggara, dalam hal ini adalah PB HMI. Ironis memang, dengan ditetapkannya Pekanbaru sebagai tuan rumah Kongres, pada saat itu juga Pekanbaru baru saja dilanda musibah kabut asap, yang tentu sungguh memprihatinkan dan membuat hati kita teriris, karena melihat banyak masyarakat Pekanbaru yang terganggu pernafasannya dan juga menyebabkan jatuhnya korban, terutama dari kalangan balita dan anak-anak. Semoga dengan diadakannya Kongres HMI ke XXIX, memberikan sebuah penghibur bagi masyarakat Pekanbaru yang baru saja sedang diuji, bukan justru menambah duka mereka semua dengan sikap dan tindakan kader-kader HMI di area Kongres nanti yang bisa merugikan masyarakat Pekanbaru.

Sebagaimana diketahui bahwa HMI telah memberikan warna-warni tersendiri bagi bangsa ini, terhitung sejak keberadaannya pada tahun 1947, HMI telah memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa Indonesia ini. Jika kembali ke historis, bahwa diawal mulanya HMI berdiri, HMI ikut turut berkontribusi dalam mempertahankan NKRI dan turut melakukan perlawanan terhadap para penjajah dan komunis, dan pada saat Orde Baru mencapai keemasannya pada masa Cak Nur, dengan memformulasikan NDP sebagai spirit ideologi HMI, dan akhirnya melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru yang semakin diktator dan otoriter, sehingga rezim orde baru pun tumbang, dan terjadilah reformasi besar-besaran yang digalangi oleh mahasiswa, pemuda dan masyarakat. Namun romantisme historis itu seakan-akan lenyap didalam tubuh HMI, dimana pasca reformasi ini HMI bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, yang berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Dimana kejayaan-kejayaan HMI pada masa lalu, tidak terulang kembali pada saat ini, HMI pada saat ini hampir kehilangan “Khittah”-nya yakni missi ke-Indonesiaan dan ke-Islamannya yang dibumbui spirit dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dan menomorduakan perkaderan. Hal tersebut dikarenakan HMI pada saat ini terlalu asyik dengan masalah internal, dengan kegaduhan politik yang menguras energi, terlebih menjelang kongres seperti pada saat ini. Kemunduran HMI tersebut telah dijawab dan dijelaskan dengan gamblang oleh Sejarawan HMI alm. H. Agus Salim Sitompul, dimana dalam karyanya yang berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI” beliau menjabarkan faktor-faktor yang membuat HMI mundur pada saat ini. Seolah-olah tidak mau belajar dari beliau, dari waktu ke waktu HMI semakin mundur dan tidak tanggap atas persoalan keummatan dan kebangsaan.

Kemunduran HMI semakin terasa dan terlihat ketika HMI akan melaksanakan hajatan besar berupa kongres. Dimana pada saat menjelang kongres, libido dan syahwat politik lebih dikedepankan daripada menjaga persatuan dan kesatuan untuk membangun HMI secara bersama. Karena ketika menjelang kongres tersebut bermunculan para kandidat yang akan ‘bertarung’, dengan jargon-jargon dan segudang missi berupaya meyakinkan pengurus-pengurus cabang seluruh Nusantara. Suara rekomendasi cabang tersebut akhirnya jadi ajang rebutan dan persaingan bagi para kandidat, dan bahkan suara rekomendasi cabang tak lebih sebagai komoditas politik yang bakal laris dijual (marketable) untuk lenggang ke arena kongres. Hal ini juga diperparah oleh adanya rumusan dimensi politik yakni“siapa mendapat apa” (who gets what) sebagai sesuatu yang sudah “taken for granted”, serta masih banyak cara-cara kotor lainnya yang dilakukan oleh para kandidat guna memuluskan jalannya agar terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI. Akhirnya itu semua akan mengakibatkan persaingan yang tidak sehat, dan akan menimbulkan saling kecurigaan, dan bahkan ada yang merasa terancam.

Sekiranya gejala tersebut sangat tepat, seperti yang dikatakan oleh ilmuan E.F. Schumacher maupun Fritjof Capra dalam tesisnya, menyebutkan bahwa “krisis ekonomi, sosial, politik, dan krisis lingkungan hidup, justru bersumber pada krisis moralitas diri kita” (lihat, Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur:2001). Dalam hal ini kaitannya adalah bagaimana moralitas para kader-kader HMI pada saat ini telah mengalami degradasi moral dan akhlak, terlebih bagaimana keadaan spiritual yang tercakup didalam semboyan “bernafaskan Islam” telah meluntur dari diri sebagian kader HMI, baik dari sisi ritual dan batiniah, dan digantikan oleh kapasitas nafsu dan syahwat nalar dalam berfikir, nafsu dan syahwat berkuasa yang tidak kunjung menepi, yang akhirnya mengorbankan dan menghilangkan sisi spritualitas dalam diri dan keluar konteks dari aturan main organisasi.

Tepat yang termaktub didalam pedoman perkaderan, bahwa manusia pada dasarnya cenderung pada kebenaran (hanief), hal tersebut dibuktikan dengan adanya perjanjian primodial dengan Tuhan, ketika Tuhan meniupkan ruh kepada manusia, maka manusia mendapat amanah sebaga ‘Wakil Tuhan’ (khalifah) di bumi, yang salah satunya diorentasikan untuk menjaga keberlangsungan hidup dimuka bumi ini, namun ketika ruh ditiupkan dalam bentuk materialisasi jasad dan diturunkan ke bumi, semua menjadi berubah, sehingga manusia menjadi mengada (being), tanpa berusaha memperbaiki diri untuk menjadi sempurna (becoming) atau meminjam istilah Cak Nur yang diambil dari Tasawuf Syaikhul Akbar Ibn Arabi, yakni manusia yang Insan Kamil, yang mana manusia yang sempurna (becoming, insan kamil) adalah manusia yang selaras antara IQ, EQ, dan SQ nya, dan mampu menyempurnakan ummat manusia (mukamil).

Sudah semestinya melihat realitas-realitas kemunduran HMI pada saat ini, sangatlah tepat untuk menjadikan momentum Kongres HMI ke XXIX di Pekanbaru mendatang sebagai langkah awal untuk membangun desain besar (grand design), untuk mengembalikan kembali spirit khittah HMI yang sudah lama hilang, dengan menjauhkan diri dari sifat dan syahwat berkuasa serta permasalahan internal yang tak menepi. Yang seharusnya menjadikan HMI sebagai Solusi untuk keummatan dan kebangsaaan, bukan hanya sebatas Ilusi dan janji-janji dari arena kongres ke kongres, tapi harus dibuktikan dengan memberikan problem solver yang nyata serta secara publik bisa dipertanggungjawabkan dan secara politis memang harus ditujukan demi kebaikan HMI dan kesejahteraan masyarakat, dimana dengan menegakan keadilan bagi kaum lemah (mustadha`afin) serta melawan kaum penindas (mustakbirin), karena Nabi Muhammad SAW sadar betul bahwa hancurnya bangsa-bangsa dimasa dahulu, karena jika “orang atas” (al-syarif) melakukan kejahatan, dibiarkan saja, tetapi jika “orang bawah” (al-dha’if) melakukan kejahatan, pasti dihukum. Begitulah, sukses Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat yang terbuka, adil, egaliter, dan demokratis di seluruh dataran dan semenanjung Arab pada saat itu.

Siapapun kandidat yang terpilih dalam kongres mendatang, yakni harus mencerminkan sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yakni dijadikannya beliau sebagai panutan dan suri tauladan yang baik dalam diri setiap para kandidat, sehingga dengan begitu akan hilang sifat-sifat diri yang tercela dan buruk disaat berkuasa nanti. Dan terlebih harus mengutamakan sisi perkaderan dibanding permasalahan-permasalahan politik internal HMI, karena sebagaimana diketahui bahwa perkaderan merupakan inti utama serta jantung dari HMI itu sendiri, karena jika perkaderan sudah lagi tidak diperhatikan, maka akan berdampak pada keberlangsungan dan eksistensi HMI itu sendiri. Adanya HMI adalah karena adanya prosesi perkaderan, dan juga adanya kader karena adanya prosesi perkaderan. Untuk itu para kandidat harus mempunyai strategi khusus untuk terus memperbaiki perkaderan yang ada didalam tubuh HMI, demi keberlangsungan HMI itu sendiri di massa depan.

Dan, juga yang harus dilakukan oleh seluruh kandidat adalah, bagaimana bisa mengatasi segala macam permasalahan HMI, keummatan, dan kebangsaan, dengan memberikan solusi perbaikan dari A-Z, sehingga HMI menjadi organisasi yang visioner, berkemajuan, bergerak, berfikir logis, tegar dalam berjuang, berdikari, dan menjadi green cita masyarakat, serta missi-missi lainnya, guna mencapai titik temu (kalimatun sawa, konvergensi), untuk terciptanya “Civil Society” atau sesuai goal dari tujuan HMI itu sendiri, yakni menciptakan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT.

Teringat perkataan Alm. Buya Hamka, bahwa beliau mengibaratkan perkembangan hidup kita seperti anak tangga. Ada saat ketika salah satu kaki kita sudah meninggalkam anak tangga yang dibawah, kaki melayang-layang sejenak diudara. Boleh jadi kaki terpeleset dan jatuh, itu risiko. Tetapi, jika takut menghadapi risiko, kita tidak pernah beranjak dari anak tangga terbawah. Begitulah keadaan yang tepat, untuk menggambarkan HMI pada saat ini, yakni dengan perkembangannya HMI pada saat ini yang mengalami kemunduran, bisa saja HMI semakin terjerumus dalam lubang yang sangat dalam, dan bahkan tidak akan nampak lagi dipermukaan. Akan tetapi jika tidak adanya usaha dan perlawanan yang berarti dari setiap kader HMI untuk mengembalikan kejayaan HMI, maka bukan tidak mungkin, seluruh kader HMI tidak akan melihat lagi HMI dipermukaan.

Andriyatno: (Mantan Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara 2014-2015)
Tulisan untuk menyambut Kongres XXIX HMI ‘Dipo’ di Pekanbaru

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

2 Comments

  1. amri
    amri November 07, 23:09

    Ya Allah..Kembali kan Kader HmI ke Jlan Yng BEnar yang sllu Mmperjuangkan Umat berdasasrkan Sariat islam..

    Reply to this comment
  2. fitra purba
    fitra purba November 09, 14:49

    Sepakat dengan abangda andriyanto, dampak dari hal tersebut sedang kami rasakan d cabang kami, kita harus berjuang bersama untuk mengembalikan HMI ke rel yang sebenarnya bgda

    Reply to this comment

Write a Comment