HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...

Pembakaran Gereja di Singkil: Konflik Islam-Kristen atau Konflik Internal Komunitas Gereja?

Pembakaran Gereja di Singkil: Konflik Islam-Kristen atau Konflik Internal Komunitas Gereja?
October 16
09:14 2015

Yang perlu kita fahami dalam melihat konflik sosial berlatar keagamaan adalah kenyataan bahwa semuanya tidak terjadi dengan cara tiba-tiba. Tentu akan bermanfaat bila kita dapat melihat konflik Singkil dari kemungkinan adanya konflik-konflik kecil di dalamnya.

Sebagaimana diketahui sebenarnya selalu ada proses ke arah pematangan konflik sampai ia akhirnya meledak. Konflik tidak serta merta hadir begitu saja tanpa adanya proses yang terjadi dalam hitungan tahun atau dekade bahkan abad. Konflik besar juga selalu disertai dengan konflik-konflik kecil berupa letupan-letupan sebelumnya (catatan tahun 1974, 1979, 1988, 1994. 2010, 2011, 2012). Seperti pembakaran gereja Singkil yang mustahil terjadi tanpa ada sebab-sebab panjang di belakangnya.

Pernyataan umum di media massa dan media sosial berupa tudingan bahwa kelompok massa Islam pembakar gereja itu tidak toleran, anti kebersamaan, dan melawan kemanusiaan adalah pernyataan yang berbasiskan kepada pandangan modern yang kurang dikenal oleh aktor-aktor konflik. Pandangan ini murni datang dari pengamat luar yang mungkin setelah membaca beberapa buku pluralisme menjadi sedemikian moderat dan liberal termasuk dalam memandang sikap dan keyakinan keberagamaan orang lain.

Selain bahwa pandangan tadi sekali keluar dari kenyataan bahwa konflik di Singkil adalah persoalan yang pertama-tama dapat diasumsikan sebagai konflik antara pendatang dan warga asli, antara pekerja perkebunan baru dengan penduduk asli dengan model kerja tradisionalnya.

Munculnya konflik sebenarnya telah terjadi pada saat pertama kali pemerintahan Orde Baru menekankan Singkil sebagai Kabupaten di Aceh yang menjadi ikon dari suksesnya pembangunan pertanian. Ikonisasi yang dengan sendirinya menarik lebih banyak modal untuk mengejar target-target produksi. Selain bahwa di sana kemudian terjadi perubahan fungsi ruang dan pola kebudayaan dalam pertanian, maka kedatangan imigran pekerja perkebunan-perkebunan baru memunculkan persoalan penempatan atau penyusunan kerja setelah di unit-unit perkebunan.

Sejak tahun 1970-an berkembang modal (agglomeration) dan imigran dari wilayah selatan (Tapanuli) ke lokasi-lokasi perkebunan di daerah Singkil secara langsung bersentuhan dengan warga asli (indigenou) yang telah memiliki perekat sosial sekaligus identitas kebudayaannya yaitu kebanyakan petani tradisional, Melayu-Aceh dan Islam (muslim).

Gesekan antara pekerja yang didominasi etnis Batak dan beragama Kristen ini sudah terjadi sejak awal tahun 1974. Pembukaan lahan karet dan kemudian sawit bukan saja telah merusak tatanan sistem pertanian -yang dengan sendirinya kebudayaan- setempat tetapi juga meningkatkan gesekan sosial ke arah identifikasi budaya. Kohesi sosial atau upaya merekatkan penduduk asli dengan warga pendatang bukanlah perkara mudah terutama di daerah pedesaan dimana sekali lagi seperti disebutkan di atas, identitas agama telah diadopsi menjadi identitas budaya dari suatu etnis. Bukan hanya terjadi pada orang Aceh Singkil yang dianggap bukan Aceh bila bukan muslim. Hal yang sama dengan predikat bukan Menado tulen bila tidak ke gereja.

Di sini pun, dengan mengkategorisasi aktor-aktor konflik sebagai pendatang versus penduduk asli, penganut Kristen versus penduduk muslim, sebenarnya kita masih terlalu menyederhanakan peta konflik. Ini karena dalam konflik perlu juga dilihat adanya kemungkinan apa yang disebut kompetisi internal di dalam kelompok aktor yang sama.

Sebelum kita menghadap-hadapkan aktor antagonis-protagonis maka kita dapat mengajukan pertanyaan awal terlebih dahulu;

“Mengapa begitu banyak gereja dalam unit (wilayah pertanian-perkebunan)?
“Apakah jarak penduduk ke gereja satu dengan yang lainnya terlalu jauh membutuhkan waktu berjam-jam?”
“…ataukah sebenarnya sesama pengurus gereja terjadi kompetisi sehingga mereka memunculkan diri atau community cohesion-nya melalui gerejanya masing-masing.

Community cohesion atau ikatan komunitas adalah bentuk lain dari ikatan sosial yang sifatnya lebih pribadi dan terbatas. Mereka yang disebut dengan para pendatang memang pada akhirnya berhimpun karena alasan formasi kerja. Bila mengutip Wolff dan Morales bahwa kelompok masyarakat pendatang yang didominasi etnis Batak ini menemukan kebersamaannya dalam koalisi-koalisi yang disesuaikan dengan jenis-jenis dan tempat-tempat dimana mereka bekerja.

Melalui semangat satu pekerjaan (atau satu unit/ sektor) mereka menciptakan apa yang disebut unionism, satu koalisi baru dari kelompok-kelompok pekerja untuk merekatkan diri mereka kepada sesamanya dalam menghadapi tumbuhnya modal-modal dengan semakin banyaknya pekerja pendatang. Lambat laun, unionism yang secara alamiah mengambil upeti dari jamaah yang umumnya adalah pekerja dimana kemudian upeti tadi dikuatkan dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan peribadatan.

Semakin besar rumah peribadatan maka semakin tinggi nilai competitivness gereja tadi dibanding gereja-gereja dari union-union lainnya. Di sinilah muncul persaingan yang semakin kuat ketika semakin banyak jemaat berkumpul maka semakin tinggi tingkat kemakmuran dan gengsi kelompok. Akibatnya mereka-mereka yang tidak mendapatkan kesempatan berperan lebih dalam komunitas yang lebih besar dengan sendirinya mendirikan rumah-rumah peribadatannya masing-masing dengan sentimennya yang juga masing-masing.

Tingginya angka pertumbuhan gereja di Singkil sebenarnya tidak berkorelasi dengan semakin banyaknya penganut kristen baik itu dari segi kedatangan buruh baru maupun dari warga Singkil yang berhasil di-kristenkan, tetapi murni dari konsekunsi munculnya unionisme yang berhimpun dalam komunitas-komunitas gerejanya masing-masing.

Sehingga kemarahan warga Singkil adalah sama sekali bukan karena banyaknya penganut Islam yang berhasil dikristenkan tetapi karena pertumbuhan gereja yang luar biasa karena dipicu oleh persaingan di antara sesama penganut kristen yang masing-masing ingin eksis telah mengganggu kohesi sosial antar pendatang dan penduduk asli yang pernah dibangun sebelumnya.

Andi Hakim

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment