HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...

Kampung Pulo: Haji Sulaiman dan Mpok Yani, Patriot Kota

Kampung Pulo: Haji Sulaiman dan Mpok Yani, Patriot Kota
August 23
09:34 2015

Kampung Pulo, pernah punya Haji Sulaiman pedagang grosir perlengkapan baju muslim dan haji di Pasar Mester Jatinegara. Haji Naih pedagang soto Betawi, Haji Anwar, bos daging asal Banten yang dulunya tukang jagal sapi di pasar. Yang menarik adalah Mpok Yani yang karena harga-harga daging mahal memanfaatkan tengkorak ayam yang masih ada sisa-sisa dagingnya setelah di-fillet, diolahnya lagi menjadi; ayam bumbu kuning krispy. Bersama ayam goreng yang diberi bumbu rempah gurih ada juga dijual ceker, leher, dan kepala ayam.

Mereka adalah orang-orang yang ditulis Bleddyn Davies, dan David Harvey sebagai para pejuang kota (urban patriot) yang satu dua berhasil mengatasi apa yang disebut dengan diskriminasi teritorial yang tidak adil (territorial injustice) terhadap kebanyakan orang-orang yang tidak berduit.

Semenjak Davies menulis Social Needs and Resources in Local Service, dan Harley dengan Social Justic and The City, para perencana sosial Inggris dan AS mulai menyadari bahwa para perencana kota dan pengambil keputusan, harus menekankan pentingnya pembangunan kota yang melibatkan masyarakatnya untuk ikut memikirkan proses untuk mencapai apa yang dikenal dengan keadilan teritorial (territorial justice) bersama.

Ini karena pada kenyataannya sebuah kota yang berkembang sulit menafikan kenyataan bahwa mereka membutuhkan juga orang-orang miskin berpenghasilan rendah untuk mengisi celah-celah yang orang kayanya enggan mengisi. Pembantu rumah tangga, penjaga bayi, satpam, penjaga toko, jasa antar, supir-supir, petugas kebersihan kantor dan jalan, adalah beberapa contoh dari mereka yang dimaksud Harvey dan Davies

Kota yang tumbuh tidak hanya melahirkan kemakmuran tetapi juga hadir bersamanya mereka-mereka yang tersisihkan dan menjadi sempalan-sempalan, atau figuran-figuran yang mengisi ruang-ruang kota. Sejauh pemerintah gagal menyediakan bagi mereka pekerjaan dan hunian yang layak dan partisipati, mereka secara original (alamiah) akan mengambil sikap tidak melawan -dalam pengertian menggelorakan revolusi- tetapi beradaptasi untuk menerima nasib sebagai apa yang disebut orang kecil, orang pinggiran, dan mungkin sekarang istilahnya kaum miskin kota.

Para miskin kota ini yang kemudian dengan caranya -setelah pemerintah menganggap mereka hanya hama dan gelandangan- menyusun pelan-pelan harga dirinya secara mandiri. Mereka para urban patriot ini, adalah kelas pekerja informal, kuli-kuli, kaki lima, penduduk miskin, penjaga toko, tukang pemulung sampah plastik, dan lain-lain, yang bergerilya mencari sesuap nasi, menafkahi keluarga dengan harapan generasi setelah mereka akan mendapatkan pendidikan yang layak dan masa depan lebih baik dari orang tuanya.

Pelan-pelan seperti jutaan lainnya kaum imigran yang datang ke Batavia tanpa dukungan finansial dan jaminan sosial dari pemerintah orang-orang seperti Haji Sulaiman memulai bisnis dari kaki-lima, menjagi penjaga toko bos Cina atau Arab sambil belajar memahami manajemen usaha yang lebih baik. Peruntungan nasib tadi disiasati dengan istri dan anak-anak mereka yang juga turut dalam ekonomi partisipatif. Seperti kita lihat di kebanyakan kampung di kota-kota besar, dimana si Istri membuka warung di rumah, dan si anak menyambi sebagai jasa kuli atau penjual keranjang dan tisue.

Realitas kehidupan dan cara menyikapi nasib seperti ini yang membuat mereka sebenarnya membangun satu kesadaran finansial atau istilah modern dari para pengambil kebijakan (government) a financial literacy, cerdas finansial. Mereka menghemat pengeluaran sebesar mungkin mereka memulai ekonomi dan politik kota dari bawah, dari pinggiran-pinggiran kali, dari gang-gang sempitnya, dan memakan-makanan dari bahan makanan murah dan dianggap masih layak seperti tengkorak, ceker, dan kepala ayam seperti yang disediakan Mpok Yani.

Satu dua dari mereka merangkak maju, setelah siang malam bekerja keras tanpa sedikitpun ada keterlibatan pemerintah dan tanpa adanya garansi dari bank-bank serta penyedia jasa keuangan kecuali yang terpaksa harus meminjam dari Inang-inang Batak dengan bunga yang juga lebih murah dari kredit perbankan.

Satu per satu juga nasib baik mendatangi mereka setelah kerja keras dan tawakal pada nasib tadi. Haji Sulaiman, Haji Anwar, Haji Naih, dan Mpok Yani adalah satu dari ratusan eks-Kampung Pulo yang bisa dikatakan sukses. Bukan hanya berhasil naik haji (naik haji adalah ukuran nasib baik di Kampung Pulo) tetapi mereka memberikan dorongan yang menarik orang sekitar untuk ikut berbagi dari rejeki yang diterima. Mereka adalah patriot kota yang mengorbankan generasinya untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk hidup lebih layak, untuk menempati rumah-rumah dengan oksigen yang lebih bersih, untuk mendapatkan gizi dan makanan murah dari sisa-sisa yang mungkin dibuang dari kota.

Satu, dua, tiga, ada yang berhasil, sementara yang belum masih jauh lebih banyak. Tetapi para patriot kota tadi selalu akan menjadi cerita-cerita tetangga kiri-kanan di pemukiman padat Jakarta. Satu dua juga yang mungkin akan menjadi urban legenda, bahwa semua orang yang datang mencari peruntungan dan nasib baru ke Jakarta, seharusnya mempunyai hak dan kesempatan yang sama.

Andi Hakim

Bacaan
*Bleddyn Davies (1968( Social Needs and Resources in Local Service),
David Harvey (1973) Social Justice and the City,
Steven Flusty (1994) Building Paranoia

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment