HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Letusan Tambora, Globalisasi dan Pendidikan Sejarah

Letusan Tambora, Globalisasi dan Pendidikan Sejarah
April 12
15:15 2015

Kebanyakan dari kita ketika berbicara tentang teori globalisasi seringkali merujuk kepada teknologi komunikasi yang terhubung satu dengan yang lainya. Dengan teknologi dunia seolah terintegrasi di mana suatu peristiwa yang terjadi pada belahan dunia lain dengan bantuan teknologi komunikasi dalam hitungan detik akan tersosialisasi dan membentuk opini pada belahan dunia lainnya. Anthony Giddens dalam The Consequences of Modernity menyebutkan globalisasi dapat diartikan sebagai intensifikasi hubungan sosial dunia yang menghubungkan tempat-tempat jauh sehingga peristiwa di suatu tempat dapat dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di tempat lain sekian kilometer jauhnya dan sebaliknya.

Definisi globalisasi yang dinisbatkan pada teknologi informasi dan komunikasi tentu tidaklah salah namun demikian menisbatkan globalisasi hanya pada pengaruh teknologi juga tidaklah benar. Dalam sejarah terdapat banyak peristiwa yang terjadi dan justru memiliki pengaruh secara global dalam waktu yang relatif lama. Salah satu peristiwa sejarah yang memiliki pengaruh global bahkan sampai sekarang adalah meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Letusan Tambora dan Efek Global

Peristiwa meletusnya Gunung Tambora terjadi pada 11 April 1815. Ledakan ini tidak terlalu dikenal masyarakat hal ini karena pada saat tersebut teknologi kemunikasi belum semasif sekarang. Meski demikian sejumlah hasil penelitian menyebutkan letusan Gunung Tambora tersebut memiliki efek global yang sangat dahsyat baik secara ekonomi, politik, sosial-budaya, populasi penduduk, bahkan berpengaruh pada kemerdekaan beberapa bangsa di dunia serta musnahnya peradaban yang lain.

Ketika Gunung Tambora meletus wilayah Indonesia dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles yang menjabat gubernur-jenderal sebagai perwakilan pendudukan Inggris. Sebagaimana diketahui Thomas Stamford Raffles terkenal dengan perhatianya pada dunia keilmiahan. Dari gerakan keilmiahan Raffles-lah sebagian besar informasi meletunya Gunung Tambora kita ketahui.

Dalam laporannya kepada Royal Society di London, Raffles menceritakan, “Seorang saksi mata dari kerajaan Raja Sanggar sebuah kerajaan kecil yang letaknya berdekatan dengan Tambora menceritakan sekitar pukul 19.00 pada malam 10 April 1815 dari Sanggar terlihat tiga sumburan api dan seketika gunung Tambora sudah seperti gunung api. Sejam kemudian hujan batu dan api manghancurkan sebagaian besar rumah di Sanggar.”

Letusan Tambora telah menelan 48.000 jiwa, baik meninggal seketika maupun yang meninggal akibat  kelaparan berkepanjangan. Sejumlah 36.275 orang melakukan eksodus meninggalkan Pulau Sumbawa. Terdapat dua kerajaan yang seketika musnah yakni, Pemerintahan Pekat yang dipimpin Raja Muhammad dan Pemerintahan Tambora di bawah Raja Abdul Gafur. Bahkan tempat di mana Kerajaan Tambora kina telah menjadi lautan dimana kapal dapat berlabuh. (Syair Kerajaan Bima dalam Henri Chambert-Loir, 1982).

Letusan Tambora yang demikian dahsyat tersebut terdengar sampai di Kerajaan Cirebon dan menciptakan gempa yang menakutkan di Solo dan Rembang. Erupsi yang luar biasa pun terjadi akibat letusan Tambora. Erupsi yang berakibat bahkan sampai ke Eropa Barat yakni selama bulan Juni 1815 hujan lebat melanda Eropa yang sesungguhnya bukan musimnya. Hujan yang melanda Eropa Barat pada bulan Juni 1815 telah menghambat bala bantuan pasukan Prancis yang hendak membantu Napoleon Bonaparte dalam perang di Brussel. Akibatnya Napoleon Bonaparte menderita kekalahan pada perang di Waterloo pada 18 Juni 1815.

Kekalahan Napoleon Bonaparte yang menurut pakar geologi Kenneth Spink akibat global dari Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa sebagaimana di kutip A.B. Lapian dalam tulisanya (2011) telah mengubah politik dunia. Terdapat beberapa perubahan politik di antaranya, peralihan kekuasaan di Nusantara dari Inggris kepada Belanda (1816), lahirnya Trakta London (1824) di mana Singapura dan Malaka dikuasai oleh Inggris dan wilayah Indonesia (kecuali pulau Run di Banda Naira) dikembalikan kepada Belanda. Melanjutkan persetujuan perjanjian Bred antara Inggris dan Belanda menukar Pulau Run di Banda Naira, Maluku yang dikuasai Inggris dengan Kota Manhattan Amerika Serikat yang dikuasai Belanda.

Peran Pendidikan Sejarah

Siapa yang menduga sebelumnya ledakan dahsyat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa dari hasil penelitian para ahli memiliki efek global. Meninggalnya ribuan jiwa, eksodusnya ribuan penduduk, hilangnya peradaban Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora, perubahan geopolitik dunia pasca perang Waterloo dan termasuk dengan kemerdekaan beberapa Negara di Asia adalah efek berlanjut dari letusan Tambora.

Globalisasi memang bukan soal laju teknologi informasi dan komunikasi saja, tetapi juga kemampuan kita membaca setiap peristiwa besar yang turut serta mempengaruhi belahan dunia lainya. Letusan Tambora dan mungkin juga peristiwa besar di negeri ini adalah pelajaran berharga bagi bangsa ini untuk menempatkan diri sebagai poros utama perubahan geopolitik dunia.
Dalam kepentingan itulah pendidikan sejarah memiliki peran yang strategis memberikan pemahaman kepada kita tentang kedudukan sebuah peristiwa serta hukum kausalitas yang melingkupi peristiwa sejarah tersebut. Pendidikan sejarah tentang bangsa ini harus memberikan rasa bangga (dalam filsafat pendidikan sejarah disebut perenialisme) kepada kita tentang sumbangsih besar bangsa ini kepada dunia.

Selanjutnya peristiwa Letusan Tambora dapat direkomendasikan sebagai bagian dari pendidikan sejarah dunia yang mana peristiwa letusan dahsyat di kepulauan Sumbawa, Indonesia tersebut meski banyak merenggut nyawa manusia tetapi pada titik yang lain juga berakibat bagi kemerdekaan beberapa Negara di kawasan Asia dari penjajajahan.

Sumber Bacaan:
Syair Kerajaan Bima dalam Henri Chambert-Loir, 1982
Panggung Sejarah, Yayasan Pustaka Obor, Jakarta, 2011
Pendidikan Sejarah Indonesia, Said Hamid Hasan, Rizqi Press, Bandung 2012

amrAbdul Malik Raharusun,  S.Pd. M.Pd
Pengurus Besar HMI-MPO

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment