HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Mendekatkan Muhammadiyah dan NU adalah Sebuah Keharusan untuk Membangun Bangsa

Mendekatkan Muhammadiyah dan NU adalah Sebuah Keharusan untuk Membangun Bangsa
December 10
20:30 2014
pmii kalbar

Aktivis HMI, PMII, KAMMI dan lainnya (foto: PMII Kalbar)

Ada pengalaman yang menarik ketika saya masuk kuliah di IAIN Malang tahun 1982, di situ selalu ada rekrutmen anggota baru yang dilakukan oleh organisasi ekstra universitas seperti HMI dan PMII. Belakangan baru muncul ada IMM atau KAMMI. Ketika masuk menjadi anggota HMI kita lalu didoktrin untuk tidak masuk PMII karena PMII itu organisasi onderbow-nya NU. Padahal ketika saya melanjutkan studi di IKIP Malang tahun 1983 anggota HMI di sana tidak hanya berasal dari mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) saja, atau putra putrinya Muhammadiyah saja, tapi banyak juga yang berasal dari putra putrinya kaum Nahdliyyin. Memang HMI di IAIN cenderung anggotanya banyak berasal dari Muhammadiyah dan PII sedangkan anggota PMII cendrung berasal dari NU.

Model rekrutmen kader dengan menjelaskan secara tidak objektif dan mempunyai kecendrungan untuk tidak bersahabat dengan organisasi ekstra yang lain. HMI tidak bersahabat dengan PMII begitu pula sebaliknya PMII juga tidak bersahabat dengan HMI. Sehingga dari awal kita sudah diajak untuk tidak bersahabat dengan sesama Muslim. Setelah di IKIP Malang baru saya sadar pola rekrutmen seperti itu keliru, semua orang Islam itu bersaudara termasuk mereka yang di HMI, PMII, di Muhammadiyah dan di NU. Kita hanya berbeda di wilayah khilafiyah. Syahadat kita sama, Qur’an kita sama, hadist kita sama, sholat lima waktu kita sama, puasa kita sama, haji kita sama, dan lain lainnya. Sayang budaya seperti ini masih terus bejalan bahkan sampai kepada rekrutmen dosen, menyeleksi pejabat di perguruan tinggi maupun di departemen pemerintahan khususnya departemen agama.

Bangsa ini sangat mebutuhkan NU dan Muhammadiyah untuk merekatkan kesatuan bangsa, oleh karena itu dialog antara tokoh NU dan Muhammadiyah mulai dari tingkat pusat sampai ranting harus terus dibangun. Banyak sekali persoalan umat khususnya menyangkut keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan yang masih melanda umat. Karena umat Islam dinegeri ini mayoritas maka tugas Muhammadiyah dan NU menjadi paling berat untuk mengatasi semua masalah itu.

Persoalan-persoalan kecil disekitar rak’at taraweh, tahlinan dan yasinan, bacaan Usholli dll, mestinya jangan menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam kebaikan. Wilayah furu’iyah itu bukan masuk wilayah ‘aqidah utama, masalah ‘aqidah utama kita adalah bagaimana memberantas kemiskinan, memberantas kebodohan dan memberantas keterbelakangan.

Oleh karena itu mulai sekarang hentikan mengungkit-ngungkit perbedaan tapi bersemangatlah mencari kesamaan dalam rangka membangun negeri ini menjadi negeri yang badlatun toyyibatun warobbun ghofur. Setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan jika mereka berbuat kebajikan maka mereka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, tidak perduli apa afiliasi organisasinya.

Wallahu a’lam

Sangadji EM
Malang

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment