HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Mendekatkan Muhammadiyah dan NU adalah Sebuah Keharusan untuk Membangun Bangsa

Mendekatkan Muhammadiyah dan NU adalah Sebuah Keharusan untuk Membangun Bangsa
December 10
20:30 2014
pmii kalbar

Aktivis HMI, PMII, KAMMI dan lainnya (foto: PMII Kalbar)

Ada pengalaman yang menarik ketika saya masuk kuliah di IAIN Malang tahun 1982, di situ selalu ada rekrutmen anggota baru yang dilakukan oleh organisasi ekstra universitas seperti HMI dan PMII. Belakangan baru muncul ada IMM atau KAMMI. Ketika masuk menjadi anggota HMI kita lalu didoktrin untuk tidak masuk PMII karena PMII itu organisasi onderbow-nya NU. Padahal ketika saya melanjutkan studi di IKIP Malang tahun 1983 anggota HMI di sana tidak hanya berasal dari mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) saja, atau putra putrinya Muhammadiyah saja, tapi banyak juga yang berasal dari putra putrinya kaum Nahdliyyin. Memang HMI di IAIN cenderung anggotanya banyak berasal dari Muhammadiyah dan PII sedangkan anggota PMII cendrung berasal dari NU.

Model rekrutmen kader dengan menjelaskan secara tidak objektif dan mempunyai kecendrungan untuk tidak bersahabat dengan organisasi ekstra yang lain. HMI tidak bersahabat dengan PMII begitu pula sebaliknya PMII juga tidak bersahabat dengan HMI. Sehingga dari awal kita sudah diajak untuk tidak bersahabat dengan sesama Muslim. Setelah di IKIP Malang baru saya sadar pola rekrutmen seperti itu keliru, semua orang Islam itu bersaudara termasuk mereka yang di HMI, PMII, di Muhammadiyah dan di NU. Kita hanya berbeda di wilayah khilafiyah. Syahadat kita sama, Qur’an kita sama, hadist kita sama, sholat lima waktu kita sama, puasa kita sama, haji kita sama, dan lain lainnya. Sayang budaya seperti ini masih terus bejalan bahkan sampai kepada rekrutmen dosen, menyeleksi pejabat di perguruan tinggi maupun di departemen pemerintahan khususnya departemen agama.

Bangsa ini sangat mebutuhkan NU dan Muhammadiyah untuk merekatkan kesatuan bangsa, oleh karena itu dialog antara tokoh NU dan Muhammadiyah mulai dari tingkat pusat sampai ranting harus terus dibangun. Banyak sekali persoalan umat khususnya menyangkut keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan yang masih melanda umat. Karena umat Islam dinegeri ini mayoritas maka tugas Muhammadiyah dan NU menjadi paling berat untuk mengatasi semua masalah itu.

Persoalan-persoalan kecil disekitar rak’at taraweh, tahlinan dan yasinan, bacaan Usholli dll, mestinya jangan menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam kebaikan. Wilayah furu’iyah itu bukan masuk wilayah ‘aqidah utama, masalah ‘aqidah utama kita adalah bagaimana memberantas kemiskinan, memberantas kebodohan dan memberantas keterbelakangan.

Oleh karena itu mulai sekarang hentikan mengungkit-ngungkit perbedaan tapi bersemangatlah mencari kesamaan dalam rangka membangun negeri ini menjadi negeri yang badlatun toyyibatun warobbun ghofur. Setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan jika mereka berbuat kebajikan maka mereka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, tidak perduli apa afiliasi organisasinya.

Wallahu a’lam

Sangadji EM
Malang

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment