HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Anies: Indonesia Sudah Belajar Menginstitusionalisasi Pengelolaan Perbedaan

Anies: Indonesia Sudah Belajar Menginstitusionalisasi Pengelolaan Perbedaan
August 27
11:07 2014

syawa;HMINEWS.Com – Perbedaan dan keragaman yang dimiliki bangsa ini merupakan modal dan potensi yang bisa mengantarkan kemajuan jika dikelola dengan baik. Bersyukur Indonesia baru saja lolos ujian dalam menyikapi perbedaan, dan kini perbedaan mulai dikelola secara institusional.

“Indonesia sebenarnya sangat mampu mengelola perbedaan, dibanding banyak negara yang mayoritas penduduknya muslim,” ujar Anies Baswedan dalam acara Syawalan Alumni HMI MPO di Hotel Bidakara, Pancoran Jakarta Selatan, Ahad (24/8/2014).

Anies mencontohkan, dibanding negara lain seperti di Timur Tengah, transisi kekuasaan sering berlangsung dengan berdarah-darah. “Diperlukan berapa ribu orang meninggal untuk seorang Khaddafi turun, diperlukan berapa ribu orang meninggal untuk seorang Musharraf turun. Suharto, coba kita perhatikan, Suharto tahu persis ambang batasnya, begitu dia melihat sudah cukup, that is over,” lanjutnya, sehingga tidak menimbulkan konflik dan pertumpahan darah yang berkepanjangan.

Kemampuan mengetahui ambang batas itulah yang menurutnya sangat penting. Dalam Pemilu yang baru saja berlalu, lanjutnya, bangsa Indonesia, berlatih menahan diri di ambang batas tersebut.

Dahulu saat bangsa ini mengalami transisi ‘Menjadi Indonesia’ di tahun 1920-an, terjadi friksi seperti dalam penggunaan ‘Bahasa Indonesia’ yang sebagai orang Jawa dianggap sebagai ‘bahasa seberang’, namun kemudian hal  itu bisa diterima secara merata di seluruh Indonesia.

“Sebab hanya di Indonesia kita bisa menjadi Indonesia tanpa kehilangan ke-Jawa-annya, menjadi Indonesia tanpa kehilangan ke-Batak-annya, menjadi Indonesia tanpa kehilangan ke-Bugis-annya, menjadi Indonesia tanpa kehilangan ke-Minang-annya. Menjadi Indonesia tidak harus menghilangkan identitas sub-budayanya,” papar Rektor Paramadina tersebut.

Ini sebuah terobosan luar biasa di bangsa Indonesia. Di Thailand, orang Patani harus menghilangkan ke-Patani-annya. Abdul Halim bin Ismail, pernah menjadi Sekjen ASEAN, nama resminya Surin Pitsuwan, karena jika menggunakan nama Abdul Halim bin Ismail tidak mendapatkan tempat di Thailand, karena menjadi Thailand harus menghilangkan identitas sub budayanya.

Di Indonesia, yang sekarang berada dalam era demokrasi, kita mengambil pilihan politik tanpa kehilangan rasa satu Indonesia. Ini sebuah eksperimen kolosal yang luar biasa.

Khusus mengenai internal HMI, alumni HMI MPO Yogyakarta tesebut mengatakan bahwa berbeda pandangan bukanlah hal baru di HMI. Mengutip Cak Nur, HMI adalah isntitusi yang bisa mengelola perbedaan. “Bahkan di HMI kemampuan mengelola perbedaan itu sudah menjadi bagian dari tradisi,” demikian Anies.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment