HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Menjahit Kembali Merah Putih Kita

Menjahit Kembali Merah Putih Kita
July 18
02:06 2014
supporter

Merah Putih Bersatu (ilustrasi supporter sepakbola Indonesia)

HMINEWS.Com – Pasca Pilpres 9 Juli 2014, setelah setelah dua calon presiden mengklaim kemenangannya masing-masing, kita menghadapi masa ketidakpastian panjang. Problem ini memunculkan berbagai spekulasi munculnya kekerasan, konflik, hingga melambatnya investasi dan laju ekonomi. Selain itu, Pilpres 2014 ini juga mengubah peta struktur sosial masyarakat kita menjadi dua (oposisi biner). Sangat jelas, konsekuensinya adalah kedaulatan politik dan negara yang plural ini.

Berdasarkan pada konteks tersebut, Pusat Studi Sosial Politik Indonesia (Puspol Indonesia) mengadakan studi kualitatif mengenai Diskursus Pilpres 2014, dengan metode “Discourse Analysis.” Menganalisis lima aspek utama, yaitu: (1) Debat dan emosi publik; (2) Kampanye hitam dan negatif; (3) Collective action dan orientasi politik; (4)  Intervensi asing; dan (5) pembelahan masyarakat.

Merah – Putih yang Terbagi: Diskursus Pilpres 2014

Debat dan Emosi Publik:

  Sebelum Pilpres 9 Juli   Sesudah Pilpres 9 Juli  Dampak
  • Penuh harapan terhadap visi, misi, dan program kerja Capres-Cawapres
  • Terkonsentrasi dan tersubyektivikasi oleh substansi yang dibawakan oleh  Capres –Cawapres
  • Hasil debat didrive untuk mendulang suara, dan  menskoringkan hasil debat di sosial media menjadi trending topic
  • Pangung debat hadir di mana-mana, dan masyarakat terkelompokkan menjadi dua
  • Pembenaran terhadap visi, misi, dan program kerja Capres-Cawapres
  • Personifikasi Capres-Cawapres
  • Saling klaim kemenangan versi debat, berpengaruh kepada versi survey. Di sini, hasil debat dijadikan propaganda kemenangan
  • Panggung politik diarahkan secara berlawanan, saling serang, hingga pembunuhan karakter yang tentunya tidak elegan bila ditinjau dari etika politik kita
Terciptanya masyarakat tontonan – spectacle society,

Kampanye Hitam dan Negatif

  Sebelum Pilpres 9 Juli   Sesudah Pilpres 9 Juli  Dampak
  • Catatan Politica Wave selama Mei-Juni 2014, terdapat 458.678 kampanye hitam.
  • Jokowi-JK merupakan pasangan  yang paling banyak diserang oleh kampanye hitam, dengan persentase 74,5% serangan kampanye hitam dan 25,5% kampanye negatif.
  • Prabowo-Hatta lebih banyak mendapat kampanye negatif, sebesar 83,5% dibandingkan kampanye hitam sebesar 16,5%.
  • Hasil observasi pasca pilpres kampanye hitam dan negatif, lebih banyak menyerang Prabowo-Hatta. Di mana isu yang berkembang, bahwa kubu Prabowo-Hatta tidak siap kalah dan akan melakukan kekerasan.
  • Deklarasi pemenangan yang terlalu dini, sebelum data mencapai 100%, oleh Kubu Jokowi – Jusuf Kalla, menjadi tending topic negatif untuk pasangan tersebut. Jokowi – JK dinilai terlalu prematur mendeklarasikan kemenangan
Politik kehilangan kesantunan – Senjakala Demokrasi adalah katastrofi bagi perkembangan demokrasi kita

Collective Action dan Orientasi Politik

  Sebelum Pilpres 9 Juli   Sesudah Pilpres 9 Juli  Dampak
  • Legitimasi lembaga survey, sehingga memicu lahirnya berbagai lembaga survey. Yang terdaftar di KPU 50 Lembaga Survei
  • Legitimasi KPU
  • Delegitimasi lembaga survey
  • Delegitimasi KPU
  • Proyeksi dan Potensi Politisasi MK
Munculnya berbagai gerakan sosial di tingkat grasroot, yang dapat memicu ketidakstabilan keamanan, pertikaian, dan konflik

Intervensi Asing

Sebelum Pilpres 9 Juli Sesudah Pilpres 9 Juli
  • Pemberitaan media asing yang tidak berimbang.
  • Isu gelontoran dana asing dalam Pilpres
Massifnya pemberitaan media asing menyudutkan pasangan Prabowo-Hatta.Pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan oleh para Jurnalis Asing kepada Prabowo mengarah pada “bila anda kalah”

Spekulasi kedatangan Bill Clinton, 22 Juli 2014

Bagi Kubu Jokowi-JK isu intervensi asing menjadi senjata politik baru dalam pilpres ini. Tim Kampanye Jokowi-JK merasa aneh dengan tuduhan sejumlah pihak yang mengeksploitasi intervensi asing di ajang Pilpres 2014.

Melucuti kedaulatan NKRI

Pembelahan Masyarakat

Sebelum Pilpres 9 Juli Sesudah Pilpres 9 Juli
  • Bersifat laten dan parsial
  • Optimisme untuk menyatu kembali
  • Berbeda, tapi kedua-duanya adalah putra-putri terbaik bangsa.

 

  • Bersifat manifest dan massif. Pada level grasroot, misalnya: pembelahan pada keluarga menyebabkan perceraian. Level komunitas: perselisihan antar kelompok.
  • Pesimisme masyarakat, berujung pada keresahan sosial, yang sudah menggejala dibeberapa tempat
  • Beberapa pernyataan elite yang mempertegang situasi. (1) Burhanudin “KPU keliru kalau tidak menetakan Jokowi sebagai pemenang Pilpres”; (2) Fadli Zon “Tak ada scenario kalah”; (3) Panglima TNI dan Kapolri mengatakan “Siaga 1”.

Menjahit Kembali Merah – Putih Kita

Perlu waktu yang tak sedikit untuk mengembalikan “pembelahan masyarakat” ini kepada bentuk struktur semula pasca Pilpres 2014. Untuk itu, perlu dilakukan Rekonsiliasi, Reorientasi Sistem Kaderisasi dan Pendidikan Politik, Spirit Kebangsaan, dan Spirit Kedaulatan.

Rekonsiliasi dan pencegahan konflik pasca Pilpres mutlak diperlukan antara dua kubu kontestan. Pilpres 2014 yang hanya menyajikan dua pasang calon, dalam banyak hal mencerminkan kegagalan elite politik melahirkan generasi pemimpin bangsa. Untuk itu, perlu reorientasi sistem kaderisasi dan pendidikan politik di masa mendatang.

Menumbuhkembalikan Spirit Kebangsaaan dengan mengedepankan semangat spiritualitas, toleransi, saling menghargai, bersatu, dan adil yang bertumpu kepada ideologi berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila.

Point penting dari ajang Pilpres ini adalah “kedaulatan bangsa”, di mana ke depan tujuan dan tantangan bernegara akan teramat besar, siapapun yang akan menjadi presiden kita nanti, diperlukan komitmennya untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Demikian studi kualitatif Puspol Indonesia yang diketuai Ubedillah Badrun (Direktur) dan Ketua Litbang Ahmad Tarmiji A.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment