HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Pengumuman Quick Count Terlalu Dini dan Dikhawatirkan Picu Konflik

Pengumuman Quick Count Terlalu Dini dan Dikhawatirkan Picu Konflik
July 10
03:11 2014
Quick Count Pilpres 2014

Quick Count Pilpres 2014

HMINEWS.Com – Klaim dan pengumuman kemenangan pasangan capres-cawapres berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) dinilai terlalu dini. Hal itu dikarenakan quick count masih menggunakan sampel, dan validitasnya tidak 100 persen, berbeda dengan real count.

Demikian disampaikan Direktur Pusat Studi Sosial Politik (Puspol) Indonesia, Ubedillah Badrun kepada HMINEWS, Kamis (10/7/2014) dini hari. Lebih jauh ia khawatir dampak dari pengumunan atas sesuatu yang belum pasti hasilnya tersebut.

“Efek pengumuman kemenangan berbasis quick count ini bisa memicu konflik horisontal karena masing-masing kubu sudah merasa seolah-lah sebagai pemenang, padahal pengumuman resmi belum dilakukan KPU,” tandasnya.

Ia mengingatkan perlu menjadi catatan bagi semua lembaga survey dari kedua kubu calon presiden, bahwasanya bisa jadi memang quick count tapi kalah di real count.

“Hal ini pernah terjadi pada sejumlah quick count Pemilukada di sejumlah daerah, misalnya Pemilukada Bali tahun 2013, di mana menurut quick count SMRC disebutkan bahwa perolehan suara pasangan Puspayoga-Sudikerta 49,8%, dengan data masuk sebesar 99,50%. Ternyata kemudian perhitungan real count hasilnya menunjukkan sebaliknya,” papar dosen Ilmu Politik UNJ tersebut.

Sebagaimana diketahui, begitu usai pencoblosan Pilpres 9 Juli 2014, berbagai lembaga survey melakukan penghitungan cepat dan hasilnya berbeda-beda untuk kedua pasang capres-cawapres. Kubu Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla pun saling mengklaim kemenangan dan ditegaskan dengan pidato kemenangan yang disiarkan stasiun televisi.

Fathur

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment