HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Aku Bukan Manusia, Aku Dinamit: Nietzsche dan Politik Anarkisme

Aku Bukan Manusia, Aku Dinamit: Nietzsche dan Politik Anarkisme
June 03
04:28 2014

Buku yang disusun berdasarkan riset mendalam dari London Anarchist Group membuka pencerahan-pencerahan baru terhadap model anarkisme modern yang saat ini sedang menghantui kota-kota besar di seluruh dunia. Gerakan Blac Block, Direct Action Network dan gerakan-gerakan lainnya menjadi salah satu varian anarkisme yang menolak sistem kapitalisme global. Esai-esai dalam kumpulan ini yang di edit oleh John Moore menduduki tempat istimewa dalam anarkisme.

Ia pernah menggambarkan karyanya sebagai ‘spekulasi anarkis’, perihal kekuasaan, epistemologi, dan ontologi, agar bisa dipertimbangkan, disempurnakan, direvisi dan ditindaklanjuti oleh orang lain, dan bukan sebagai kebenaran absolut yang harus dianut. Spekulasi-spekulasinya tidak hanya menampik klasifikasi intelektual gampangan dalam pemikiran libertarian itu sendiri, melainkan juga kerap menantang modus-modus ekspresi politik yang ada.

Disatu sisi, posisi ini menghasilkan serangkaian publikasi inovatif yang berusaha mengkaji ulang asumsi-asumsi intelektual filsafat pencerahan, modernisme, pemikiran antiotoritarian lainnya, dan anarkisme pada khsusunya. Disisi lain, karya John Moore mengajukan gugatan tentang kemungkinan-kemungkinan estetika liberatarian dan perlunya konsistensi dan bentuk filsafat revolusioner.

Karya Nieztsche itu sendiri rumit dan kontradiktif. Selama ini, Nietzche dibajak oleh Fasisme Jerman pada tahun 1940-an dan saat ini sedang diperbincangkan lagi di seminar-seminar agama liberal. Nietzche belum banyak dibaca sebagai alasan manusia memberontak terhadap pemerintahan. Dibandingkan Nietzche, Freud lebih menarik bagi kalangan intelektual. Dalam buku yang setebal 167 halaman ini, para penulis mencoba untuk menarik filasafat Nietzche ke dalam tataran anarkisme sebagai gerakan politik.

Ditengah hiruk pikuk wacana post-modernisme, post-kolonialisme, sosial-demokrat, kiri-nasionalis, dan sebagainya. Buku ini hadir untuk mengingatkan kembali bahwa Anarkisme belum tamat. Walaupun dihantam oleh kekuatan sosialis-komunis saat sidang internationale di Den Haag tahun 1872, semangat yang ditularkan oleh Bakunin, Kropotkin masih dirasakan hingga ke sudut-sudut kota New York, bahkan Jakarta dengan komunitas punk yang mengakar.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment