HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Membaca Arah Politik Kampus Sebuah studi kasus di UGM 2010-2013

April 07
11:03 2014

“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”

-Soe Hok Gie[2]

Tulisan ini saya awali dengan studi kasus demokrasi dan arah gerakan politik di tingkat universitas gadjah mada untuk membongkar kehancuran gerakan mahasiswa, peran rektorat dalam memberikan gerakan alternatif serta peran aktivis masa depan untuk membangun kampus. Ketika pertama kali masuk organisasi di Shariah Economics Forum UGM, saya terheran-heran dengan beberapa anggota yang memiliki prestasi luar biasa, mulai dari juara menulis karya ilmiah di tingkat internasional hingga olimpiade ekonomi Islam.

Partai Mahasiswa

Selang beberapa waktu setelah saya selesai di tingkat fakultas, saya masuk ke ranah politik-kampus di BEM KM UGM. Kondisi di fakultas jauh berbeda dari kampus. Aktivis di fakultas lebih banyak berkutat di bidang akademik, organisasi mahasiswa di jurusan misalnya bersaing untuk membuat seminar nasional, internasional, lomba olimpiade akuntasi dan lainnya. Sedangkan di tingkat Universitas, semua berlomba untuk duduk di tingkat kekuasaan tertinggi[3]. Hal tersebut terus berlangsung hingga saat ini.

Partai mahasiswa yang hadir sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa UGM yang jumlahnya 32.000 orang itu tidak berjalan. Kaderisasi partai hanya berhenti soal administrasi Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa), ambil formulir, ajukan calon, berpolitik praktis (membagikan pamflet, pasang poster, dll) untuk menarik hati pemilih. Yang dihasilkan adalah penyebaran ideologi kekuasaan semata. Partai yang kalah dalam senat atau pencalonan Presiden Mahasiswa kemudian menjadi oposisi, tapi ini masalah waktu, sebelum si oposan menunjukkan diri sebagai oposisi oportunis. Ketika partai oposisi di tahun berikutnya menang, ia pun akan  menjadi penguasa, bahkan penindas. Hal ini bisa dilihat dari tendensi memasukkan orang-orang terdekat menjadi pengurus harian di BEM KM. Entah karena satu visi, ideologi, atau sekedar “teman dekat”.

Aktivis Mahasiswa yang bobrok!

Kegagalan Partai Mahasiswa tidak berhenti pada oposisi oportunis. Karena merasa sebagai partai mayoritas mereka dapat semau-nya mencalonkan siapa saja, bahkan ada idiom di UGM, jika “tutup botol” yang dimajukan oleh partai mayoritas, pasti akan terpilih menjadi Presiden Mahasiswa. Di tahun 2010 mahasiswa, dosen, hingga staf akademik dikejutkan, Presiden Mahasiswa ternyata IPK nya dibawah 2.00[4]. Memalukan! Bahkan Rektor yang geram karena IPK berada di bawah standar tersebut mengancam akan membekukan BEM. Itulah yang disebut kebobrokan demokrasi di kampus, sebuah contoh betapa buruknya politik dikelola.

Ideologi kekuasaan

Sebagai bahan rujukan dari kawan-kawan di UMY yang ingin terjun atau berkontribusi di politik praktis kampus, ada beberapa syarat bagaimana politik itu seharusnya dikelola. UGM terbukti gagal melahirkan Anies Baswedan berikutnya, atau Amien Rais baru. Yang dihasilkan adalah orang-orang yang gila kekuasaan, menjadi penindas baru, entah atas nama ideologi atau agama[5].

Soe Hok Gie dalam Catatan Harian Seorang Demonstran (2005) sudah mengingatkan rekan-rekan aktivis mahasiswa bahwa kondisi politik yang tidak sehat melahirkan orang-orang “…yang merintih jika ditindas, namun menindas jika berkuasa…”. Aktivis hanya dijadikan sebagai profesi, bahkan jenjang karier untuk menjabat di kekuasaan yang lebih tinggi, akhirnya Gie menambahkan “stop kemunafikan atas nama apapun, agama atau ideologi”.

Akar permasalahan dalam gerakan mahasiswa saat ini adalah ideologi kekuasaan, bagaimana mungkin mereka yang berbicara lantang tentang Hatta, Syahrir, atau Soe Hok Gie di mimbar demonstrasi atau ospek mahasiswa baru tidak meneladani mereka. Semua berlomba menjadi Organizing Committee, berlomba menjadi Ketua ini dan itu. Sedangkan Hatta pun tidak ter-obesesi oleh kekuasaan[6]. Generasi paska reformasi seharusnya belajar dari angkatan 1908, 1945, 1966, dan 1998. Ada banyak aktivis yang sampai saat ini namanya terus dipuji, karena mereka menjauhkan diri dari kekuasaan yang kotor, ada juga aktivis yang dulu menjadi pemimpin demonstrasi justru sekarang dilempari telur busuk karena aktivis jenis ini berkhianat terhadap cita-citanya.

 

 

 

SP2MP

Kembali lagi pada kasus di UGM, belum lama berselang, tahun 2010 yang kelam dalam kehidupan organisasi mahasiswa disambut dengan peluncuran SP2MP atau Sahabat Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan. Namanya yang elok nan panjang membuat para mahasiswa yang ingin mendapatkan softskill alternatif selain organisasi mahasiswa bergabung. CV dikirim, wawancara, dan permainan khas team work dilakukan. Hasilnya? Beberapa kawan yang bergabung di program tersebut merasa bahwa SP2MP hanya dijadikan ajang pamer, “berapa IPK mu? Siapa yang IPK nya 4? Toefl saya 600 kamu berapa?” dan seterusnya. Budaya pamer di kalangan mahasiswa kemudian muncul. Jika dulu menjadi presiden mahasiswa merupakan sebuah jabatan tertinggi di kalangan mahasiswa, hal itu kini berbeda. Mahasiswa harus rajin belajar, tidak boleh titip absen, IPK cumlaude, TOEFL bagus, beasiswa dari pabrik rokok, dan mendapat kucuran proyek dosen. Itulah mahasiswa generasi baru. Jangan harap berbicara tentang rektor ini itu, kritik dibungkam dengan makanan yang enak. Fasilitas serba wah dari rektorat menyebabkan kelas mahasiswa-pamer ini tumbuh subur.

 

PKM

Mahasiswa bintang bukan lahir dari jalanan seperti aktivis 66 atau 98, jangan sebut Soe Hok Gie yang kerjanya diskusi politik dan naik gunung. Karena naik gunung bisa dikategorikan kegiatan anak nakal hari ini. Beberapa saat yang lalu Rektorat mengeluarkan instruksi dilarang naik gunung (sungguh aneh). Atau jangan harap keluar nama Hariman Siregar tukang onar Malari 1974 sebagai tokoh panutan mahasiswa. Sekarang zaman berbeda, mahasiswa harus kreatif, inovatif, mendukung industri. Maka Pemerintah segera sigap mengumpulkan para direktur kemahasiswaan se-Indonesia, PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) siap diluncurkan. Hasilnya? PKM jadi ajang belajar korupsi kecil-kecilan, buatlah proposal, kirim proposal penelitian/wirausaha tersebut ke panitia PKM, kemudian proyek dikerjakan seadanya, uang keluar tapi tidak digunakan semua. Kemana sisa uang PKM? Pikir sendiri, mungkin masuk kantong sendiri, atau beli laptop, dan akal-akalan mahasiswa lainnya. Walaupun tidak semua mahasiswa melakukan hal tersebut, setidaknya PKM memberikan pelatihan yang bagus agar mahasiswa kreatif memanipulasi laporan akhir.

Mapres

Ini yang luar biasa, Mapres atau Mahasiswa Berprestasi, prosesnya sama dengan PKM, fakultas menyaring mahasiswa dengan kriteria proposal penelitian dan prestasi akademik lainnya sebagai calon mapres. Setelah presentasi di depan juri, diputuskan mapres tiap fakultas yang akan bertanding di tingkat universitas hingga nasional. Yang dihasilkan dari proses ini adalah individu yang tekun belajar, bagus dalam presentasi, tapi terjebak pada pola pikir yang praktis-realistis. Jelas tidak akan ditanya, hal apa saja yang sudah kamu lakukan untuk meng-kritik Pemerintah. Itu pertanyaan yang tidak mungkin ditanyakan. Mahasiswa bangga dengan predikat akademis nya, tapi melupakan peran sentralnya sebagai pressure group (grup penekan Pemerintah). Habis sudah gerakan mahasiswa, digantikan oleh abang-none yang dapat IPK cumlaude.

Aktivis-Akademisi

Tidak salah memang akhirnya publik memandang sebelah mata organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra. Kader yang direkrut biasanya sadar politik tapi miskin prestasi akademis. Jangan pernah bertanya soal IPK kepada aktivis, bisa malu yang ditanya. Mitos konflik abadi antara akademis vs aktivis harus dihapuskan. Generasi Senat Mahasiswa UGM tahun 1990-an menghasilkan gaya intelektual baru yang bersejarah. Ketika fokus mahasiswa hanya turun ke jalan, ada orang-orang besar di Senat Mahasiswa, Anies Baswedan, Elan Satriawan, Poppy Ismalina, Rimawan Pradiptyo melakukan gebrakan dengan kerja-kerja riset lapangan-nya (membongkar tata niaga cengkeh). Saat ini gerakan-gerakan aktivis-akademisi perlu direproduksi kembali oleh aktivis mahasiswa saat ini. Jangan mau di kooptasi oleh akademisi bebas nilai yang tidak berpihak pada rakyat miskin. Jangan mau dinodai oleh makanan dan sertifikat dari pemegang kuasa, sehingga suara kita dibungkam.

“apa boleh buat kita harus maju, karena mundur adalah pengkhianatan”

Che Guevara*[7]


[2] Lihat, Catatan Harian Seorang Demonstran, tanggapan Gie ketika melihat kondisi politik kampus UI yang kontra-produktif.

[3] Presiden mahasiswa merupakan jabatan politik bukan akademik

[4] Lihat detail berita di http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/21/presiden-bem-ugm-dengan-ipk-satu-koma-78593.html

http://emiheru.blog.ugm.ac.id/2010/01/30/dunia-kampus-bem-ugm-nekat-lantik-presiden-terpilih/

[5] Kecenderungan menggunakan simbol agama dalam gerakan mahasiswa mulai terjadi pasca reformasi, lihat Dilema PKS: Suara dan Syariah (2012) karya Burhanuddin Muhtadi.

[6] Hatta akhirnya mundur dari wakil presiden setelah tidak sepakat dengan Soekarno, lihat Otobiografi Untuk Negeriku (2012) karya Moh. Hatta.

[7] Seorang dokter Argentina yang lulusnya lama karena sibuk jadi aktivis, lihat catatan harian Che di “The Motorcycle Diary”

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment