HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Bank Syariah vis a vis Kapitalisme

April 07
11:05 2014

Sekarang kita melihat bahwa kecendrungan Bank Syariah yang tumbuh kian pesat di Indonesia dengan angka pertumbuhan melebihi 20% per tahun membuktikan bahwa bank syariah memiliki potensi untuk berkembang di tengah potensi pasar Indonesia yang sangat besar. Tapi tanpa disadari ternyata perkembangan perbankan syariah yang sangat pesat tersebut menimbulkan beberapa polemik, salah satunya kontradiksi sistem ekonomi Islam dengan bank syariah sebagai simbol utamanya dapatkan menolerir sistem keuangan kapitalisme yang telah mengakar di Indonesia?

Dalam perbandingan sistem ekonomi yang terdapat dalam berbagai literatur memberikan gambaran bahwa ekonomi yang berbasiskan pada Syariah Islam memiliki perbedaan kontras dengan sistem ekonomi Kapitalisme. Bukan hanya penerapan bunga dalam sistem keuangan, namun berbagai aspek lainnya seperti akad, sistem pembagian resiko yang adil antara nasabah (sahibul mal) dengan bank (mudharib) selaku pengelola usaha, serta pemanfaatan uang untuk produksi barang atau jasa yang di halalkan saja. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kontradiksi-kontradiksi yang terdapat dalam dua buah sistem tersebut bertemu? Dan apa strategi masa depan ekonomi Islam untuk dapat mempertahankan idealisme nya?

Jika kita mendefinisikan ekonomi Islam sebagai sistem holistik yang bukan saja mencakup perbankan syariah namun berbagai produk lain misalnya zakat, infaq, dan wakaf maka kita akan menemukan bahwa fokus ekonomi Islam saat ini masih disimbolkan oleh perbankan syariah. Hal ini lah yang kemudian menjadi simbol yang menimbulkan kontradiksi, dan dikecam oleh beberapa kalangan ekonom Muslim, sebagai bentuk penghianatan ekonomi Islam. Karena mereka berpendapat bahwa perbankan syariah sebagai simbol ekonomi Islam ternyata tidak menerapkan syariah secara total dan masih mengikuti pola keuangan mainstream bank konvensional. Benarkah demikian?

Beberapa waktu yang lalu perdebatan tentang “tidak syariahnya bank syariah” mencuat ke publik. Berbagai spekulasi dan opini publik pun meragukan bank syariah yang dinilai sebagai simbolis belaka, dengan menambahkan kata syariah, karyawan yang menyapa dengan Salam, berbaju Islami, dengan skema yang kompleks tapi pada dasarnya nisbah mengikuti tren bunga bank konvensional saat ini agar terlihat kompetitif membuat bank syariah kehilangan esensinya.

Menilai sebuah sistem dengan produk turunannya tentu membutuhkan sebuah analisis strategi yang cukup komprehensif. Sistem memiliki satu kaitan yang erat dengan sistem lainnya yang tentunya saling mempengaruhi, dan besar pengaruh dari sebuah sistem inilah yang mendominasi sistem lainnya, terutama sistem yang kontradiksi dengan sistem dominan. Dalam contoh ini sistem dominan yang berpengaruh adalah sistem kapitalisme sedangkan sistem yang belum bisa melepaskan diri dari pengaruh adalah sistem ekonomi Islam. Sehingga dibutuhkan beberapa strategi pilihan untuk dapat memutar balik keadaan.

Beberapa tawaran strategi inilah yang harus dikaji terlebih dahulu sebelum mengarah kepada kritik-kritik yang cenderung menjatuhkan, atau bahkan skeptis. Pilihan pertama adalah Anarkisme-Sistem, yaitu melepaskan diri secara total dari sistem yang sedang berjalan saat ini. Anarkisme yang dimaksud sesuai teori Bakunin, yaitu mendirikan sistem yang sangat terpisah dari sistem mainstream, bahkan negara tidak diperlukan lagi dalam mengatur sistem ini. Anarkisme-sistem ini kemudian menjadi hal yang cenderung utopis, tidak memahami kondisi masyarakat, dan hanya dilandaskan kepada gerakan-gerakan yang sifatnya reaksioner dalam lingkup yang sangat kecil. Dapat dikatakan sistem Anarkisme-sistem ini ingin secepat mungkin memenangkan pertarungan tanpa harus memasuki sistem yang sudah ada. Ketika ekonomi Islam mencoba menerapkan strategi ini, yang terjadi adalah Alienasi, yaitu sebuah bentuk keterasingan. Arus modal, dan hubungan dengan lembaga keuangan lain menjadi terputus. Strategi ini masih memiliki harapan untuk berhasil jika luas wilayah-nya sangat kecil, dan sistem keuangannya tidaklah kompleks seperti Indonesia.

Pilihan kedua adalah menerapkan apa yang disebut Bank Indonesia sebagai Grand design strategi perbankan syariah dalam menguasai pasar. Dalam Grand Design BI, dibahas secara umum perluasan pasar, dan peningkatan pelayanan terhadap nasabah sehingga terjadi transfer modal dari bank konvensional ke bank Syariah. Strategi ini memang dinilai sangat toleran bahkan cenderung mengukuhkan sistem kapitalisme yang sudah berjalan. Ternyata tidak sepenuhnya demikian. Dalam mempelajari sebuah sistem, ada yang disebut dengan adaptasi, penyesuaian-penyesuaian sistem baru terhadap sistem yang telah diterima dalam masyarakat. Adaptasi memang membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga sistem yang sudah beradaptasi dapat memutar balik sistem status quo. Labeling Syariah dalam strategi ini tidak dapat disalahartikan sebagai penjualan simbol Islam demi keuntungan semata, namun ini menjadi sarana untuk mendakwahkan sistem ekonomi Islam tersebut.

Perubahan yang diciptakan dari adaptasi sistem ekonomi Islam terhadap sistem ekonomi Kapitalisme memang sangat lamban dan terkesan meninggalkan sisi idealisme nya demi memenangkan persaingan pasar tapi inilah salah satu tawaran strategi untuk melawan kapitalisme yaitu mengadopsi berbagai keunggulan-keunggulan dari sistem kapitalisme kemudian merubah secara perlahan sistem tersebut, sehingga pasar akan bergerak mengikuti arus sistem ekonomi Islam. Bahkan Masyhudi Muqqorobin, seorang pakar ekonomi Islam berpendapat “yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan Islamisasi sistem ekonomi, …ke depannya tidak akan ada lagi istilah ekonomi Islam, karena seluruh sistem ekonomi telah menerapkan nilai-nilai syariah, apapun namanya.” Strategi ini dapat berjalan jika aktor-aktor yang terlibat didalamnya seperti pengambil kebijakan di level pemerintah, praktisi, masyarakat, dan ahli ekonomi Islam tetap melakukan koreksi serta oto-kritik sehingga perubahan-perubahan yang terjadi menjadi memberikan dampak yang positif dan tidak keluar dari rel yang sudah disepakati.

Dari kedua sistem tersebut, dapatlah dipetik sebuah kesimpulan bahwa dengan kondisi masyarakat serta sistem keuangan Indonesia saat ini, maka strategi Grand Design BI menjadi alternatif pilihan yang paling tepat. Tetapi tidak menutup kemungkinan strategi ini terus direvisi sehingga dapat mewujudkan masa depan ideal dari sistem ekonomi Islam yang diridhoi Allah SWT.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment