HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Dusta Putihku

April 17
07:21 2014
Namaku Alisha, entah apa yang harus aku perbuat saat ini semua telah terjadi, semua telah berakibat, semua telah merasuki tubuh ini, merenggut beberapa kekuatan yang ku punya, mengambil semangat dengan hati-hati. Aku terbaring lemas, tubuhku kaku, tanganku gemetar dan pikiranku melayang memikirkan sesuatu yang belum pasti dan sebenarnya apa yang telah terjadi. Kepala ini serasa berat bagai memikul beban seberat 100 kg, telinga tak mau mendengar apapun yang berbunyi dan mengusik semua terasa aku mau mati sajaa bukan tak ada yang peduli, tapi meraka tidak ada yang mengetahuinya. Aku hanya terbaring, berusaha menghibur diri sendiri dengan musik, walau telingaku sakit mendengarnya. Tetapi aku tetap bertahan agar mereka tidak mengetahuinya.

Sejenak aku terlelap seolah pergi meninggalkan dunia yang menyiksaku. Aku  pergi dengan damai tanpa teman dan tanpa semuanya dalam mimpiku yang nyaman dan tak merasa sakit, aku bertemu sosok yang ku rindukan tapi tak tau siapa wajahnya bercahaya separtinya aku mengenalnya tapi siapa? dalam kebingunganku ia berkata, “sabarr, sebentar lagi, kami selalu menunggu, belajar yang baik yaaa, jangan pikirkn kami, kembalilaah…. !!!!!” tiba-tiba aku terbangun dan rasanya masih sama badanku kaku, masih ada yang terasa sakit dalam mata tertutup aku menahan sakit dan mengingat mimpi yang membingungkan. Aku terus mencoba menafsirkannya, tapi tidak bisa. Nalar yang belum cukup ini takmampu memecahkan pesan yang hendak disampaikan. Mimpi itu selalu membayangiku seakan jadi teman abadi yang telah bersarang diimajinasiku. Hidup terusku jalani bersama teman-teman seperjuanganku tanpa ada beban sedikitpun.

Hari-hari yang indah dan masa-masa yang sangat membahagiakan membalut semua rasa sakit yang kuderita, seakan menjadi penghianat diantara teman-temanku, membohongi mereka tentang keadaanku.

Setelah ratusan hari telah kita lewati bersama bukan tidak percaya dengan teman-temanku, tapi semua itu aku lakukan karena aku sayang mereka, aku tak mau mereka mengetahui tentang diriku yang sebenarnya, aku tak mau mereka meyadari bahwa diriku yang terlihat setegar inii sebenarnya sangat lemah dan memprihatinkan. Aku bahagia degan keadaanku sekarang  yang hari-harinya selalu dipenuhi candatawa teman-teman tanpa ada beban sedikitpun walau terkadang aku  berpikir seandainya ini adalah waktu terakhirku di dunia, aku tetap merasa bahagia selalu didampingi teman-teman yang sayang padaku.

Hari ini aku menjalani aktivitas seperti biasanya bercanda dengan teman-teman hingga semua nyaris terlupakan seperti dunia ini hanya milik kami berlima Lusi, Atha, Indah, Nany dan saya sendiri Alisha. Tapi tiba-tiba aku merasa seperti ada yang mengalir dari lubang hidung, sahabatku yang melihat langsung menghampiri dan memberitahuku, sebenarnya aku sudah menyadari tapi  aku bertingkah  seloah tak tau agar semua berjalan dengan alamiah. “Alisa hidungmu berdarah,,, Oh iyaaa aku tidak menyadari, makasihya”. Dengan wajah bingung Lusi bertanya “kamu kenapa??” “oh tidak apa-apa mungkin kepalaku terlalu panas karena terik matahari,, ini sudah biasa kok, aku tidak apa-apa”. Aku kebelakang duluya dengan langkah buru-buru aku manuju kamar mandi dan cepat-cepat menghilangkan darah yang terus mengalir ini. Aku gugup, badanku ikut gemetar, jantungku mulai dag dig dug takut teman-temanku mempermasalahkan kejadian ini dan akan bertanya lagi lebih lanjut.

Aku juga tidak tau tentang apa yang telah terjadi pada diriku. Yang aku tau hanyalah sesekali dada ini sesak dan jantung yang berdetak takkaruan dan yang aku tau juga aku hanya terbiasa hidup, tertawa, berbagi dengan teman-teman dan satu yang lebih aku ketahui yaitu menyembunyikan semua yang terjadi padaku yang sebenarnya aku pun tak mengetahuinya.

Sekembalinya dari kamar mandi yang aku hawatirkan ternyata tak terjadi, teman-temanku hanya tersenyum melihat ku dan bertanya “sudah selesai membersihkannya ??” “iya sudah, akukan punya alat ajaib yang kukeluarkan dari kantongku” kataku mencairkan suasanya yang sedikit tegang dengan sedikit lawakan agar mereka tidak panik. HahaaaJ semua temanku tertawa mendengar jawabanku kerena mereka tau aku mengidolakan tokoh Doraemon yang punya 1001 alat ajaib yang disimpan dikantong ajaibnya dan selalu membahagiakan teman-teman dihari-harinya. “Alhamdulillah meraka tak banyak bertanya tentang keadaanku sekarang, cukup aku yang merasa khawatir dengan keadaanku, jangan meraka” kataku dalam hati.

Masih ditaman belakang rumah Indah, memang karakterku yang pendiam, tidak suka curhat berbeda dengan teman-temanku yang lain. Mereka suka berbagi kejadian yang dialami sehri-hari bahkan masalah meraka pun diceritakan. Saling tukar informasi memang penting, menceritakan masalah yang sedang menghampiri juga perlu tapi buat yang satu ini aku tidak sanggup dan mampu melihat wajah jelek yang akan dikeluarkan teman-temanku jika mereka mengetahui keadaanku sekarang. Aku akan tetap merahasiakannya, sampai aku yakin tentang virus yang bersarang dengan nyaman di dalam tubuh ini. Yah, memang kita berbeda mereka saling ngobrol sedangkan aku hanya asyik main geme. Kita berteman sudah lama semenjak SD sampai sekarang SMA. Keluarga kecil yang indah yang terbangun bukan dari ikatan darah akan tetapi terbangun karena ikatan cinta, cinta yang sangat kuat yang mampu bertahan hingga saat ini.

Bukannya cuek, tetapi ketika aku bermain game bagai hidup didunia ini sendirian. Suara-suara yang menyeru tak lagi terdengar oleh telinga. Keseriusan bermain game mengalihkan semua pendangan dan konsentrasiku terhadap teman-teman yang berbicara dengnku seolah-olah aku masuk dalam dunia game itu. “Kebiasaan buruk”, kata Nany. “Plok” Atha menepuk bahuku menghilangkan konsentrasi bermain game “Alisha, sudah main ga­me-nya”, aku masih belum berhenti menatap game dilayar monitorku. “Alisha, sudah” Indah langsung menutup layar monitor. Dengan reflex aku menatap wajah Indah bersama kekesalan, hasrat hati ingin marah dan mengatakan “Kenapa ditutup Laptopnya? padahal sedikit lagi aku mengalahkan Raja monster dan berhasil menguasai kerajaan”. Tetapi, sebelum kata-kata itu keluar Indah langsung mendorongku dan berkata “main game terus kerjaannya, setiap berkumpul hanya game yang diperhatikan. “Kamu masih menganggap kami teman? Atau hanya game temanmu? Lihat, Lusi jadi marah karena kamu tidak memperhatikan dia ketika ingin bicara denganmu” belum sempat menjawab pertanyaan Indah, aku langsung belari mencari Lusi. Di antara teman-teman yang lain Lusi paling sensitive dengan kami kepekaannya terlalu berlebihan makanya aku harus mencari dan meminta maaf padanya.

Keesokn harinya di sekolah, aku tidak hadir. Teman-teman menanyakanku pada Lusi. “Mana Alisha, Lusi ?” tidak tau, jawab Lusi. “Bukankah terakhir dia bersama kamu kemarin?” tidak tau, lanjut Lusi. “Terus kemana Alisha, kenapa dia tidak mengirim kabar?” tegas Nany. Semua bingung, karena Aku tidak biasa menghilang dan tanpa kabar apapun. Kehawatiran merka berlanjut setelah seminggu tak ada kabar dariku. Bukan tidak mencari tahu tentang aku, akan tetapi setelah semua tempatku mereka kunjungi tak ada satupun kabar yang mereka dapatkan tentang kebaradaanku. Sudah mencoba kerumah, tetapi rumahku kosong tanpa penghuni. Dengan segala usaha yang telah dilakukan, mereka menarik kesimpulan bahwa aku pindah tanpa pamit dan tidak membaritahukan meraka. Lusi, Indah dan Atha sangat kecewa dan tak mau mencari tentang kabarku lagi. Nany yang masih berusaha keras mencariku sedikit demi sedikit mundur tidak menyerah tapi tak tau lagi harus mencari kamana, semua telah dilakukan tapi hasilnya tetap sama keberadaanku juga belum mereka katahui.

Sebulan pasca bertemu di rumah Indah, merupakan hari terakhiraku bersama teman-teman. “Aku merindukan kalian sahabatku, bagaimana kabar kalian? Semoga kalian tetap tersenyum tanpa aku, jangan cari aku teman-teman, bahagialah dihari-hari kalian, aku akan selalu mendoakan kalian” kataku dengan suara yang tersisa. Mengingat masa-masa indah bersama teman-teman, membuat aku terharu. Air mata yang masih bersarang dikelopak mata ini seolah berteriak ingin keluar karena penampungan sudah  penuh.

Bilik yang semua berwarna putih itu sudah menjadi rumah kedua selama sebulan belakangan ini. Pandanganku terbatasi, aku tak bisa melihat dunia luar bahkan menghirup udara segar aku tak mampu hanya mengandalkan udara yang tersaring dari sebuah tabung yang dialirkan melalui plastic yang menutup hidung dan mulut. Kini aku punya teman baru yang sangat perhatian dan selalu menanyaakan kabarku setiap dua jam sekali yang tak pernah marah ketika aku mengeluh kesakitan, tak pernah marah ketika aku menolak untuk minum obat. Mereka sangat baik, selalu ada saat aku membutuhkan. Tetap bersikap tegar, menyembunyikan sakit yang benar-benar sakit berharap ketika aku menjerit kesakitan tak ada seorang pun yang melihatnya, berharap hanya senyum yang selalu terlihat walaupun hanya berbaring dengan pesan bahwa aku baik-baik saja, aku bisa melewati semuanya, tidak usah khawatir.

Pagi pukul 09.01, Ayah masih setia menemani tidur disamping bibir kasur tempatku berbaring. “Ayah bangun, aku mau memakai baju yang Ayah belikan dua minggu lalu” kataku membangunkan Ayah dari tidurnya. “Oh kamu sudah bangun nak, kenapa? Baju? Mau pakai baju yang Ayah belikan? Ia ia, tunggu Ibu ambilkan dirumah ya, ada yang Alisha butuhkan lagi? Ayo katakana nanti Ayah ambilkan” dengan panic Ibu mengatakan semuanya. “Tidak Ayah, Alisha hanya ingin memakai baju yang Ayah belikan itu saja cukup” jawabku tersenyum sambil menatap wajah Ayah yang penuh kasih sayang itu.

Sepuluh menit Ayah diperjalanan pulang mengambilkan baju yang aku inginkan, aku merasakan sakit yang begitu dahsyat. Sakit yang selama ini bisa aku tahan kini meledak secara tiba-tiba tanpa menunggu aku mempersiapkan mental untuk menahannya. Sempat menahan dan berkata “Semua akan baik-baik saja, aku bisa melawannya separti dalam game” tiba-tiba ada seorang suster yang masuk dengan tergesah-gesah ia memanggil dokter. Suasana menjadi kacau aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakana yang aku lakukan hanyalah berusaha menahan rasa sakit yang mengamuk bagai raja monster yang keluar dari markas untuk balas dendam karena anak buahnya telah aku kalahkan.

Detik-detik terakhir menghampiri. Dengan pandangan sayup, aku melihat sesosok yang hadir dimimpiku dulu bercahaya dan cantik. “Kemari anakku, kamu terlalu lelah, istrahatlah dipangkuanku” kali ini semua terlihat jelas ternyata itu adalah sesosok Ibu yang selalu ku rindukan. “Ibu….. ia, akhir-akhir ini aku lelah tanpa sebab. Aku ingin beristirahat dipangkuanmu” terdengar bunyi “tit tit tit” suara apa itu Ibu ? tanyaku berlanjut. “Tidur saja nak, tidak usah hiraukan suara-suara yang menggagu ketika kamu ingin beristirahat” lanjut Ibu.”Tapi bagaimana dengan Ayah? Dia belum datang dari rumah mengambilkan baju untukku? Aku menyambung. “Ayahmu pasti akan mengerti” tegas Ibu. Perlahan aku menutup mata dan tak ada lagi yang terdengar. Tiiiiiiiiiiiiiiitttttttttt…….

Ayah datang dengan memasang wajah heran melihat banyak dokter yang keluar masuk dari ruang kamarku. Sambil membuang baju yang ia pegang berlari kencang menghampiri kamarku. Didepan pintu Ayah melihat seorang suster menarik kain manutupi badan sampai kepala. Sebagai Ayah yang sudah dewasa mengerti dengan apa yang telah terjadi. Tangis menghampiri wajah tegar Ayah yang duduk disudut pintu. Kemudian, entah dari mana mereka tahu tentang kabarku, teman-temanku datang bersama daraiaan air mata, mereka menghampiri tubuhku yang terbujur kaku.  “Alisha jangan pergi, kenapa kamu meninggalkan kami? Kenapa dengan cara seperti ini? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal sehingga kami bisa menemani hari-harimu?” kata teman-teman. Seorang suster mengatakan bahwa Alisha masuk rumah sakit ini satu bulan yang lalu sore hari. “Jadi karna itu Alisha masuk rumah sakit?” kata Lusi. Semua mata tertuju padanya mendengar pengakuan itu. “Kenapa Lusi? Apa yang kamu lakukan sama Alisha?” Tanya Indah. Sambil menangis Lusi menjawab “A..aku tidak melakukan apa-apa.. saat itu Alisha mengejarku, entah apa yang akan ia katakana aku langsung menolaknya dan lari menjauh tanpa menoleh kebelakang” sedikit memicu kemarahan Nany dan teman-teman, Ayah menghampiri mereka. “Tidak nak, bukan karena kamu Lusi, Alisha memang sudah menderita pemyakit ini dan diketahui sejak dua bulan lalu”. “Tapi, kenapa Alisha tidak memberithu kamu Om kita kan teman-temannya?” sahut Atha. “Alish tidak mau kalian merasa cemas dengn keadannya, Alisha juga yang melarang Om untuk memberitahu kalian” lanjut Ayah. “Tapi kenapa?” kata Lusi dengan isak yang tersisa. “Jadi selama ini Alisha menderita sendirian? Saat darah yang keluar dari hidung Alisha waktu dirumahku itu dia sudah menderita? Kenapa aku tidak mengetahuinya waktu itu? Aku memang teman yang tidak baik” sambung Indah. “Sudahlah nak, bukan kesalahan kalian, inilah jalan yang dipilih Alisha dan dia bahagia” kata Ayah menenangkan.

            Kemudian seorang suster menghampiri mereka dan menyerahkan sepotong kertas, dan ternyata itu adalah tulisan Alisha yang menitipkan pesan untuk teman-temannya.

            Isi pesan

Teman-teman, terima kasih atas semuanya. Setelah kalian membaca surat ini mungkin aku telah tiada. Jangan menagis dan tetap tersenyum. Teman-teman cukup berat menyembunyikan semua dan menjalani hidup yang penuh sandiwara. Tahukah kalian dibalik senyumku ini ada tangis yang mendalam bahkan sangat dalam tersimpan jauh di pelupuk mata yang sayup dan biarkan ku masuk dalam tangis mungkin berbohong adalah jalan terbaik. Aku sayang kalian dan maaf karena aku tidak memberitahu lebih awal. Alisha sima 

0leh: Asriani

(Mahasiswa Program studi Bahasa Indonesia, Kader HMI Cabang Palu)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment