HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Iqthisaduna, Penyerangan radikal terhadap Kapitalisme dan Marxisme

April 07
10:40 2014

Mohammad Baqir Al-Sadr (آية الله العظمى السيد محمد باقر الصدر)

 

Baqir Al-Sadr merupakan ulama yang lahir di Irak pada tahun 1935. Ia merupakan tonggak baru bagi pemikiran ekonomi Islam yang cenderung doktrinal dan radikal. Pada tahun 1980, karena aktivitas politiknya menentang Partai Bath yang dipimpin Sadam Hussein akhirnya Baqir Al-Sadr di eksekusi. Hingga kini karya-karya klasik dari Baqir Al-Sadr seperti Falsafatuna dan Iqthisaduna dibaca luas oleh berbagai kalangan, terutama akademisi yang menekuni sejarah, filsafat dan ekonomi Islam. Selain dikenal karena ke-ulamaan nya, ia juga bergabung di Hizbut Tahrir.

Corak pemikiran Baqir Al Sadr dalam menuliskan buku Iqthisaduna sangat dipengaruhi tradisi ulama syiah yang pada waktu itu mengalami kebangkitan di Iran (Revolusi 1979) dan perang dingin antara paham ekonomi Marxisme dan Liberal.

Buku Iqthisaduna merupakan bantahan terhadap intelektual Muslim yang kehilangan arah sejak runtuhnya Kesultanan Turki Usmani tahun 1924. Ekonomi Islam yang ditulis oleh Ibn Khaldun, Abu Yusuf, dan ulama klasik lainnya tidak berlanjut. Kehilangan arah dalam menganalisis perilaku ekonomi sehari-hari yang telah jatuh pada jurang riba maupun transaksi yang diharamkan menimbulkan “distorsi intelektual Muslim”. Oleh karena itu, lahirnya Iqthisaduna merupakan penyegar di tengah ambruknya sistem ekonomi Islam dunia.

Dalam bukunya, Baqir memberikan pemaknaan yang dalam terhadap ekonomi Islam bukan sebagai ilmu melainkan doktrin. Jika ilmu mengalami kebebasan dalam pencarian, sebaliknya doktrin ekonomi Islam menerapkan pembuktian atas garis dasar ekonomi yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an, Hadits, maupun Ijtihad para Ulama.

Secara garis besar Iqthisaduna menyerang dua kutub besar aliran ekonomi dunia pada saat itu. Kapitalisme yang memenangkan perang dingin dianggap merusak tatanan nilai keadilan di masyarakat. Eksploitasi, penumpukan harta dan penerapan riba menjadi landasan Baqir dalam menyerang kapitalisme. Sementara disisi lain, Marxisme dengan perjuangan kelas dan pemerataan distribusi dikecam karena berlebihan dalam menempatkan pemilik modal sebagai kelas yang 100% salah. Oleh karena itu, Baqir menekankan prinsip keadilan baik dalam proses produksi maupun distribusi.

Kelemahan terbesar buku Iqthisaduna adalah penulis buku ini merupakan Ayatullah atau ulama ber mazhab Syiah. Sehingga hampir 20 tahun sejak buku tersebut beredar, kurang diterima di kalangan Sunni (seperti Indonesia, Malaysia). Selain itu kritik datang dari organisasi-organisasi Islam yang kurang suka terhadap Hizb Tahrir, menganggap cara-cara Baqir terlalu radikal dan sulit diterima di era perekonomian modern.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment