HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Ahmad Wahib : Telaah Kritis Pergolakan Pemikiran Islam

April 24
10:20 2014

Mengenang Sosok Wahib

Ahmad WahibSosok Ahmad Wahib selalu diidentikan dengan nilai-nilai liberalisme, pluralisme, dan humanisme. Wahib adalah sesosok pribadi yang teguh dalam ‘mengembarakan pemikiranya’ dengan sebebas-bebasnya. Keresahan-keresahan wahib telah mengantarkan pemikiranya pada puncak rasionalisme-eksistensialistik yang berusaha mendestruksi seluruh kenyataan-kenyataan yang bersumber pada dogmatisme. Bagi wahib kenyataan harus mampu dibaca dengan kesadaran yang dibangun diatas rasionalisasi seluruh prinsip-prinsip kehidupan. Rasionalisme-eksistensialis selalu mencari ruang untuk hadirnya individu dalam setiap realitas kompleks dan mengajarkan tafsir individu sebagai garis mutlak yang tidak bisa hancurkan dengan penyeragaman makna. Wahib berusaha mereproduksi dirinya sebagai sosok eksistensialis yang ada dalam makna-makna yang dinamis dan tidak berpijak pada kemutlakan hasil melainkan proses.[1]

Memahami sosok wahib mungkin bisa dikomparasikan dengan sosok lain segenerasinya, misalnya Soe Hok Gie. Dua tokoh muda ini lahir pada generasi yang sezaman namun keduanya berada pada latar belakang dan kiprah yang berbeda. Gie yang kita kenal lahir dari keluarga intelektual tionghoa. Dalam keseluruhan proses hidupnya Gie berusaha melawan pragmatisasi politik. Gie sangat tekun mendalami berbagai persoalan politik kontemporer dan sangat jengah dengan perbedaan ideologi yang melahirkan garis demarkasi sesame anak bangsa. Gie menginginkan satu kehidupan pluralis yang bisa menaungi segala prinsip-prinsip tanpa kemunafikan atau “mereka hanya mengatasnamakan ideologi untuk memperteguh syahwat kekuasaanya:. Maka kiprah Gie sebagai tokoh gerakan mahasiswa “Gemasos” dan kedekatanya dengan tokoh-tokoh politik oposisi menjadikanya orang yang dianggap paling berbahaya bagi status quo.

Berbeda dengan Gie, Wahib lahir dari keluarga santri tradisional. Ia merasa seluruh kesadaranya pada segala realitas memerlukan rasionalisasi. Ia bukan sosok seperti Gie yang hidup dalam dinamika politik. Sosok wahib identik dengan kiprahnya sebagai sesosok pengader di HMI cabang Yogyakarta, ia selalu meresahkan segala hal yang dilihatnya tidak rasional dalam perilaku beragama umat islam. Keresahanya didasarkan pada kekakuan dan kejumudan pada dogmatisasi agama yang  mengantarkan agama tidak lagi menjadi wahana penyadaran dan bangunan prinsip moral, melainkan sekedar menjadi alat legitimasi politik kekuasaan. Agama sering direproduksi oleh tokoh-tokoh islam sebagai alat mobilisasi untuk menghadapi lawan-lawan politiknya.  Wahib bukan orang yang banyak terlibat dalam perdebatan politik praksis ia lebih tertarik pada filsafat agama yang mengantarkanya berfikir tajam bagaimana menempatkan prinsip-prinsip agama dalam kehidupan yang kontekstual.

Pergolakan Pemikiran Islam dalam Ruang Gagasan

Wahib selalu mereproduksi gagasanya dalam ruang-ruang terbatas yang cukup intim, bukan pada khalayak luas. Limited Group yang dibentuknya beranggotakan Dawam Rahardjo, Djohan effendi, dan dimentori oleh Mukti Ali. Reproduksi gagasan yang sangat intim dilakukanya dalam kelompok ini, dilain sisi seringkali Wahib menantang pemikiran-pemikiranya dalam forum-forum pelatihan kader di HMI. Sosoknya sebagai konseptor dan pengader berhasil menerjemahkan prinsip-prinsip dalam lingkaran kultur dan tradisi organisasi yang digelutinya. Namun, kegelisahanya sebagai pribadi memang sangat sulit dipahami secara utuh tanpa melihat konteks dimana ia hidup.

Wahib sempat hidup bersama para romo katolik di asrama realino. Dia sangat banyak menyerap gagasan moralis kalangan gereja katolik yang berusaha membangunkan agama sebagai landasan moral publik. Namun, kedirian wahib sebagai seorang muslim, dan aktivis HMI mengidentikan dia dengan keseluruhan pilihan sikap HMI dalam kehidupan publik. Hal ini baginya agak sulit diterima, ia menyadari banyak perbedaan signifikan antara apa yang ia resahkan dengan praksis pilihan-pilihan sikap kawan-kawanya, baik dalam politik maupun dalam praksis pemahaman beragama. Tidak jelas, apa yang mendasari sosok wahib bergulat habis-habisan dengan hal ini, namun ada yang tersimpan bahwa ia memang tidak puas dengan kondisi aktual saat itu.

Dalam memahami wahib sangat penting untuk dilihat apa, dimana dan kapan pemikiranya ditelurkan. Wahib bukanlah pemikir yang telah selesai, ia benar-benar orang yang resah dalam mencari hakikat hidupnya sebagai hamba Allah dalam menempatkan diri dengan berbagai perubahan realitas yang begitu cepat. Periode dekade 60-70-an. Pada periode ini pergolakan sosial dan politik yang sangat dramatis terjadi akibat G 30 S.[2] Panasnya konflik ideologi menjadikan islam sebagai salah satu alat untuk menghabisi ideologi lain, termasuk jadi legitimasi untuk membenarkan pembunuhan pada mereka yang tak bedosa atasnama agama. Keresahan ini menyelimuti pola pikir wahib untuk membangun satu konsepsi islam yang butuh diterjemahkan ulang secara individual agar setiap individu menemukan makna atas keberislamanya secara otentik bukan semata-mata tafsir atau dogma dari orang-orang disekitarnya. [3]

Pemikiran wahib dalam buku Pergolakan pemikiran islam, bukanlah satu rangkaian utuh yang terstruktur, wahib menuliskanya dalam lembar-lembar catatan harian, jelas siapapun tahu catatan harian bukan konsumsi publik, bahkan sesuatu yang sangat intim bagi manusia dan lingkaran terdekatnya. Walaupun ada beberapa tulisan dan argumentasi yang tajam, tapi ini memiliki ruang personalitas yang tinggi. Keresahan ini jelas berbeda dengan kaum liberal proyekan yang menuangkan kekonyolan-kekonyolan diruang publik dan belum tentu ia mengamini apa yang diucap atau dituliskanya.

Wahib bukan sosok intelektual yang genit, tapi ia berusaha menerjemahkan apapun yang bebal dalam dirinya untuk dirinya pula. Sayangnya, ia meninggal di usia yang terlalu muda dan pada masa pencarianya yang belum pernah usai, mungkin akan berbeda ketika ia meninggal di era tuanya, jelas konsistensinya sebagai pemikir yang rasionalitis, skeptis dan kritis akan bisa dikoreksi apakah ia akan tetap bergulat dengan pemikiran demikian ditengah proyek-proyek atau ia mengartikulasikan keresahan justru pada pendirian liberalismenya sendiri. Bahkan dalam beberapa tulisan wahib menunjukan ketawaduanya dan sekaligus keraguan atas jalan pikirnya untuk menemukan kebenaran dengan mengatakan[4] :

 

 

Sekilas Pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib

Sebenarnya sulit untuk meringkas pemikiran wahib yang terkandung dalam buku catatan harianya. Hal ini dikarenakan kompleksitas isi buku tersebut dan kesingkatanya serta tidak ada penjelasan apa yang terjadi saat itu dan sebagai respon atas apa wahib kemudian menuliskan setiap jengkal kalimatnya. Beberapa bisa tertangkap dengan jelas sebagai ungkapan kekecewaan maupun sebagai ungkapan keresahan, namun banyak yang tidak bisa terlacak.

Secara umum pemikiran wahib cenderung identik dengan refleksi kritisnya atas segala kondisi yang dianggapnya tidak ideal. Wahib menginginkan satu rumusan ulang tentang agama yang tidak mewujud dalam dogmatisme, melainkan hidup sebagai kesadaran otentik. Pemikiran semacam ini nampaknya bukanlah sebuah pemikiran yang mudah untuk dicerna publik, melainkan suatu gagasan emosional pribadi yang kemudian lahir dari sebuah latar kecenderungan untuk menginginkan sebuah pembaharuan total menuju puncak idealitas.

Wahib menolak pula segala bentuk nostalgia dengan menempatkan sejarah hidup Nabi Muhammad saw, sebagai hasil final peradaban islam. Hal ini sering disebut wahib sebatas bentuk sikap apologetic islam untuk menutupi kegagalanya. Bagi wahib, sejarah memiliki dimensi proses yang tak pernah final, sehingga perlu kritik terhadap apa-apa yang telah final. Walaupun begitu, wahib cukup sering menjadikan refleksi sejarah Rasul sebagai bentuk interpretasi atas Al Quran dan Shunah.[5]  Bai wahib, islam harus menempati sebatas konsep sumber keluhuran moral dan perlu diterjemahkan kembali dalam praksis kehidupan.[6] Sebagaimana disebut wahin pada hal 115 “insane medeka”

Dalam catatan harian yang dibukukan ini, wahib juga banyak berbicara tentang budaya dan politik namun dua tema itu tidak lebih sekedar curahan gagasanya yang tidak terlalu mencolok. Wahib hanya menekankan perlunya pluralitas dan kemajuan. Hal ini identik dengan ideologi modernisme yang sedang hangat pada generasi masa awal orde baru. Gagasan wahib tentang budaya lebih sering menyerang budaya-budaya yang dianggapnya melawan kemajuan.

Gagasanya wahib, justru mencolak tentang bagaimana menghidupkan sebuah organisasi dan bagaimana dia menghayati semua proses ilmiah di kampus. Wahib mengajarkan konsistensi dan kekritisan yang mampu menghasilkan dinamisasi yang terus berjalan. Alhasil gagasanya secara tidak sadar terlembagakan dalam banyak proses di HMI. Walaupun, secara politis wahib dikalahkan oleh kubu Nur Cholis Majid yang pada waktu itu dianggap sebagai fundamentalis dan natsirian.

Refleksi terhadap Wahib

Di zaman mudah mengkafirkan orang dan susah mencari sosok yang memiliki integritas serta kepekaan moral, sosok wahib mungkin menjadi sosok yang aneh. Aneh karena ia dengan kekonyolanya menertawakan tuhan sedemikian rupa, dalam arti dia berusaha mencari pemahaman kebenaran tentang tuhan secara otentik. Sebuah proses pencarian yang sangat berharga dan tentunya sangat teramat menyiksa dan melelahkan. Wahib sebagai sesosok pluralis memang mudah disalah pahami sebagai pengkhianat agamanya, namun sebagai seorang yang berusaha memahami realitas kemanusiaan ia merupakan generasi yang berusaha keluar dari pertikaian dan kejumudan yang dipengaruhi realitas sosial politik yang mengatasnamakan agama ataupun ideologi demi syahwat kepentingan. Hal ini nyata-nyata masih eksis di era kini dimana pragmatisasi dan kepentingan menjadi ideologi resmi untuk mengejar kekuasaan, sedangkan islam, nasionalisme, kerakyatan sekadar pemanis untuk menggalang suara.

Wahib memang bukan panutan, dia sendiri belum selesai menemukan kebenaran yang ia yakininya, ia terjebak dalam penggunaan alat pencarian kebenaran yang tiada batasnya yaitu “akal”. Namun, konsistensi wahib bukanlah persoalan sederhana, yang sulit tergantikan sebagai sebuah proses pencarian kebenaran, Merefleksi wahib sebagai seorang pengembara pemikiran sedianya bukan untuk mencari sisi sesat apalagi mencari sebuah pembenaran atas kerancuan dan kegelisahan kita, melainkan merefleksi pada diri kita seberapa jauh kita telah menyelesaikan soal-soal prinsip pada diri kita, seberapa jauh pula kita menemukan kebenaran dan menyuarakanya, seberapa jauh pula kita selalu bersikap tawadu dan melakukan muhasabah “otokritik” yang tajam pada berbagai kerancuhan diri dan kolektif sebagai sebuah generasi.


[1] Lihat hal 43 “aku bukan wahib” dan hal 9 “kebebasan berfikir”

[2] Lihat hal 30 “haruskah aku memusuhi mereka yang bukan islam……”

[3] Lihat hal 11 “interpretasi Al Quran dan Hadist” -17 “emoh jadi orang munafik”

[4] Lihat hal 4 “pemahaman islam yang dinamis”, juga hal 16 “tuhan maklumi aku”

[5] Lihat hal 103-104 “Quran dan hadist untuk memahami sejarah Muhammad”

[6] Lihat hal 113-114 “kesempurnaan islam”

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment