HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...

Dunia Sudah Berubah, Tapi Jawaban untuk Konflik Muslim-Barat Masih Ada

June 01
20:12 2013

ilustrasi

Riyadh – Pada awal abad ke-21, orang-orang di seantero dunia memiliki harapan besar akan adanya kemajuan dan perdamaian global. Namun, serangan 11 September 2001 oleh beberapa orang Muslim menghidupkan kembali sejarah ketegangan antara Barat dan dunia Muslim.

Sayangnya, peristiwa ini, dan perang yang dilancarkan AS setelahnya, mengukuhkan perpecahan ini sebagai Barat versus dunia Muslim.

Namun, tidak seperti pemisahan geopolitik lainnya, paradigma ini tidak sejajar. Hubungan antara Barat dan Islam tidak eksklusif hanya antara dua agama, seperti Islam dan Kristen, tidak pula antara dua kawasan, seperti Timur dan Barat. Hubungan ini bahkan tidak bisa disamakan dengan hubungan antara dua ideologi sosio-politik seperti kapitalisme dan komunisme. Benang merah dalam paradigm ini adalah budaya.

Namun, sama seperti tidak berdasarnya anggapan bahwa Amerika Serikat dan Prancis – dua negara Barat — memiliki budaya yang persis sama, demikian pula dengan dunia Muslim. Karenanya, cara pandang Muslim-Barat agak samar; hanya bisa digambarkan sebagai dua budaya beragam yang saling bersilang, berpadu atau sekadar berkaitan. Di dunia modern, negara, masyarakat, tokoh, aliansi dan paradigma terus bermunculan dan mempertimbangkan kesalingterkaitan antara dunia Barat dan dunia Muslim, khususnya di bidang-bidang seperti keamanan global, lingkungan, kesehatan publik dan ekonomi.

Kini, kecepatan perubahan sosio-politik dan ekonomi akibat teknologi-teknologi baru sangatlah luar biasa. Kita menyaksikannya sendiri selama Revolusi Arab. Perubahan yang terjadi di satu negara atau kawasan bisa berdampak tak langsung pada negara-negara dan kawasan-kawasan lain. Yang terjadi di Timur Tengah secara langsung memengaruhi Barat di tingkat sosial, politik dan ekonomi. Misalnya, jika sumber daya alam mengalami krisis di satu negara, itu bisa mengubah perekonomian global. Secara politik, perubahan rezim bisa menyebabkan perubahan dalam perimbangan kekuasaan dan aliansi-aliansi secara global. Demikian juga halnya dengan setiap perubahan besar di Barat yang bisa secara langsung atau tidak langsung memengaruhi dunia Muslim karena meningkatnya keterhubungan antara berbagai rezim pemerintahan, perekonomian dan bahkan gaya hidup.

Sekali lagi, ini saatnya warga dunia bertemu dan saling mengungkapkan apa yang menjadi perhatian dan kepentingan mereka. Misalnya, kalau sebagian orang di Barat mudah sekali mengkritik Nabi Muhammad sebagai ekspresi kebebasan, apa tujuannya? Yang jelas, akibatnya adalah meningkatnya ketegangan dan reaksi berlebihan di dunia Muslim. Sebaliknya, akan lebih bermanfaat bagi kedua pihak untuk bicara terus terang tentang masalah-masalah mendasar yang menyebabkan insiden-insiden itu – entah itu hasrat akan kebutuhan universal terhadap kebebasan ataupun respek.

Ungkapkan Dengan Jelas, dan Orang akan Mendengarkan

Pengalaman saya dalam dialog antaragama menunjukkan bahwa dialog antarmasyarakat di tingkat akar rumput masih merupakan cara terbaik untuk mencapai pengertian. Kejujuran dan keterbukaan dalam dialog cenderung meruntuhkan berbagai sekat, miskonsepsi dan prasangka, dan membangun hubungan yang kuat. Orang-orang Barat dan Muslim yang tinggal di negara-negara mayoritas Muslim harus saling berbicara secara langsung dan terbuka. Bagaimanapun, Perjanjian Damai Mesir-Israel tidak akan terjadi tanpa komunikasi langsung antara dua presidennya.

Untuk memfasilitasi ini, pusat-pusat dialog yang menghubungkan warga dengan warga, organisasi dengan organisasi, seperti King Abdullah bin Abdul Aziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue di Wina—sebuah upaya kolaboratif antara Arab Saudi, Austria dan Spanyol —telah dibuka di berbagai penjuru dunia.

Meski demikian, masih dibutuhkan lebih banyak lagi kegiatan masyarakat sipil di dunia Muslim. Para tokoh agama, aktivis, sosialis dan nasionalis Muslim seharusnya terlibat dalam dialog di tingkat nasional dan internasional untuk berkomunikasi dengan pihak Barat.

Berbagai mosaik budaya telah berhasil hidup rukun bersama di bawah sistem negara modern – contohnya Amerika Serikat, di mana orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda bermigrasi dan kini hidup di kota-kota dan lingkungan yang sama seraya mempertahankan keindahan budaya mereka masing-masing.

Situasi yang relatif harmonis ini juga bisa kembali terwujud di antara berbagai masyarakat dan negara di tingkat global. Kepedulian terhadap orang lain seperti halnya kepedulian kita terhadap diri sendiri bisa sangat membantu memecahkan masalah-masalah kita.

*Dr Fahad Al-Homoudi
Guru Besar Imam Muhammad bin Saud Islamic University dan Ketua Umum Western Studies Institute Riyadh. Artikel kelima dari seri Muslim-Barat. (CGNews)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment