HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...

Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan

May 09
11:32 2013

Judul : Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis : N. Mursidi
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 1/Februari 2013
Tebal : xiv + 243 halaman
ISBN : 978-602-020-594-6
Harga : Rp44.800

“Di jalanan aku mengenal kehidupan. Dari halaman koran, aku bisa belajar menulis.” – Nur Mursidi

Tatkala masih kuliah di Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis pernah mengontrak rumah di dekat rel kereta api Sapen. Agar lebih murah, mereka urunan (membayar) beramai-ramai. Total penghuninya ada genap 8 orang. Uniknya, hampir setiap lima belas menit lantai rumah tersebut berguncang dan menimbulkan gempa lokal.

Alhasil, selama tiga bulan pertama, ia tak bisa tidur nyenyak di malam hari. Tapi ibarat blessings in disguise alias berkah terselubung, ia malah jadi lebih produktif menulis. Suara mesin ketiknya bertalu memecah kesunyian malam. Saat kereta api melintas, otomatis kantuknya sirna akibat guncangan kecil yang tercipta. Tahun 2003 merupakan puncak kreativitas Nur Mursidi. Ada total lima puluh enam tulisan dalam aneka genre seperti – resensi buku, cerpen, esai sastra, esai film, opini, dan puisi – bertebaran di berbagai media lokal dan nasional.

Begitulah sekilas perjuangan hidup penulis buku ini. Kini pria kelahiran Lasem, Jawa Tengah tersebut hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah Islam bernama Hidayah. Pada saat seleksi wawancara calon jurnalis, pimpinan redaksi kagum dengan karya tulisnya yang dilampirkan dalam surat lamaran. Ternyata ijazah sarjananya lebih sebagai formalitas belaka. “Rupanya banyak tulisanmu yang sudah dimuat di lembaran koran. Bahkan kau mampu menulis dalam banyak genre,” puji sang redaktur saat itu.

Tulisan-tulisan N. Mursidi ialah – meminjam istilah Tukul Arwana – hasil kristalisasi keringat. Dulu ia harus naik-turun bus antarkota untuk menjajakan koran di jalanan kota Gudeg. Lewat buku “Tidur Berbantal Koran” ini ia berbagi pengalaman tersebut. Setiap hari bertemu dengan tukang becak, penjual rokok, sopir bus, anak jalanan, pengamen, bahkan pencopet. Bahkan pada suatu siang perutnya pun nyaris ditikam preman yang mabuk. Uang Rp2.000 hasil menjual koran ludes seketika.

Kendati demikian, sederet pelajaran berharga dapat ia peroleh di jalanan. Dari kernet bus, ia belajar bagaimana naik dan turun bus agar tak jatuh terjerembab. Dari penjual rokok, ia belajar kesabaran kalau koran-korannya tak laku. Ia kerap kali menjumpai si penjual rokok menunggui kios sampai larut malam. Dari sopir bis, ia belajar mengendalikan emosi karena setiap sopir bus diburu waktu ngetem yang terbatas dan harus bersaing mencari penumpang. Dari tukang becak, ia sadar untuk rutin membaca koran di pagi hari. Dari gerombolan pencopet, ia belajar cara mencari uang dengan halal. Sebab ia jadi tahu kalau cara yang mereka tempuh tidak barokah itu justru merugikan orang lain (halaman 55).

“Tidur Berbantal Koran” merupakan potret perjuangan seorang anak manusia yang tak kenal lelah. Hingga ia mampu meraih mimpi di tengah keterbatasan. Sepakat dengan pendapat Effendi Bepe, “Buku ini perlu dibaca orang muda atau siapa saja yang sedang “galau” merajut masa depan. Sukses memang harus diperjuangkan, sebab tidak akan pernah jatuh dari langit.”

Selamat membaca!

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. T. Nugroho Angkasa S.Pd
    T. Nugroho Angkasa S.Pd May 10, 17:27

    Terimakasih HMINEWS.COM yang telah memuat resensi buku ini. Salam

    Reply to this comment

Write a Comment