HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Bila Anak-anak Kita Bertanya Tentang Tuhan

January 20
00:25 2013

Oleh: Asma T Uddin

Washington, DC – “Kalau Tuhan menciptakan segala sesuatu, matahari, pohon, bumi, lalu… siapa yang menciptakan Tuhan?” “Di mana saya berada sebelum Tuhan menciptakan saya?”

Zaynab, putri saya yang masih berusia lima tahun, semakin banyak bertanya tentang agama, Tuhan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Di usianya sekarang, dunianya tumbuh berkembang luas dengan sangat pesat.

Seperti halnya anak-anak lain dari semua agama, ia mulai mengapresiasi hal-hal gaib dari pengalaman keduniawiannya – ia menghayati, contohnya, keyakinan bahwa malaikat duduk di pundak kanan dan kirinya, yang dengan cepat mencatat segala hal baik dan buruk yang ia lakukan. Ia sangat senang bahwa Tuhan Mahahadir, melindunginya dari bahaya-bahaya yang ia sendiri tak tahu adanya. Ia sangat senang bahwa segala sesuatu, meskipun tampaknya tak berguna, sebenarnya selaras dan berguna.

Selaku orangtua, saya berusaha mempertahankan kepolosannya ini dan menjaga agar pengalaman keagamaannya tetap menyenangkan dan indah seperti sekarang. Namun, saya sadar betapa sulitnya hal itu. Saya bisa mengingat masa ketika saya masih seusianya. Masa itu merupakan masa-masa yang penuh dengan kepolosan dan kemudahan untuk menerima apa saja. Masa yang menyenangkan. Namun, saya juga ingat ketika, menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tentang agama itu menjadi semakin membingungkan.

Saya takut kalau suatu hari Zaynab akan bertanya, “Mengapa mereka membenci kita?”

Pada pertengahan Desember lalu, poster-poster iklan di kereta bawah tanah memperlihatkan gambar menara kembar World Trade Center yang meledak pada 11 September dengan sebuah kutipan dari Quran yang diambil di luar konteksnya: “Segera Kami akan menebar teror ke hati orang-orang kafir.”

Iklain-iklan ini masuk ke berita utama media dan akhirnya merambah ke ruang publik —ruang-ruang yang dengan mudah dijumpai oleh anak-anak kita.

Retorika ini membuat dunia jauh lebih ruwet bagi anak-anak Muslim Amerika seperti Zaynab dibandingkan dunia di mana kita tumbuh besar pada masa lalu. Namun, dalam mengajarkannya tentang agama, titik awal saya sama dengan yang digunakan orangtua saya kepada saya, dan yang digunakan oleh para orangtua religius di mana pun kepada anak-anak mereka: keyakinan yang mendalam bahwa Tuhan itu hadir—sepanjang waktu, di sekitar kita.

Sebagai remaja, pelajaran mendasar ini membantu saya menghindari berbagai godaan yang telah mengalahkan banyak teman saya. Dan pada masa awal pasca kejadian 11 September, keyakinan akan keberadaan Tuhan ini membantu saya melewati masa sulit ini. Saya tahu ajaran-ajaran Islam telah dibelokkan oleh para teroris yang ingin menggunakannya untuk meraih tujuan politik mereka sendiri.

Kemahahadiran Tuhan juga menjadi alasan mengapa saya terus merasa aman dan percaya diri, sekalipun ketika orang-orang asing melirik saya penuh curiga, lantaran jilbab yang saya kenakan.

Saya ingin putri saya memiliki keyakinan yang sama

Selaku orangtua Muslim Amerika, saya harus melakoni perjuangan yang berbeda dari yang orang lain lakukan, pasca 11 September. Namun, seperti halnya orangtua dari agama lain, saya ingin putri saya merasa nyaman dan aman dengan agamanya, tempatnya untuk berlindung dari kekalutan.

Ini bukanlah jalan yang saya telusuri sendirian. Saya sudah belajar dari teman-teman dan rekan-rekan saya dari agama lain bahwa kita sama-sama melakoni perjuangan untuk membesarkan anak-anak dalam bingkai agama. Masing-masing dari kita menghadapi tantangan sendiri, namun dengan saling berbagi, dan saling belajar dari yang lain, kita semua akan terbantu untuk menciptakan tempat aman bagi berlindungnya anak-anak kita.

Asma T. Uddin adalah Pemimpin Redaksi AltMuslimah.com.

 Artikel ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan untuk dipublikasikan juga HMINEWS.Com.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment