HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Muslim Latin Merajut Identitas Baru di Amerika

December 18
22:01 2012

Erika L. Sánchez

HMINEWS.Com – Washington DC. Marta Khadija, warga keturunan Meksiko yang menjadi presiden LALMA, La Asociación Latino Musulmana de América (Perhimpunan Muslim Latin di Amerika), masuk Islam pada 1983. Waktu itu ia tak bahagia dengan kehidupan kerohaniannya dan ketika ia hijrah ke Amerika Serikat, teman-teman Muslimnya memberinya buku-buku Islam dan ia pun sempat mengunjungi sebuah masjid. Pengalaman ini, yang sangat menyentuh dan berbekas baginya, memberinya kedamaian.

Seorang warga Latin di Amerika lainnya, yang juga penulis, inovator dan Muslim pribumi, Mark Gonzales, banyak bergelut dengan isu identitas. Gonzales, yang seorang keturunan Meksiko dan Prancis-Kanada, dan dibesarkan sebagai orang Katolik, mulai mempelajari Islam setelah mengamalkan ajaran Kristen secara mendalam. Ia mengatakan, “Dalam proses itu, saya menyadari kalau saya tidak suka dengan ide tentang seorang penjaga pintu gembala.” Pada saat itu ia juga bekerja di bidang keadilan restoratif dengan para keluarga yang dideportasi setelah peristiwa 11 September. Ia mulai menjalin hubungan dengan orang-orang yang mengamalkan Islam dan kemudian pindah agama.

Amerika selalu dikenal lantaran keragamannya, dan dipandang sebagai negara yang terdiri atas berbagai kaum minoritas yang saling berjalin kelindan setiap saat.

Akibatnya, meningkatnya jumlah Muslim Latin di Amerika Serikat tak terhindarkan. Menurut Reuters, 2,6 juta orang mengamalkan Islam, salah satu agama yang paling cepat berkembang di Amerika Serikat, dan orang Hispanik, yang juga tumbuh pesat, kini mencapai 17 persen dari total penduduk AS. Tentu kedua populasi ini akhirnya mulai berjalin, dan apa yang mungkin tadinya terasa seperti hubungan yang tak biasa, sekarang menjadi tampak alamiah.

Ketika ditanya tentang reaksi keluarganya atas kepindahannya ke Islam, Khadija mengatakan, “Ibu saya tadinya mengira saya bergabung dengan semacam aliran sekte.” Namun, ia segera setuju setelah bicara ke pendetanya yang meyakinkannya bahwa putrinya di jalan yang benar.

Khadija mengatakan ia secara umum tidak merasa terhakimi oleh orang-orang Latin lainnya dan bahwa ia bisa hidup dengan kedua identitas tanpa kendala. Ia menduga bahwa sebagiannya adalah karena ia masih terhubung dengan akar Meksikonya dan tidak menutup rambutnya. “Saya menjaga budaya saya,” katanya. “Saya tidak mengenakan busana dari Timur Tengah.” Organisasinya, LALMA, juga membina hubungan baik dengan Gereja Katolik di Los Angeles.

Pengalaman Gonzales juga serupa. “Kerja-kerja saya utamanya adalah seputar membentuk kembali pikiran orang mengenai identitas,” katanya. Dan selaku penyair dan sarjana, ia berkeliling dunia untuk menyebarkan pesannya. Ketika ditanya tentang bagaimana rasanya mengemban identitas selaku Muslim Latin, ia mengatakan bahwa identitas hanya menjadi masalah ketika tradisi dan spiritualitasnya tidak sesuai dengan harapan orang-orang.

Tidak ada statistik yang pasti tentang jumlah orang Muslim Latin di Amerika Serikat, namun beberapa perkiraan berkisar antara seratus ribu hingga dua ratus ribu, tergantung organisasinya. Pengacara dan ustaz, Wilfredo Amr Ruiz mengatakan bahwa organisasinya, American Muslim Association of North America, telah ‘direpotkan’ oleh lonjakan besar permintaan Qur’an dalam bahasa Spanyol dalam 10 tahun terakhir. Mereka juga menerima ratusan permintaan buku-buku Islam dari penjara setiap pekannya, yang menunjukkan bahwa sebagian yang masuk Islam adalah penghuni penjara.

Orang Latin, yang tidak homogen, menemukan Islam dalam berbagai cara. Sebagian masuk Islam karena jalinan cinta. Yang lain ingin tersambung kembali dengan agama atau tertarik untuk mengkaji secara akademis. Bagi Wilfredo Amr Ruiz, keingintahuanlah yang mengantarnya ke Islam. Ia dulu merasa ingin tersambung kembali ke agama ketika melihat sebuah pusat kajian Islam didirikan di San Juan, Porto Riko dan memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut.

Ruiz mengatakan bahwa sebagian orang Latin awalnya menolak Islam karena citra kurang sedap yang terbentuk oleh media, namun sebagian mendapati bahwa mereka memiliki banyak nilai moral yang sama seperti umat Muslim. Ia juga menunjukkan bahwa sebagian orang Latin yang memiliki kaitan dengan Spanyol tertarik pada agama ini karena sejarah panjang Islam di Spanyol.

Orang-orang Muslim Latin seperti Gonzales, Ruiz dan Khadija tengah menciptakan sebuah identitas Amerika yang unik. “Islam adalah sebuah agama yang, pada intinya, harus relevan secara kultural dengan orang-orang yang mengamalkannya,” kata Gonzalez. “Orang-orang Latin tengah membentuk suatu Islam yang secara kultural relevan.” Selaku orang Amerika, kita perlu memberi ruang dalam pikiran kita bagi komunitas-komunitas baru ini.

*Erika L. Sánchez

Seorang penyair dan penulis lepas di Chicago. Ia sekarang menjadi kolumnis rubrik konsultasi cinta dan seks untuk Cosmopolitan for Latinas dan kontributor Huffington Post, NBC Latino, dan lainnya.

Artikel ini ditulis untuk Common Ground

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment