HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

2011 di dunia Arab: Perubahan yang bisa kita percaya

December 31
00:01 2011

Oleh: Pangeran Yordania El Hassan bin Talal

Amman, Yordania – Kita tengah menyongsong akhir dari suatu tahun yang sarat makna—di tingkat regional maupun global. Berbagai “kebangkitan” telah mengubah konteks strategis, sosial dan politik dari sebuah kawasan yang saya sebut “Asia Barat Afrika Utara” (yang umum dikenal dengan istilah Timur Tengah dan Afrika Utara).

Di tingkat global, tekanan masa sulit ekonomi dunia – yang tidak hanya terbatas di negara-negara Barat – telah menampakkan suatu zaman yang sangat mengglobal di mana kesempatan, kesetaraan, keadilan dan mobilitas sosial tampak telah banyak terkorbankan dalam tingkat yang sudah tidak lagi bisa diterima. Defisit dalam bajet nasional di seluruh dunia telah menciptakan dan mengembangbiakkan defisit kepercayaan, serta defisit martabat manusia di Barat maupun Asia Barat Afrika Utara. Realitas ini telah mengakibatkan munculnya gerakan “Duduki” (Occupy) di London dan Amerika Serikat, dan gerakan “Murka” (Indignant) di Spanyol, yang sama-sama dipengaruhi oleh, dan memiliki kemiripan tujuan dengan Kebangkitan Arab.

Apa yang tengah kita saksikan adalah munculnya retorika global baru di kawasan Asia Barat Afrika Utara. Retorika ini pada dasarnya memandang bahwa para manusia itu “terlalu besar untuk gagal”. Namun, pada 2012, itu akan perlu semakin diartikulasikan: tidak ada demonstrasi entah di Lapangan Tahrir di Kairo, di Wall Street di New York City, ataupun di tempat lain, yang telah dirancang secara intelektual ataupun politik. Konsep keamanan manusia malah telah dibuktikan kebenarannya oleh berbagai kejadian di lapangan: rakyat yang kritis, yang sebelumnya menjadi mayoritas yang dibungkam, telah muncul ke permukaan.

Tetapi mencicit di Twitter – yang erat dikaitkan dengan berbagai aksi protes belakangan ini – bukanlah gantinya pemikiran, dan belas kasih bukanlah gantinya kedisiplinan.

Kita telah menjadi sebuah kawasan sejuta aksen; taktik “pecah-belah lalu kuasai” telah membuat kita tidak mampu tampil dengan satu suara. Karena ini, orang lain dari luar kawasan sangat sering bicara untuk kita.

Kini saatnya membangun narasi baru – dan rasa persatuan yang lebih kuat. Setahun yang lalu, pada 1 Januari 2011, 21 orang terbunuh dalam suatu serangan ke sebuah gereja Koptik di Alexandria; 25 hari kemudian orang Muslim dan Kristen bersembahyang bersebelahan di Lapangan Tahrir. Itu tidak bertahan lama – benturan sektarian telah muncul kembali di Mesir, di Bahrain dan di seluruh kawasan. Namun, ini menunjukkan bahwa friksi-friksi yang terlalu sering tampak memecah-belah kawasan, dalam kalkulasi akhirnya, jauh lebih rapuh ketimbang yang dikira.

Dunia Arab sering kali digambarkan sebagai tempat melawan segala hal, terutama kemajuan. tetapi dalam beberapa bulan terakhir, orang-orang kawasanlah, laki-laki maupun perempuan, yang telah membuka jalan untuk memerangi apa yang disebut sebagai hak-hak universal: keadilan, transparansi dan akuntabilitas, hak untuk berkarir dan berkeluarga, dan hak rakyat Palestina untuk menjadi warganegara di teritori berdaulat mereka sendiri. Masa depan Asia Barat Afrika Utara tengah ditata ulang, diperebutkan dan diperjuangkan di berbagai macam ranah. Masa depan itu tetap tidak menentu dan konturnya buram – tetapi baranya menyala.

Kawasan ini membutuhkan undang-undang hak yang melarang segala bentuk diskriminasi, tetapi juga menguraikan tanggung jawab. Kita perlu melibatkan apa yang saya sebut komunitas ‘ruang ketiga’ – yang terdiri atas organisasi warga, pemerintah dan sektor swasta – untuk melahirkan berbagai model kohesi sosial dan pelibatan sosial. Kita perlu berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan – dan menelurkan tidak saja bisnis tetapi juga manusia-manusia terdidik.

Pada 1987, saya menjadi bagian dari sebuah komisi yang menyusun suatu laporan untuk Majelis Umum PBB yang menyerukan sebuah “tata kemanusiaan internasional baru”. Laporan berjudul Winning the Human Race ini memandang bahwa pertumbuhan ekonomi dan keamanan nasional sangat tergantung pada kesejahteraan individu dan masyarakat.

Kesimpulan yang bisa dipetik selama satu tahun terakhir tampak selaras dengan temuan laporan 24 tahun lalu ini. Sedikit banyak keduanya menunjukkan bahwa “perubahan nyata yang Anda bisa percaya” tidaklah datang dari pemerintah, tentara atau lembaga-lembaga – tetapi dari individu-individu manusia.

###

* Yang Mulia Pangeran El Hassan bin Talal ialah ketua dan pendiri Arab Thought Forum danWest Asia North Africa Forum.

Artikel ini ditulis kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment