HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Restorasi Gerakan Mahasiswa Islam dalam Agenda Anti-Hegemoni

November 21
08:49 2011

Abstrak

Gerakan Islam, khususnya Gerakan Mahasiswa Islam di berbagai dunia kini tengah merumuskan sebuah resolusi baru atas permasalahan yang terjadi dalam kehidupan umat muslim saat ini. Polemik kemerdekaan Palestina, Revolusi Timur Tengah, Diskriminasi Muslim di beberapa negara minoritas Muslim seperti Thailand, kejatuhan kapitalisme global, agenda khilafah Islamiyah dan berbagai problematika lainnya membutuhkan suatu pemikiran orisinil dari gerakan mahasiswa yang saat ini tidak lagi terkungkung dalam ruang-ruang kajian namun perlu untuk terjun kedalam permasalahan umat secara langsung. Makalah ini akan membedah sejarah pemikiran serta relevansinya terhadap strategi gerakan mahasiswa untuk melepaskan hegemoni kekuatan Barat yang desktruktif terhadap pemikiran Intelektual Muslim, khususnya Intelektual Mahasiswa Islam di Indonesia. Secara garis besar, makalah ini membahas peta pergerakan dan syarat-syarat objektif tercapainya suatu pemikiran baru dalam gerakan Mahasiswa Islam yang akan berpengaruh terhadap kebangkitan Islam di seluruh dunia. Pemikiran baru inilah yang disebut dengan Restorasi Gerakan.

Latar Belakang

Pemikiran-pemikran Barat yang telah berabad-abad mendominasi segala aspek kehidupan Intelektual Muslim membuat sejarah selalu berpihak terhadap kegemilangan penemuan-penemuan baru di Barat dan menafikan adanya kebudayaan serta peradaban yang lebih maha-agung sebelum Barat meng-hegemoni dunia saat ini. Sejak kejatuhan Turki Usmani, dan perampasan kitab para Intelektual Muslim secara besar-besaran yang terjadi saat perang Salib, seolah peradaban Islam telah hilang sama sekali. Jejak-jejak sejarah peradaban Islam hanya dilihat sebatas romantika peradaban yang ideal, tanpa menghubungkannya dengan konteks zaman ini. Sejak keruntuhan Turki Usmani, yang kemudian dimulai dengan timbulnya aliran-aliran atau pergerakan baru yang memiliki misi melepaskan diri dari penjajahan Barat baik secara materiil maupun secara pemikiran dengan melakukan berbagai perubahan telah menjadi dasar yang kuat terhadap kebangkitan Islam di era modern ini.

Munculnya Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 sebagai representasi gerakan pemikiran, serta perpolitikan Islam turut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap orientasi gerakan Islam di dalam masa pelepasan diri total terhadap penjajahan Barat. Catatan perjalanan gerakan pembaharu di tengah kejatuhan peradaban umat Islam serta ditengah gempuran penjajahan, imprealisme negara Barat dan penyebaran dogma-dogma pemikiran sekuler Barat memberikan sebuah inspirasi atas harapan bangkitnya gerakan Islam yang mampu mendobrak kebuntuan, setidaknya mampu menandingi hegemoni Barat.

Pengaruh Ikhwanul Muslimin terhadap Gerakan Intelektual Islam pun dijadikan model ideal berbagai macam gerakan baru yang muncul dikalangan mahasiswa Islam, khususnya di Indonesia, bahkan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) secara tidak langsung mengambil pola pengkaderan yang hampir mirip dengan pola pengkaderan Ikhwanul Muslimin.

Sementara itu pasca Revolusi Mesir tahun 1971, Ikhwanul Muslimin mengalami masa subur dalam hal pemikiran dan tafsir berbagai kitab-kitab sufistik penting untuk dijadikan pedoman Gerakan Islam yang komprehensif. Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Sayyid Quthb, dan Hassan Hanafi menambah khazanah pemikiran Islam yang cenderung revolusioner dan berkontradiksi langsung dengan Barat. Dengan produktivitas karya pemikiran dan pola pengkaderan yang cukup dinamis inilah Ikhwanul Muslimin dapat tumbuh menjadi gerakan Nasional-Regional sumber inspirasi gerakan sejenis di berbagai negara di dunia saat ini. Walaupun Ikhwanul Muslimin hampir 50 tahun dicap sebagai organisasi terlarang di negara asalnya, namun karya pemikiran serta kejelasan arah geraknya mampu menggugah semangat aktivis Mahasiswa Islam di Indonesia untuk mendefinisikan kembali strategi dalam mencapai kebangkitan Islam.

Hal ini menarik untuk dijadikan kajian awal tentang pondasi gerakan restorasi sebuah organisasi Islam, terutama yang bergerak di bidang pengkaderan dan pemikiran, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang kini tengah dalam masa mencari arah gerakan baru.

Ada berbagai landasan penting yang digunakan penulis untuk mendefinisikan Restorasi pergerakan Mahasiswa Islam ini. Sebagai contoh, penulis menggunakan gagasan orisinal Jamalludin Al-Afghani, seorang tokoh pembaharu Islam, yang terkenal dengan gerakan Pan-Islamismenya untuk me-redefinisi Gerakan Islam ke dalam perlawanan terhadap Barat secara total.

Latar belakang inilah yang kemudian menjadikan alasan penulis dalam membuat makalah yang berjudul “Restorasi Gerakan Mahasiswa Islam dalam Agenda Anti-Hegemoni”.

Landasan Pemikiran

Dalam berbagai dinamika pergerakan sosial di dunia, gerakan Islam menempati posisi yang sangat strategis. Namun hal ini sempat menjadi titik balik yang sangat disayangkan karena perpecahan dalam internal gerakan akibat perebutan kekuatan politik yang sebenarnya tidak perlu hingga dampak dari peristiwa 11 September, dimana Gerakan-Gerakan Islam yang progresif dicap sebagai gerakan radikal terorisme. Berbagai umpatan dan kritikan pun silih berganti bertubi-tubi mengarah pada dakwah Islamiyah yang dijalankan oleh Gerakan tersebut, mulai dari Salafiah hingga Ikhwanul Muslimin di Mesir yang dianggap sebagai poros pengkaderan ekstremis-fundamentalis Islam.

Hal ini pun di Indonesia diperparah oleh sikap Mahasiswa sebagai poros pemikiran intelektual yang akhirnya memilih untuk bersikap pragmatis serta terjebak pada simbol-simbol kapitalisme Barat yang meruntuhkan semangat dakwah Islamiyah tersebut. Adapun dakwah Islamiyah yang dimaksud tidak hanya berkisar pada ibadah wajib, namun keberpihakan kepada golongan Mustad’afin yang diorientasikan dengan Siyasah atau politik Islam. Hegemoni Barat yang menguasai hampir seluruh aspek inilah yang kemudian menimbulkan suatu aras pemikiran baru dikalangan Mahasiswa, khususnya Mahasiswa Kiri dan Mahasiswa Islam. Jika mahasiswa Kiri tetap konsisten membela cara-cara Marxisme melalui aksi-aksi sporadis dan cenderung reaksioner, mahasiswa Islam kini tengah merumuskan beberapa gaya baru yang cenderung elitis dan ber-orientasi pada Internasionalisasi gerakan. Internasionalisasi gerakan inilah yang kemudian membuat gerakan mahasiswa Islam berbeda ruang strategi dan taktiknya dalam melawan hegemoni Barat yang telah mengakar ini.

Pemikiran Hassan Hanafi terhadap Fundamentalisme Islam memiliki relevansi terhadap restorasi gerakan Mahasiswa Islam saat ini. Ideologisasi yang berjalan secara sistematis dipandang sebagai solusi untuk membakar kembali api pergerakan Mahasiswa. Selain itu Hassan Hanafi juga membuat sebuah peta pergerakan dunia dari drama pelarangan Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga bangkitnya generasi baru gerakan Al-Jihad, yang pada akhirnya berhasil memimpin rezim baru setelah Revolusi Mesir setelah terbunuhnya Anwar Sadat. Gerakan massa ini di inisasi oleh ide pokok Hassan Hanafi serta Sayyid Quthb dalam mengemban Jihad secara total di dunia pemikiran serta aksiologi pemuda Islam di seluruh dunia yang harus berorientasi pada ketaatan mutlak terhadap Allah maupun niat untuk menentang segala bentuk hegemoni kapitalisme-Barat. Jika kita melihat kebangkitan  Ikhwanul Muslimin, hal ini dapat dijadikan sebagai model baru gerakan Mahasiswa Islam yang saat ini masih terjebak dalam pola kaderisasi semu tanpa memberikan bekal ataupun kesadaran untuk bergerak.

Pembahasan

Kontra Hegemoni

Antonio Gramsci menyebutkan bahwa bentuk kapitalisme yang dikutuk Marx tidak akan berakhir begitu saja, dia akan berubah bentuk menjadi ideologi yang lebih halus dan mengakar dalam masyarakat, hal inilah yang disebut sebagai Hegemoni menurut Gramsci. Lahirnya budaya post-modernisme dan budaya pop dikalangan intelektual Mahasiswa menandai era hegemoni Barat dalam kehidupan mahasiswa. Cafe-cafe lebih dinikmati sebagai tempat bersenda gurau atau sekedar membicarakan trend fashion saat ini. Padahal ruang-ruang publik seperti Cafe-lah yang melahirkan semangat pemberontakan terhadap pemerintah, seperti revolusi Perancis tahun 1789 yang di inisiasi kaum Blanquisme. Hal ini menjadi sebuah kritikan serius, dimana mahasiswa saat ini tidak memiliki kesadaran untuk bangkit melawan segala hegemoni dan berusaha menghindar dari hingar-bingar politik Negara. Sikap apatis ini yang kemudian melahirkan suatu tantangan dalam Generasi Islam saat ini.

Pierre Bourdieu mengungkapkan kaitan intelektual dengan struktur kelas menurut beberapa aliran penting dalam Gerakan Sosial, yang pertama adalah pandangan Karl Mannheim dalam buku Ideologi dan Utopia, ia berargumen bahwa intelektual merupakan lapisan sosial yang relatif tidak terikat dan tidak berkelas. Hal ini berarti seorang intelektual tidak memiliki tanggungjawab apapun terhadap kelas yang dibelanya. Berbeda dengan Mannheim, Gramsci mengkaitkan secara jelas dalam teori Intelektual Organiknya bahwa Intelektual jelas terikat oleh kelas sosial yang dimilikinya, dan penting untuk memiliki keterkaitan dengan kelas proletar sebagai kelas yang harus dibela oleh kaum intelektual. Dari berbagai kaitan inilah maka Pierre Bourdieu kemudian lebih cenderung memaknai intelektual dalam artian Gramsci.

Dalam agenda kontra-Hegemoni secara politik, posisi Intelektual yang jelas berpihak ini dapat menjadi dasar dari Gerakan Mahasiswa Islam. Agenda berikutnya adalah menemukan cara perlawanan terhadap Hegemoni kapitalisme secara politik yang paling efektif, salah satu solusinya adalah kontra-hegemoni yang melibatkan restorasi terhadap gerakan Mahasiswa Islam secara total.

Ketika Francis Fukuyama berusaha meyakinkan pembacanya dalam buku “The End of Ideology”, ia telah melewatkan suatu pembahasan penting bahwa kapitalisme sebagai ideologi tidak mati, hanya saja berubah menjadi Hegemoni dengan bayang-bayang perusahaan multinasional yang terus memasok produk-produk tidak berguna yang membuat pemuda-pemuda di negara dunia ketiga merasa terbuai dan melupakan permasalahan di negaranya. Seperti yang dikatakan Anthony Giddens dalam thesisnya, “Masa Depan Gerakan Radikal, Ekstreem Kiri dan Kanan” bahwa Ideologi tidak berakhir, namun melakukan transformasi secara perlahan dan memasuki era baru. Secara perlahan perubahan besar dalam kapitalisme yang telah memasuki arena baru merupakan bentuk kongkrit dari adanya perubahan secara evolusioner. Kapitalisme sebagai sebuah ideologi tidak lagi memaksakan dirinya masuk melalui jalan perang atau kekerasan, namun kapitalisme masuk ke ranah yang lebih halus, seperti bantuan-bantuan donor negara asing atas nama kemanusiaan dan lingkungan hidup, inflirtasi melalui LSM maupun lembaga politik Negara, serta memanfaatkan media mainstream untuk membela kepentingan pemodal asing.

Kebangkitan Pergerakan Kontra-Hegemoni di Dunia

Apakah kaum intelektual yang diwakili berbagai lapisan masyarakat khususnya mahasiswa kini tengah bosan dengan sistem Kapitalisme Global? Mungkin jawabannya bisa ditemukan dalam gerakan Occupy Wallstreet yang bermula di Amerika kemudian menyebar secara sistematis melalui media-media publik untuk melakukan aksi serupa hampir di 90 Negara dan 900 kota diseluruh dunia. Ini bukan hal yang sifatnya reaksioner, namun ada keyakinan besar bahwa gerakan ini merupakan suatu anti-tesis permanen terhadap sistem Kapitalisme yang menyandang status quo saat ini. Kerusakan-kerusakan kapitalisme seperti yang Marx ramalkan kini tengah mengalami gejolak ketidakpastian yang sangat parah, krisis demi krisis tidak lagi bisa diatasi dengan bail-out IMF atau World Bank. Perlu ada satu sistem baru yang akan menggantikan sistem Kapitalisme ini, dan inilah kesempatan bagi Gerakan Mahasiswa Islam untuk dapat mengajukan berbagai solusi-solusi alternatif sistem ekonomi baru.

Agenda-agenda kontra-hegemoni Kapitalisme global juga terjadi di beberapa negara lainnya, yang pada dasarnya adalah suatu bentuk kekecewaan yang mendalam terhadap sistem Pemerintahan yang menyokong kuat Liberalisasi disegala aspek ekonomi seperti contoh Gerakan Tolak Komersialisasi Pendidikan di Chile, Kolombia dan negara lainnya di Amerika Latin serta Inggris yang memiliki semangat Anarkisme Bakunin digabungkan dalam nuansa semangat revolusi Che Guevara untuk menuntuk diadakannya reformasi total dalam sistem pendidikan mereka yang dinilai sarat dengan komersialisasi.

Agenda Restorasi Gerakan

Gerakan Mahasiswa kini harus dituntut untuk mampu berdiri menyelesaikan permasalahan yang bukan saja seputar permasalahan di level nasional saja, namun jauh melampaui batas-batas geografis suatu negara. Pan Islamisme telah mengajarkan kita bahwa umat Muslim memiliki suatu kekuatan yang sangat besar dalam memukul mundur kekuatan Barat apabila mereka bersatu. Kesatuan inilah yang dapat diciptakan melalui strategi Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu, dimana Gerakan Mahasiswa Islam yang ada di Indonesia menciptakan suatu ikatan-ikatan baru dengan Gerakan Mahasiswa Islam yang ada di seluruh penjuru dunia. Penggabungan dua metodologi dasar antara Pan-Islamisme dengan Intelektual Kolektif ini niscaya menjadi panduan Gerakan Mahasiswa Islam dimasa depan.

Ada berbagai bentuk hasil penggabungan kedua metodologi perjuangan anti-hegemoni tersebut, sebagai contoh perkumpulan demi perkumpulan Internasional menjadi ajang olah pemikiran serta diskusi yang sifatnya solutif-konstruktif. Berbeda dengan aksi-aksi reaksioner gerakan Kiri yang masih terbenam dalam romantisme gerakan post-Marxisme. Walaupun beberapa aksi mereka mendapatkan tanggapan dari pengambil kebijakan namun hasil yang dicapai kurang maksimal.

Prospek pemikiran gerakan baru atau restorasi inilah yang harus terus dikaji, karena masa depan pergerakan mahasiswa bukan lagi terletak pada epistemologi an sich, namun harus merambah pada aksiologi lapangan. Seperti yang dikatakan oleh Pierre Bourdieu bahwa Mahasiswa dan Kaum Intelektual harus memanfaatkan ruang-ruang publik yang ada untuk melawan segala bentuk hegemoni rezim penindasan, caranya dengan menyebarkan ide-ide melalui koneksi Intelektual Kolektif.

Cita-cita dari kesatuan Mahasiswa Muslim dunia dalam menghadapi hegemoni barat ini harus kembali dibangkitkan melalui forum-forum mahasiswa Islam dunia, sebagai contoh UIWS atau Union of Islamic World Student, dan PEPIAT atau Persekutuan Pelajar Islam Asia Tenggara. Dakwah-dakwah gerakan mahasiswa Islam pun haruslah mengalami transformasi ke dalam bentuk yang elegan dan efektif dalam merubah tatanan dunia. Isu-isu seputar problematika umat Muslim pun dapat diangkat dan dicari solusinya secara kolektif dalam forum-forum internasional ini. Sebuah resolusi yang hadir haruslah ide-ide orisinal dari perwakilan gerakan mahasiswa yang nantinya akan dijadikan sebagai action plan atau agenda kerja penyelesaian masalah selama periode tertentu.

Sebagai contoh adalah aksi kongkrit untuk mendukung Palestina merdeka melalui sebuah aksi berikut ini:

Penting untuk di ingat, Palestina sebagai kiblat kedua bagi umat Muslim di seluruh dunia haruslah menjadi titik balik bagi perjuangan gerakan Islam. Penguatan dan solidaritas diantara delegasi konferensi-konferensi Internasional pun belum mampu menandingi gempuran Israel di Palestina. Yang harus dilakukan oleh Gerakan Islam adalah melakukan kajian-kajian analisis dalam hal ekonomi khususnya perdagangan internasional antara negara-negara di Arab dengan Israel, kajian ke-efektifan hegemoni politik OKI dimata dunia dalam menyelesaikan permasalahan Palestina, serta mendorong terbentuknya negara Palestina merdeka dengan melakukan diplomasi dengan wakil-wakil negara yang belum mengakui Palestina di PBB. Berbagai hal tadi merupakan langkah yang sangat kongkrit dalam menunjukan kapasitas gerakan Islam, khususnya mahasiswa dalam memanfaatkan ruang-ruang atau arena Gerakan yang sudah ada.

 Kesimpulan

Pada dasarnya Gerakan Intelektual Islam memiliki satu simpul pemersatu yaitu lepasnya umat Muslim dari Hegemoni Barat yang telah merusak segala aspek kehidupan umat Muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metodologi aksi baru, dimana merujuk pada Pan-Islamisme sebagai gerakan internasional dan Intelektual Kolektif sebagai sarana menuju kekuatan anti-hegemoni.

Adanya gerakan-gerakan untuk melakukan restorasi terhadap pemerintah maupun lembaga-lembaga yang tunduk pada hegemoni Barat atau pro-kapitalisme dengan momentum serta gerakan yang berbeda di hampir seluruh penjuru dunia saat ini menunjukkan munculnya syarat-syarat objektif adanya Gerakan global yang memiliki visi anti-hegemoni. Dalam momentum ini diperlukan arahan gerak baru bagi Gerakan Mahasiswa Islam untuk menunjukkan kekuatannya di level Internasional melalui program-program pembenahan yang kemudian disebut sebagai gerakan restorasi.

Masa depan ada ditangan Gerakan Mahasiswa Islam, dan harapan akan bangkitnya Islam dikemudian hari perlu dipersiapkan dengan strategi yang sangat terencana. Restorasi merupakan sebuah syarat mutlak bagi Gerakan Islam untuk terus melakukan perlawanan. Tanpa restorasi maka yang tersisa hanyalah romantisme gerakan, sedangkan kapitalisme terus menekan lawan-lawannya untuk diam dan menerima hegemoni mereka sebagai suatu kebenaran mutlak.

Referensi

Adhinegara, Bhima Yudhistira. “Gerakan Mahasiswa Islam di Asia Tenggara”. Harian Republika, 10 November 2011.

Hanafi, Hassan. 2003. Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam. Yogyakarta: Islamika

Himpunan Mahasiswa Islam. Khittah Perjuangan.

Mutahir, Arizal. 2011. Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Rahmena, Ali. 2000. Ali Syari’ati, Biografi Politik Intelektual Revolusioner. London: I.B Tauris & Co. Ltd.

Schiff, Maurice dan L.Alan Winters. 2002. Regional Integration and Development.Washington: World Bank Publisher.

http://klipingpilihanku.blogspot.com/2007/06/pemikiran-politik-islam-jamaluddin-al.html

Penulis: BHIMA YUDHISTIRA ADHINEGARA, Sekretaris Umum HMI Komisariat Ekonomi UGM

Email: bima.mail@gmail.com

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. wibowo
    wibowo February 12, 14:13

    Datangnya pertolongan Allah itu disyaratkan adanya pertolongan kita kepada agama-Nya. Bahkan sangat penting para aktivis yang ikhlas itu mengerahkan segala kesungguhan dan daya-upayanya, bahkan untuk melipatgandakan upayanya. Hal itu dibarengi dengan kesanggupan menanggung kesulitan, apapun bentuknya. Mereka harus menghiasi diri dengan kesabaran dan keteguhan dalam kebenaran. Mereka harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw. hingga tercapai yang mereka inginkan.

    Reply to this comment

Write a Comment