HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Negara Amburadul

October 09
15:00 2011

HMINEWS – Cara rakyat memahami negara sungguh sangat sederhana. Bagi rakyat, negara adalah penguasa. Rakyat tentu saja merasakan sentuhan negara hanya ketika penguasa hadir di tengah tengah mereka. Kehadiran penguasa di tengah rakyat secara fisik seringkali hanya dalam empat wajah, yakni wajah yang mengumbar janji saat pemilu, wajah tukang perintah ketika rakyat diundang untuk rapat atau upacara formal tertentu, wajah seolah dermawan dengan membagikan uang yang dikemas dalam bentuk bantuan, dan wajah menakutkan ketika lapak dan warung-warung rakyat kecil dibongkar. Selebihnya rakyat kecil sering melihat penguasa hanya di layar kaca dengan wajah memelas sarat akan pencitraan dan wajah-wajah koruptor melalui pemberitaan korupsi yang spektrumnya makin meluas. Tentu saja hal tersebut bukan sebuah provokasi tetapi data empiris yang rakyat kebanyakan alami sehari-hari. Walhasil posisi Negara seperti itu dihadapan rakyat sangatlah negatif. Ini yang kemudian mengakibatkan meluasnya public distrust (ketidakpercayaan publik) terhadap penguasa Indonesia saat ini.

Pada empat oktober 2011 lalu dalam laporan ikhtisar hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang disampaikan pada sidang paripurna DPR ditemukan bahwa sejak tahun 2003 hingga semester I 2011 terjadi 305 dugaan kasus tindak pidana. Total kerugian negara dalam 305 kasus tersebut mencapai lebih dari Rp 33 triliun. Dengan data yang mencengangkan itu ketidakpercayaan publik saat ini tentu makin parah. Sontak saja penulis teringat tentang apa yang disebut oleh Thomas Friedman sebagai The Messy State atau negara amburadul ( The International Herald Tribune, 2000). Oleh Friedman pada tahun 2000 itu Indonesia masuk dalam katagori messy state (negara amburadul). Status messy state tersebut kini kembali melekat pada republik yang kita cintai ini.

Antara Messy States dan Failed states

Konsep Negara amburadul (the messy states) jauh lebih buruk dari Negara gagal (failed states). Secara definitif, istilah ‘Negara Gagal’ digunakan untuk menggambarkan situasi di mana fungsi-fungsi minimal negara (National Security’, ‘Internal Order’, dan ‘Public Administration’ ) tidak berjalan efektif atau, dengan kata lain, Negara tidak lagi mampu menjalankan fungsi minimalnya.  Failed State (Negara Gagal): adalah Negara yang tidak mampu lagi menjalankan fungsi minimalnya, yaitu menjamin keamanan dan stabilitas nasional, ketertiban sosial serta fungsi-fungsi menyangkut pelayanan publik. Dengan kata lain, Negara Gagal adalah Negara yang tidak mampu lagi menciptakan kondisi yang diperlukan bagi eksistensi dirinya. Di permukaan, manifestasi Negara Gagal dapat berupa krisis multidimensi di bidang ekonomi, politik, keamanan, sosial, konstitusi, legitimasi dsb. yang biasanya berpadu dengan rendahnya kohesivitas diantara elit politik (www.setneg.go.id, juni, 2011). Republik ini secara bersamaan sedang menjadi Negara gagal, namun karena indikatornya lebih parah maka status yang tepat melekat pada republik ini adalah Negara amburadul (messy states).

Indikator messy states tidak hanya lemahnya jaminana keamanan, ketertiban sosial, pelayanan publik, serta krisis multidimensi dan rendahnya kohesivitas diantara elit politik tetapi adanya indikator lebih sistemik bahwa praktik penyelenggaraan Negara berjalan secara berantakan. Konsepsi messy state sepadan dengan konsep maburadul atau berantakan. Berantakan karena negara berjalan tidak lagi berdasar pada konstitusi, antara aturan dan praktik tidak sejalan. Rakyat pada sisi yang lain juga berantakan karena tidak mengerti apa arti menjadi Indonesia. Messy states juga mengindikasikan adanya realitas penguasa yang tidak mengerti tentang negaranya. Thomas Friedman menegaskan Indonesians don’t understand Indonesia. (The International Herald Tribune, 2000)

Indonesia Saat ini Yang Ironis

Penegasan Friedman Indonesians don’t understand Indonesia tersebut pada titik analisis mendasar patut menggugah kesadaran dan pikiran siapapun kita warga bangsa ini bahwa bisa jadi benar bahwa kita sebagai Indonesia saat ini tidak mengerti tentang Indonesia. Lebih berbahaya dari itu adalah ketika elit politik Republik ini yang diberikan amanah oleh derita dan jeritan rakyat kecil tidak mengerti apa arti menjadi Indonesia. Tidak mengerti bagaimana founding fathers bangsa ini memiliki visi yang kuat tentang arti menjadi Indonesia. Menjadi Indonesia berarti melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia (daulat politik) bukan memperbanyak korban kematian rakyat, memajukan kesejahteraan umum (daulat ekonomi) bukan kesejahteraan asing dan dominasi asing atas ekonomi nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa (daulat sosial budaya) bukan kebarat-baratan dan rendah karakter, ikut menjalankan ketertiban dunia (daulat politik ) bukan membeo pada negara lain tetapi sederajat diantara bangsa-bangsa di dunia.

Indonesia yang kaya tetapi miskin. Indonesia subur untuk menanam padi tetapi impor beras yang angkanya mencengangkan, bahkan impor beras ke Vietanam dan Thailand mencapai jutaan ton (data 2011). Indonesia yang kaya akan gas bumi nyatanya 75 % dikuasai asing. Indonesia yang rechstaat (negara hukum) tetapi keadilan di republik ini sangat minimalis. Supremasi hukum tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Uang negara di korupsi dengan pola-pola korupsi yang makin variatif dan spektrumnya makin meluas, dan angkanya yang makin mencengangkan hingga mencapai 33 triliun dalam 8 tahun terakhir (BPK,2011). Indonesia saat ini menjadi begitu Ironis, indikator sebagai messy states makin terlihat. Lebih ironis lagi negeri ini seperti ada dalam ketiadaan, ia ada tetapi tidak dirasakan keberadaanya oleh rakyat jelata. Rakyat jelata bisa bertahan karena kerja kerasanya bertahan hidup bukan karena ada negara. Ada pemimpin tetapi seperti ketua sebuah gerombolan, bukan kepemimpinan bangsa yang berjalan tetapi pengorganisasian gerombolan-gerombolan. Agaknya literatur lama tentang hukum besi oligarki (The iron law oligarchi, Robert Michels, 1911) jauh lebih terlihat dibanding pemerintahan yang demokratis untuk kepentingan rakyat. Oligarki kekuasaan di Indonesia adalah Ironi lain dari negeri yang oleh Jimmy charter disebut sebagai negara terbesar ketiga demokrasi di dunia ini. Ironi demokrasi Indonesia hari ini yang menyuburkan korupsi juga adalah melengkapi indikator sebagai Messy States. Lalu pada siapa kita berharap adanya perubahan di Indonesia. Pada kaum muda yang meyakini sumpahnya sebagai harapan untuk menjadi kenyataan sebagaimana pemuda Indonesia pada Oktober 1928. Benarkah? Walalhua’lam.

Ubedilah Badrun, Pengajar Sosiologi Politik dan Ketua Laboratorium Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

3 Comments

  1. syahrul
    syahrul October 11, 11:05

    Tulisan yang menarik untuk direnungkan. Tinggal bagaimn mahasiswa dan kaum terpelajar dpt mengambil langkah tegas dgn mslh negara semrawut yg tengh dihadapi akibt kerakusan sgelintir orng di puncak piramida kekuasaan.

    Reply to this comment
  2. Syifa annisa
    Syifa annisa October 13, 14:56

    Indonesia sedang berada di atas kereta korupsi, dikendalikan oleh kerusakan moral, menempati gerbong diskriminasi & duduk manis diatas kursi suap yang makin meraja.
    Para penumpang (rakyat kecil) bersiap menuju stasiun pemberhentian terakihir…
    Negara amburadul…

    Reply to this comment
  3. rudi harianto
    rudi harianto January 13, 17:03

    Sayang keinginan saya untuk hijrah dari negeri amburadul ini ke US sejak 2005 lalu sampai sekarang belum menjadi kenyataan sehingga mau tidak mau setiap hari saya harus bertahan di tengah-tengah negara yang amburadul ini.

    Reply to this comment

Write a Comment